Sebenarnya Gotham sedikit mengingatkan saya pada situasi mencekam—semi brutal, chaotic, meringsek membawa gir dalam tas, bakar ban di jalan—yang dialami Indonesia saat ini. Saat saya menonton Joker arahan Todd Phillips, yang ada di kepala malah teriakan mahasiswa dan rakyat kecil saat aksi lalu yang membikin miris telinga.

Gotham, hampir sama keruhnya.

Mungkin lebih ideologis: Gotham sejak awal jadi kota yang palsu, selalu palsu dari tiga mahakarya Batman Nolan; sampai hampir dibakar League of Shadow, diporak-porandakan badut, sampai nyaris dirobohkan Bane.

Kepalsuan yang disorot dalam film Warner Bros ini tentu saja nantinya dihadapi si badut; dan pelan-pelan kita bisa tahu kenapa Joker bisa segila itu. Joker menyorot langsung suburban Gotham dengan tone—atau nalar cerita, atau persona, atau bahkan karakter—yang meminjam film Scorsese Taxi Driver (1976).

Taxi Driver dan Joker sama-sama tak hanya memberi efek kesadaran sosial soal palsunya hidup kita sehari-hari—Holden Cautfield akan mengaminkan ini—tapi juga efek psikologis yang gila. Premisnya adalah orang sinting, yang berubah makin sinting sesudah diberi pistol kaliber. Bisa juga dihitam-putihkan sesimpel orang yang baik berubah menjadi buruk. Breaking bad.

Joker memang belum jadi Joker pada awalnya. Keputusannya berhenti jadi orang baik—dalam tanda kutip—meletus dalam sebuah kejadian gelap di gerbong kereta bawah tanah yang berjalan ganjil dan tersendat, saat Fleck yang punya tourette syndrome—semacam  perasaan tak bisa mengontrol entah itu bersin, racauan, atau tertawa—menonton peristiwa pelecehan.

Fleck mungkin empatik, tapi rasa-rasanya agak sedikit ada beban psychotic. Dia tanpa kontrol atas diri, langsung tertawa terbahak-bahak melihat petingkah urakan itu. Namun matanya menunjukkan tangis, mimiknya gelisah.

Penderita tourette memang tak bisa mengontrol tertawanya, dalam situasi tak terduga sekalipun. Tak heran bila Fleck sering tertawa-tawa sendiri, dalam situasi paling banal sekalipun; mendasari ungkapan legendaris “why so serious” yang diucapkan Ledger, dan untuk Joker ini: “put on a happy face.”

Fleck punya latar belakang sejelas itu, dan semakin terang saat para pelaku pelecehan tadi tak terima saat ditertawakan, lantas menghajar tulang belikat Fleck yang masih berkostum dan berias badut, mencoba mematahkan kepalanya.

Tapi Fleck tentu ingat bahwa dia mengantongi pistol pemberian yang belum pernah dipakai membunuh, dan di titik itulah ia memecahkan kepala manusia untuk pertama kalinya. Tiga manusia. Rentetan timah. Mengosongkan selongsong.

Ini adalah evolusi dari manusia yang terasing, dikucilkan, diremehkan, dan dianggap penyakit sosial; kaum lemah, rentan bullying, susah makan; yang akhirnya berubah semakin sinting—tapi dengan seceria mungkin, melawan dengan caranya yang paling anarkis dan membabi buta.

“All I have are negative thoughts,” ujar Fleck pada dinas sosial yang rutin memberi obat penyakit jiwanya. Dan memang benar, segalanya memang tak pernah memihak dirinya. Delusi jadi satu-satunya sumber kebahagiaannya—dalam berbatang-batang rokok putih yang diisap Fleck tanpa kunjung dipuntung.

Ini terjadi terus-terusan dalam berbagai momen edan: sampai menjadikannya kultus, sesembahan dengan ideologi sinting sebagai panglima.

Dalam Joker, Fleck sudah memulai banyak tahapan sebelum akhirnya benar-benar memikirkan apa yang jadi dasar ideologinya—yang tampak matang di The Dark Knight. Walaupun di Joker, perannya lebih tertutupi kengerian, nihilisme, dan jiwa nyaris tercerabut dari badan.

Beda dengan Ledger yang memainkan sisi jenius-keparat-psychotic Joker, Phoenix cenderung mengambil era di mana Joker belum sepenuhnya matang dari aspek ideologi—katakanlah dalam hal ini, anarkisme. Joker Ledger selalu mengigatkan saya pada semangat Bakunin versi mentah.

Tapi Phoenix membawa peran Joker dalam bungkus kemurnian—sebelum akhirnya tumbuh jadi badut paling bengis di Gotham.

Dalam Joker, tercecer petingkah yang didasari kesintingan, kesepian, dan hasrat balas dendam belaka. Tendensi jenius mungkin terjadi saat Fleck berhadapan dengan pembawa acara talkshow kondang—diperankan Robert De Niro, yang dulunya jadi aktor utama di Taxi Driver.

Duel psikologis satu lawan satu terjadi saat keduanya berbincang. Tanpa ada kompromi sedikitpun, lantas terjadilah adegan yang bisa membuat zakarmu serasa pecah, kantung menyanmu bocor, rahangmu seperti terhantam gir yang dilempar anak STM.

Detik-detik adegan rated R ini akan terus mengendap dalam otakmu sampai beberapa sloki Smirnoff dan bergelas-gelas anggur McDonald kemudian.

Sudah bisa terbaca bahwa karakter Arthur Fleck memang berkembang sedemikian rupa, dan itulah yang membuat Joker versi Phillips amatlah menarik. Banyak momen hela-nafas saat menonton film ini. Brutal lagi sadis—jangan ajak gebetanmu nonton kalau-kalau dia masih ABG.

“I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it’s a comedy,”—kata Fleck, dan untuk alasan itulah, kita tidak bisa merasa konyol melihanya meskipun dia selalu cekikikan, menari-nari, bergoyang, atau membenturkan badanya sambil meringis.

Dan yang bisa kita lalukan sekarang hanya tertawa-tawa, haha-hihi, bergoyang, berdansa—toh hidup tak lebih dari sekadar badut martir berciprat darah dalam riasan putih yang menempel di muka.

Joker sadar dia gila. Tapi mungkin kitalah yang sebenarnya sudah dibikin gila.