DNK

Jokowi Versus Prabowo Endgame: Siapa Menang di Debat Terakhir?

Jokowi Versus Prabowo Endgame: Siapa Menang di Debat Terakhir?

Menggelar debat capres di malam minggu adalah suatu kesalahan besar KPU. Katanya fokus pada milenial, anak muda, tapi kok menayangkan debat di waktu apel. Yaelah, masak malam mingguan nonton adu visi-misi lur.

Maka dari itu, keputusan saya untuk nggak nonton debat sudah nggak bisa diganggu gugat lagi. Mumpung ada gandolan, mending saya malam mingguan sampai akhir malam.

Tapi ndilalah, teman kencan saya malah tergopoh-gopoh. Pesanan kami nggak habis karena dia keburu pulang. "Debat terakhir, aku nggak mau ngelewatin," katanya. Bangke. Akhirnya saya terpaksa mbalik juga dan ngaplo di kamar seperti jomblo.

Seperti jomblo.

Karena nggak ada hal lagi yang bisa saya lakukan, saya akhirnya nonton televisi. Pilihan channel di televisi saya memang kepalang bureknya, yang tersisa dan rada mendingan tinggal Indosiar.Ya ampun ndelok debat lak an, yoweslah gapopo.

Lazimnya debat di hari-hari sebelumnya, segalanya terasa tipikal: debat digelar di hotel, moderator di tengah, dan dua pasangan ada di sisi kanan kiri. Bedanya adalah, ini jadi debat terakhir sebelum pergelaran debat lagi lima tahun mendatang.

Tapi, nggak ada yang benar-benar menarik. Jujur saya hanya bisa ngaplo dan nggak ngerti opo karepe. Saya menyalakan televisi saat Sandi Uno ngobrol ngalor-ngidul soal sambatan ibu-ibu. Uopo se? Ibu Nurjanah iku sopo? Saya malah pertama kali denger mikirnya Ikke Nurjanah. Lapo mbak iki digowo-gowo.

Lalu semua yang dikatakan Sandi dibantah Jokowi. Saya sedikit banyak paham maksudnya meskipun agak mbelibet. Jokowi bilang entah apa soal ekonomi mikro dan makro. Kalian tahu di kepala saya langsung teringat apaan? Ending film 5cm!

“Dinda, ambil ekonomi mikro atau makro?” tanya Genta yang diperankan Fedi Nuril.

Sementara Dinda yang dimainkan Pevita Pearce, menjawab menggoda.

“Mikro,” kata Mbak Pev sambil senyum penuh sakarin. Genta yang tadi sempat ngaplo melihat terusan bunga-bunga super ketat Dinda langsung senyum-senyum sendiri. Penonton nge-freeze. Thanks Pak Jok udah membuat awakdewe mengingat adegan penuh gairah itu.

Segalanya yang terakhir biasanya memang jadi pembantaian dan penghabisan. Tapi debat kali ini nggak blas. Harusnya sih lebih mendebarkan kayak Persebaya versus Arema kemarin, tapi efek kejutnya kurang. Saya sampai bisa-bisanya mengingat Dinda lho!

Podo ae koyok debat biyen-biyen. Harusnya Jokowi lebih ngamuk-ngamuk, dong. Harusnya Prabowo nggebrak meja lagi, dong. Gimana se.

Saya kembali membayangkan debat yang rada kacau, adu bacot kemudian tawuran—seperti dalam YouTube WWE Custom di mana Jokowi bertempur entek-entekan dengan Bung Prabs. Tapi ini tak mungkin terjadi. Imajinasi saya terlalu berlebihan malam ini.

Brengsek, harusnya saya cari teman kencan lain saja yo maeng. Mengapa saya harus nonton TV kayak begini di malam minggu dan mikir yang aneh-aneh cok!

Membahas jalannya debat memang so damn bored—dan jadi tugasnya media serius seperti Tirto atau CNN. Awakdewe seng guyonan berusaha selow ae. Bahkan Mahmud Nurhadi, rekan redaksi yang semakin hari semakin keparat, sempat chat saya mengingatkan untuk menulis jalannya debat.

Selama ini, menulis debat jadi tuganya doi. Tapi di debat penghabisan ini dia beralasan, "bosen aku cuk mbahas debat terus, tak ngegame ae." Brengsek. Saya sebenarnya juga malas, tapi mau gimana lagi, udah terlanjung memelototi ini. Okelah.

Memutuskan menonton debat berarti harus membuat keputusan sulit: di debat pamungkas ini, siapakah yang juara? Siapakah yang pantas disebut pemenang? Jokowi atau Prabowo? Mudahkah ini ditentukan?

Pertanyaan ini amatlah naif karena sejatinya pemenangnya adalah rakyat Indonesia, yang akan dibuktikan dengan coblosan 17 April mendatang.

Tanpa adegan epik apapun, debat pun berakhir. Ya, cuman gitu doang, njir. Uwes. Saya nggak nonton penutupnya. Saya pikir masih lama jadi saya nggodok kopi sek, lah kok buyar dan yang debat sekarang para kroco-kroco partai. Oalah. Saya selanjutnya berpikiran akan melihat best moment debat ini di YouTube saja sambil menyesap kopi.

Tapi chat yang masuk di ponsel mendadak membuat saya langsung berjingkat. Salah seorang kawan mengirimi link film Sexy Killers produksi Watchdoc. Widiw. Malam sepertinya akan panjang. Esok harinya sepertinya saya sudah bisa menentukan sikap saat 17 April mendatang.

Antara memilih satu dari kedua insan yang membuat malam minggu saya mubazir itu, atau abstain demi terus mengkritisi..