Tuntutan untuk segera menuntaskan ulasan buku Pure Saturday: Based on True Story karya Idhar Resmadi ini memanglah berat. Saya terus menunda menuliskan utang naskah ulasan ini karena bagi saya, membahas Pure Saturday (PS) berarti saya harus kembali masuk dalam labirin lagu-lagu mereka yang tak hanya menghanyutkan, tapi juga menggetarkan kenang.

Begini, bagi saya, buku atau hal apapun tentang PS amatlah personal—dan tanpa tendensi melebih-lebihkan, agak terlalu sensitif dibicarakan. Saat membahas PS, hal yang paling dominan di pikiran saya adalah album Grey (2012), dan meskipun penampilan mereka di Surabaya tahun lalu tak sedikitpun menyanyikan repertoar album ini, saya sepenuhnya memaafkan karena Grey—dengan sedikit hiperbolik—sudah amat menyelamatkan hidup saya.

Based on True Story memang sudah lama saya incar, tapi tak pernah kesampaian karena tergolong buku lama dan langka. Tapi di Gramedia Plaza Ambarukmo Jogja beberapa waktu lalu, saya tak sengaja melihat sampul hitam buku ini dan tanpa pikir panjang langsung memangkas jatah uang untuk membeli Bakpia Pathok sebagai oleh-oleh dan langsung mencomotnya.

Ulasan buku ini sebenarya tak akan terlalu panjang; Based on True Story sudah sesuai ekspekstasi dan malah mungkin melebihinya. Fokus buku ini memanglah PS—mulai dari latihan di Gudang Coklat, nama awal sejelek Tambal Band yang terkesan parodi abis, dan perjalanan mereka menaklukkan industri.

Tapi yang menarik, Idhar memasukkan banyak sekali sejarah, pintu masuk yang jarang kita ketahui soal benih-benih awal fenomena indies di Indonesia dimana Bandung termasuk salah satu barometernya. Banyak sekali yang terdampak tren indies ini, tapi mungkin PS jadi yang paling berkesan dan mampu merepresentasikan masa di mana musik hanya bisa disebar lewat tongkrongan dan ucapan “thanks to” di sleeve tape.

Saya, jelas tak mengalami masa itu. Tahun lahir saya ’94 dan itu berarti membaca banyak petunjuk soal indies di buku ini bukanlah romantisme atau nostalgia. Hanya melulu rasa sesal: kenapa saya tak lahir lebih awal dan tumbuh besar di era itu saja?

Buku sudah tuntas saya baca: separuh di kereta ekonomi Sancaka Stasiun Tugu-Gubeng Surabaya, separuhnya lagi di malam hari di mana esok harinya adalah rapat redaksi media yang kamu baca sekarang dan saya, sambil menahan kantuk, nyerocos akan mengulas buku ini—yang akhirnya saya tunda begitu lama.

Argumen saya pada editor: ini buku penting. Penulisnya, isinya, dan—lebih dari itu—PS itu sendiri. Editor saya tentu tak tahu siapa itu PS—“indie ta iki?”—dan saya tak perlu meminta maaf padanya atas ketidaktahuannya itu.

PS pertama kali saya dengar hampir bebarengan dengan album 1+2 Rumahsakit yang syahdu-fals, kira-kira di zaman kuliah 2013. Sangat telat memang mengingat keduanya sudah tergolong band cult yang berdiri lumayan lama.

Lagu pertama PS yang benar-benar tak bisa saya cari celanya adalah “Di Bangku Taman” versi Utopia (1999). Saya mendengarkannya via mp3 bajakan 128kbps tapi Masya Alloh, busuknya minta ampun. Meski begitu, toh tak pernah jadi soal karena sejak bait pertama, saya sudah didera kagum. Ke mana saja saya selama ini sampai-sampai tidak mengetahui lagu sekeren ini?

Dalam jeda lebih dari sepuluh tahun saya baru mendengarkannya, dan saat outro mulai masuk dengan pelan, dan lagu sudah memasuki detik-detik akhir, di situlah saya menangis. Tanpa sadar.

Saya sedang berada di bus ekonomi Surabaya-Malang waktu mendengarkannya untuk pertama kali, dan mengingat siapa yang akan saya temui di Malang membuat saya menyandarkan erat-erat kepala di kaca jendela bus, mengerjap-erjap: outro yang begitu anggun sekaligus getir, indah sekaligus remang.

Saat itulah PS menempati posisi penting dalam hidup saya, dan “Di Bangku Taman” masuk dalam list lagu dengan outro terbaik versi saya—yang di dalamnya juga ada “I Am The Resurrection” dari The Stone Roses, “PDA” dari Interpol, dan “Cinta Itu” dari Silampukau.

Utopia saya dengarkan secara penuh, sepenuh-penuhnya meski tetap terkendala kebusukan sound unduhan. Saya pun mulai mencari referensi lain dan tak sengaja menemukan blog atau kalau tak salah, website Rolling Stone Indonesia dimana Hasief Ardiasyah menuliskan ulasan tentang album Time To Change, Time To Move On yang merupakan kompilasi hits-hits terbaik PS yang dinyanyikan ulang jadi lebih segar.

Informasi soal PS semakin deras bermunculan. Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2011 yang tak sengaja saya baca ulang juga menuliskan tentang preview album musik lokal yang akan rilis. Salah satunya adalah PS dengan Grey.

Tapi saya belum mendengarkan album itu. Pendengaran saya lebih dulu hanyut saat mendengarkan “Elora” dalam versi baru di Time To Change. Lagu ini membuat saya tak perlu bingung memikirkan nama anak perempuan saya kelak. Elora berarti sinar yang terang, dan itu bisa jadi pilihan nama anak dari judul lagu selain “Iris”-nya Goo Goo Dolls.

Dilanjutkan dengan “Di Bangku Taman” dalam versi yang lebih segar, jernih, dan tak kehilangan daya liris. Tapi, saat mendekati akhir, lagu ini seolah mengkhianati list outro terbaik yang pernah saya bikin. PS menghilangkan outro lagu-sakral-saat-mewek-di-bus ini tanpa merasa berdosa.

Meski begitu, Time To Change tetap menemani hari-hari sedih saya—diselingi Frengers-nya Mew dan Ghost Stories-nya Coldplay. Lagu “Pagi” konstan saya putar di minggu-minggu pertama saya putus setelah tiga tahun lebih pacaran dengan perempuan yang waktu itu kuliah di Brawijaya Malang.

“Pagi” di enam pagi adalah kewajiban sebelum gosok gigi, dan badan saya yang ringsek dihantam ciu Magetan malam harinya tak merasakan sisi optimis sedikitpun. Hanya perih tapi terus berusaha menikmati, merayakan, yang ujung-ujungnya menangis dan muntah berak kebanyakan minuman yang rasanya kayak Lysterine campur minyak tanah.

Saya juga rutin memutar “Buka,” dengan lirik yang seolah menyindir saya: “Hai kawan masihkah kita ada, di jalan yang sama, setelah sekian lama?”

Jalan opo maneh jancok, wes ambyar!

Lalu dimulailah era Grey bagi konsumsi telinga. Itu masih 2013, saya masih tahun pertama pertama kuliah di UNESA Surabaya. Grey pertama kali saya dengat tepat saat berada di balkon Gedung T4 Fakultas Bahasa dan Seni yang saat itu kotornya minta ampun, dengan pemandangan atap gedung seni rupa dan patung-patung yang membuat saya ingin segera lompat saja.

Grey menyentak sejak “Intro” yang pretensius, melonjak darah dalam “Horsemen” yang menunjukkan bahwa PS adalah band era indies terhebat karena seolah lepas dari belenggu pop manis-sendu, beralih menjadi berapi-api; semacam art-rock, prog, ah apalah itu.

Jangan lupakan kehadiran Yockie Suryoprayogo yangg mengubah peta arah PS menjadi gagah, klasik, dan berstandar tinggi.

Bagi saya, album terbaik Indonesia sejauh ini adalah Grey, dan itu tak bisa dibantah karena murni personal, karena lewat “Horsemen” dan teriakan “Hey, c’mon show your brave man, side!” saya akhirnya memutuskan bolos kuliah, menemui arek Malang yang tega-teganya membuat saya sebuntu ini, dan menyelesaikan semuanya.

Lagu asu..

Tentu kalian jelas tak sudi mendengarkan cerita sedih saya selanjutnya saat saya bertemu mata dengan areknya di McD Sarinah Malang—yang tentu tak akan saya ceritakan juga karena hanya menambah ingatan pilu.

Grey saya dengarkan sampai suntuk, berulang-ulang di bangku belakang bus Surabaya-Malang sesudah pertemuan, dan Di Bangku Taman Moment kembali terulang karena beberapa tahun setelah saya menemui areknya untuk yang terakhir, saya selalu menangis tatkala mendengar ” Lighthouse”, lanjut tersenyum iba di “Musim Berakhir”, dan kembali pecah di “Albatross” yang menit-menit-menit terakhirnya punya klimaks yang sejancok-jancoknya.

Dilanjutkan dengan “Dream A New Dream” yang membuat saya semakin buram. Untuk “Utopian Dream,” saya memang sempat merekam vokal diiringi gitar kopong anak jurusan seni musik UNESA sebagai hadiah ulang tahun arek Malang ini.

Tapi toh itu sudah kalah-sekalah-kalahnya dengan kado ultah mahal dari cowok-cowok teknik yang di mata saya waktu itu, menyebalkan sekaligus menyedihkan di waktu bersamaan.

Mungkin ulasan ini terlalu panjang. Saya juga malah lebih banyak cerita soal PS. Tapi setidaknya saya tak perlu menyimpan kisah  ini sendirian. Atas nama PS, Grey, Idhar Resmadi, dan siapapun itu, saya ucapkan banyak terima kasih sudah kembali mengingatkan saya soal nostalgia gundah gulana masa kuliah.

Sarannya hanya satu: Di buku PS, Idhar memang sudah menambah bab yang berusaha membahas alasan Si Kembar Adi-Udi memutuskan hengkang demi hijrah. Tapi sepertinya Idhar perlu menambah satu bab bahasan lagi untuk menjelaskan kenapa outro keramat “Di Bangku Taman” dihilangkan di album Time To Change.

Itu saja.