Minggu awan selalu jadi vibes yang gembira untuk melakukan apa saja. Vibes preian yang santuy setelah malam minggu yang gila, dan kita sejenak bisa selonjoran melemaskan badan, ngelamun, berusaha nggak mikir, keturon, nggak adus, dan segalanya yang kontraproduktif.

Kita telah diperas selama berhari-hari. Enam hari dalam seminggu adalah neraka dan sisanya adalah sesurga-surganya surga. Hari esok sudah Senin saja rupanya dan kita akan banting tulang kembali.

Vibes Minggu awan selalu pas untuk meluruskan tulang kembali, sebelum dihancur leburkan keadaan enam hari ke depan.

Ah, sungguh bangsat. Aku suka vibes Minggu awan. Matahari berputar-putar di angkasa dan kita bisa bangun sesiang mungkin tanpa alarm. Lalu selanjutnya menjereng Indomie atau masakan bikinan ibunda. Tanpa perlu terburu-buru mencomot, tanpa perlu mandi dan gosok gigi. Sebebasnya.

Hanya pakai kolor pun jadi. Baju yang sudah agak tengik. Rambut kuncir ekor kuda. Mata penuh belek. Santuay sesantuay-santuay-nya.

Minggu awan vibes memang paling nikmat dihabiskan di rumah, tanpa harus buru-buru mengikuti jutaan orang yang turun ke jalan demi liburan dan menghabiskan dua sampai lima jam kemudian hanya untuk kemacetan dan panorama di lokasi wisata yang tak seberapa lama.

Minggu awan vibes yang semlohai, dengan angin sepoi dan derik kicau burung tetangga, adalah tipu muslihat yang membuatmu sedikit lupa atau malah lupa sama sekali bahwa besok Senin.

Muslihat yang harus dinikmati. Grup kerjaan dan kuliah hanyalah ilusi. Enam hari kita sudah jadi orang lain, dan di Minggu awan lah kita bisa jadi diri sendiri. Lahir batin.

Aku selalu menunggu datangnya waktu seyahud ini. Kerja enam hari demi leha-leha sehari. Buru-buru hampir seminggu demi santai-santai kemudian di Minggu awan.

Kita bisa kembali membuka koleksi komik masa kecil, atau memutar musik lama yang sudah lama terlupa. Kita bisa menghirup udara kamar dalam-dalam tanpa perlu merasa memikirkan cicilan. Kita bisa merasa benar-benar hidup dalam ruang yang redup.

Mantap.

Rentang waktunya bisa jadi sebelum dhuhur sampai datangnya senja. Itu waktu yang lumayan lama. Di jam-jam yang biasanya kita diburu waktu di balik meja kaku kantor, kini bisa merasakan chill tanpa beban.

Minggu awan vibes memang terlalu indah untuk dibuat tidur siang. Boleh-boleh saja, cuman itu cukup sejam-dua jam saja. Liburan dengan molor sama saja seperti menyia-nyiakan momen.

Yang paling asoy memanglah do nothing, but tetap sadar dan berada dalam gelombang otak pure selow.

Buang-buang waktu itu harus di vibes teduh ini. Tapi bukan dengan bobok. Percayalah, Minggu awan vibes dan semangat do nothing adalah yang terbaik. Do nothing yang disambi aktivitas para pemalas, yang malas berpikir, malas lapo-lapo, malas merem, malas melek, malas buat jadi malas. Syurga!

Kamu juga bisa nongkrong, menghabiskan Minggu awan vibes yang gerah dengan teman-teman dekatmu yang membuatmu melupakan dikotomi introvert-ekstrovert. Sekadar nge-es, menghabiskan rokok, atau ngopi siang hari tanpa perlu mandi.

Celana pendek, boxer, sandal jepit, kaus apak, sempak yang belum ganti. Lepas semua atributmu. Seragam kantor, pantofel, sepatu, lupakan. Taruh ponsel, matikan kalau perlu. Slow respon di Minggu awan adalah hak segala bangsa dan dijamin undang-undang.

Sampai akhirnya, ya, Minggu awan vibes akan segera berakhir. Saatnya pamit walau berat. Saatnya istirahat karena besok sudah Senin.

Dan di jalan yang kau lewati saat ini menuju rumah, jalan yang sepi, yang rindang, besok akan kembali kau lewati, jadi jalan yang sedih, yang gundah, yang macet, yang mengantarmu jadi robot lagi.

Maka, nikmati selagi bisa! *emot senyum*