DNK

Merayakan Ultah Cak Nun Ala Jamaah Maiyah Pemula

Merayakan Ultah Cak Nun Ala Jamaah Maiyah Pemula

Selamat ultah yang ke-66 Cak Nun, dari kami, Jamaah Maiyah Cabang Nang Endi Ae Pokoke Kober Budal yang masih sering tambeng dan berpikir agak mursal, jelas melenceng dari apapun yang pernah panjenengan sampaikan. Meskipun telat sehari, tapi ucapan ini tentu saja setulusnya hati.

Kami memang belum punya topi abang—di Maiyah Padhangmbulan, topi ini dibandrol 15 ribuan sementara kami lebih memilih menghaiskan uang itu untuk pentol gede, segelas kopi pahit, dan ngecer Samsu—tapi meski begitu, kami yakin kalau Cak Nun, Cak Fuad, Mas Sabrang, Cak Suko, dan siapapun itu yang meramaikan Maiyah tak akan mengkhawatirkannya.

Kami memang sepertinya nggak terikat Cak, tapi selamanya kami akan menjadi Jamaah Maiyah. Pengajian ini sejatinya nggak cuman berhenti di Menturo Sumobito atau Balai Pemuda Surabaya saja, lebih dari itu, Maiyah mengajarkan kami untuk terus berpikir, memperdalam apa saja dalam konteks pemahaman akan Tuhan, keimanan, dan hidup bersosial.

Kami memang jamaah sak kobere, tapi upaya panjenengan yang membuat Maiyah sebagai ajang berpikir, introspeksi, dan eling marang gusti jelas sudah tertanam dan masuk dalam keseharian.

Kami, atau wabil khusus saya sebagai poser yang sukanya ikut-ikutan, awalnya memang mengenal Maiyah karena ajakan salah seorang kawan. Saya belum jadi Maiyah snob waktu itu—dan mungkin nggak akan pernah—dan masih bertanya-tanya kokcik suwine Cak Nun nggak metu-metu.

Waktu itu saya bisa dibilang beruntung bisa hadir di Maiyahan Jombang, di mana acara bertajuk Padhangmbulan itu bisa disebut awal dari segalanya, mungkin layaknya orang yang ingin menyempurnakan Islam, belum afdol kalau belum ke Makkah. Belum lengkap kalian Maiyahan kalau belum ikut ke Padhangmbulan. Inilah yang membuat saya seberuntung itu.

Terus terang Cak, saya mengenal panjenengan dari keluarga saya. Waktu itu mungkin Cak Nun lebih familiar dengan nama Emha Ainun Najib—dan lebih saya kenal sebagai budayawan yang kalem dan gagah berani, dengan rambut mirip seperti WS Rendra, atau katakanlah yang lebih rock and roll seperti Jimmy Page.

Saya tak pernah mendalami njenengan bahkan sampai Maiyah menjadi suatu fenomena baru. Hingga kemudian, YouTube-lah yang membuat saya tertarik menggali lebih jauh, khususnya di video rokok yang sempat viral itu.

Itu mungkin hiburan kelas tinggi yang nggak akan pernah saya dapatkan di Netflix, seminar yang mindblowing, diskusi pendalaman nalar, atau bahkan konser band punk rock paling begajul sekalipun.

Apakah ada yang bisa menandingi sebuah adegan di mana salah satu peserta Maiyah, dengan rodok kemeroh dan kemenyek mencoba bertanya soal rokok. Pembicaraannya kira-kira begini: “Cak Nun, rokok kan haram, kan ada tulisannya di bungkusnya, kalau merusak kesehatan bla-bla-bla..”

Ndilalah awakmu pasti ngerti kabeh panjenengan njawabe yaopo: langsung nyumet Samsu! Andai saya waktu itu menonton live—dan nggak gegoleran seperti tipikal pemirsa YouTube—mungkin saya akan standing applaus sekeras-kerasnya.

Bagaimana tidak, itulah jawaban yang sebenar-benarnya jawaban, ditambah dengan contoh langsung di tempat kejadian perkara. Panjenengan kemudian berujar: “Aku wes emoh debat perkoro rokok, rokokan karepmu, nggak yo karepmu.” Luar biasa.

Tapi poinnya adalah, panjenengan menekankan bahwa kita punya otoritas atas diri kita sendiri, punya batas, punya kemampuan. Pun juga dalam konteks rokokan. Selain itu, kita seolah disuruh menggali lebih dalam, apa itu manfaat tembakau, bagaimana perang dagang antara WHO dengan produsen rokok, baru kemudian bisa komentar.

Akan panjang dan mblenger kalau saya jelaskan, tapi punch line yang paling membekas dari panjenengan Cak Nun: kabeh lek berlebihan iku nggak apik, sego berlebihan nggak apik, gulo yo nggak apik, begitu pula rokok. Mantap!

Saya pun semakin intens menyaksikan video panjenengan cak, meskipun uakeh pol-polan nang YouTube, kadang sampek berjam-jam. Saya sebenarnya ingin usul Cak, supaya panjenengan membuat show special yang ditanyangkan di Netflix. Bisa ada beberapa season, dan di dalamnya berisi beberapa episode dengan tema khusus yang nggak terlalu ngglambyar atau melebar.

Mungkin ini ide yang terlalu pretensius nggeh cak, tapi tenanan, nggoleki video panjenengan di YouTube iki uakeh sak akeh-akehe. Saya yang kepingin belajar dan nonton sejak video pertama jadi bener-bener bingung ngawaline tekan endi.

Tapi kalau ide saya belum terpakai ya mboten nopo-nopo cak, saya jek tetep isok ndelok panjenengan nang JTV kok Cak, nang acara Menek Blimbing seng lek pas nggak posoan tayang jam 12an. Lumayan cak isok nggarai padang pikiran nang tengah-tengah buntu nggarap deadline seng nggak tau mari.

Intine Cak, aku kepingin teko maneh nang Maiyah. Nggak mek nang Padhangmbulan tok. Belajar seng bener ancene iso nggarai wong ketagihan, dan herane nggak keroso lek ketagihan. Samean ancene seje Cak ambek wong-wong seng isone mung ceramah koyok guru matematika SMA-ku mbiyen.

Cocote didesekno, nggak ngekei tauladan, nggak ngejak mikir, moro-moro aku dadi salah ngono ae, dan wonge ngamuk-ngamuk geje merasa paling hijrah—eh, ehem, merasa paling benar maksudku.

Sekali lagi, selamat milad ke-66 Cak. Aku yakin lek kabeh wong meloki Maiyah, iso dadi jalan seng apik buat kewarasan. Opo maneh Cak di tengah kondisi gaduh pasca tragedi copras-capres nggapleki wingi. Harapanku, mugo tetep iso dadi oase, dadi banyu Sprite di tengah padang pasir.

Wassalam.