Pepatah “satu gambar bisa mewakili seribu kata-kata” agaknya bisa mewakili tren stiker WhatsApp, yang makin ke sini makin begajulan. Stiker dalam chatting yang awalnya jadi kemewahan yang hanya dimiliki Line, aplikasi perpesanan yang lain, mulai menjadi-jadi pasca WhatsApp juga memberi fitur stiker.

Ini sebenarnya dimulai kira-kira sejak tahun lalu. WhatsApp menguji coba fitur stiker, mendapat respon positif, dan sampai saat ini, sudah berhasil menggeser Line—yang walaupun stikernya lebih seru, kadang bisa bergerak dan mengeluarkan suara, tapi harus ditebus dengan Line Coin yang mendapatkannya aja ribet.

WhatsApp sih memang memberi stiker yang lebih sederhana dibanding Line. Tapi toh itu semua dapat didapat cuma-cuma alias gratis. Yang nggak kalah heboh, WhatsApp juga membiarkan penggunanya bikin stiker sendiri,dapat disalin-copas pengguna lain juga. Line juga pernah membikin fitur ini, tapi kayaknya kurang booming.

Kembali lagi ke pepatah “satu gambar bisa mewakili seribu kata-kata”, stiker WhatsApp yang beredar sejauh ini memang sangat-sangat personal. Tergantung kepribadian penggunanya. Nggak kayak Line yang kayak dipaksa pakai stiker lucu-lucuan melulu, WhatsApp mah bebas. Stikernya nggak harus lucu, malahan banyak juga yang saru.

Mulai Absurd, Meme, sampai Mesum, Stiker juga Memfasilitasi Internal Jokes

Keputusan WhatsApp yang membebaskan penggunanya untuk membikin stiker sendiri (caranya bisa dicari di Google) jelas memberikan ruang bagi siapapun untuk berekspresi. Ini mungkin sama seperti fenomena stiker/gif/meme di Facebook yang seringkali muncul di kolom komentar. Bedanya, karena WhatsApp adalah aplikasi personal, keseruannya jadi berlipat ganda.

Tanpa perlu ada yang memviralkan atau sungkan-sungkanan, WhatsApp—terutama dalam grup-grup berisi sekumpulan orang yang satu kelas, satu jurusan, satu kerjaan, dan lain sebagainya—seperti membikin dunia sendiri.

Kalau ada yang nggateli dan jadi internal jokes di grup itu, misal dalam hal ini si bos bacot, dosen killer, atau teman songong yang jadi bulan-bulanan paido, anggota grup nggak segan-segan mengedit muka si public enemy tadi dengan aplikasi pembikin stiker.

Jadilah saat stiker nggapleki itu disebar, anggota grup akan menyimpannya dan membagikannya kembali saat ada hal menyebalkan yang berhubungan dengan si public enemy.Tindakan ini memang laknat, tapi harus diakui amatlah nikmat. Ha-ha!

Tentu karena semuanya adalah internal jokes, hanya di grup atau lingkar pertemanan tertentu saja stiker itu bisa berfungsi. Tak seperti di stiker di kolom komen Facebook yang sebisa mungkin harus relate dan umum, stiker WhatsApp jaun lebih intim dan personal. Tujuannya jelas untuk lucu-lucuan semata, humor ironis yang hanya dipahami orang yang mengerti.

Nah, kebebasan ini sampai pula pada taraf ekstrem. Saking ekstremnya, di grup pertemanan saya misalnya, yang muncul kebanyakan sudah bukan lagi stiker muka saya yang lagi melongo misalnya, tapi diambil langsung dari situs bokep kesayangan, screenshot, lalu diberi tambahan kata-kata.

Hasilnya adalah stiker full mesum, yang bergambar entah itu PNS berkerudung sedang asyik melakukan oral seks sambil mengacungkan jempol (dengan penis dan jembut yang juga nampak), atau seseorang laki-laki dengan perabotan segede gaban mengacungkan jari tengah, ataukah Shasa Grey yang sedang mengerang. Banyak lagi stiker macam begini dan saya yakin tak akan ada habisnya.

Ada pula stiker-stiker absurd yang saking gobloknya sampai-sampai harus disimpan. Stiker yang punya pola humor ngawur satir seperti meme, cuman lebih personal dan dark. Beberapa memparodikan aktivitas yang kita lakukan saat berada di WhatsApp. Seperti nyimak, nge-read, atau sedang mengetik, cuman dalam bumbu dan versi yang konyol mampus.

Jeniusnya, stiker ini banyak mengutip fenomena sosial telek yang sedang ramai terjadi. Bayangkan, apa fungsi stiker bergambar Atta Halilintar, Saai Halilintar, Budi Si Trader, Uya Kuya, Barbie Kumalasari, kalau bukan untuk mengece semata.

Adu Stiker, Pamer Ketololan, hingga Kebanggaan Absurd

Nah, karena sifatnya yang personal, ngehek pol-polan, cenderung begajul, anti viral, dan memfasilitasi pikiran paling mesum dan kotor sekalipun, biasanya dalam chatting atau grup seringkali ada adu stiker. Ini membuat persebaran stiker amatlah masif.

Saya yang tergabung dalam grup-grup sampah berisi teman-teman yang juga sampah, biasanya memang punya stok stiker stiker bejibun hasil kiriman ngawur dari teman-teman. Biasanya di grup yang rada serius seperti grup kantor atau keluarga, saya seringkali mengirimkan stiker ini biar mencairkan suasana.

Namun ada juga beberapa teman saya yang doyan abis mengumpulkan stiker. Menurutnya, tempat kerjanya amatlah kaku, jadi dia kudu stok stiker, mulai yang mesum gila-gilaan sampai yang alamak keparat. Ini biar dia bisa di-notice sama orang-orang kantor sebagai orang humoris dan begejekan.

Banyaknya stiker ngawur yang disimpan juga menunjukkan seberapa luas lingkungan pergaulan—dan tentu saja, seberapa bajingan teman-temanmu. Kadang stiker sudah seperti kartu Tazos hadia Chiki puluhan tahun lalu. Ada yang amat langka dan begitu ngawur, yang kalau disebarkan bisa bikin bangga.

Tapi tentu saja, meskipun punya banyak ketololan, stiker WhatsApp bisa memberi sedikit tawa dan bahagia. Ya paling tidak tatkala kerjaan lagi kayak taik kebo kering , dan chatting pakai kata-kata sudah sedemikan basa-basinya.

Ya udah, stikerin aja!