DNK

Pasca Klaim Kemenangan, Situasi Sosmed Dadakno Kian Mencekam

Pasca Klaim Kemenangan, Situasi Sosmed Dadakno Kian Mencekam

Jadi begini, saya sedang kehabisan bahan untuk menulis apapun itu yang berhubungan dengan copras-capres. Saya pikir semuanya bakalan udah kelar pasca 17 April, dimana rakyat udah nyoblos, pemimpin terpilih, parlemen terisi, dan Indonesia balik damai lagi.

Tapi ternyata saya salah karena tepat di malam hari pasca coblosan, Bung Prabowo dengan berapi-api langsung mengklaim kemenangan dan diikuti tepuk tangan bangga para pengikutnya di Kertanegara. Jokowi nggak ketinggalan, langsung merayakan kemenangan di Jakarta Theater atau apalah itu.

Semua ini sejatinya dipicu satu hal: quick count.

Dan saya sekali lagi harus geleng-geleng kepala karena dadakno bukan kedamaian yang terjadi, malah huru-hara yang makin bajingan—bahkan lebih dari masa kampanye. Di televisi saya hanya bisa melihat adu perang para penggede kedua kubu, yang saling memertahankan kemenangannya masing-masing.

Jokowi percaya dengan sangat pada hasil quick count dari beberapa lembaga kredibel yang memenangkannya sekitar 55 koma berapa sekian persen—jauh dari Prabowo yang hanya sekitar 45 persen atau berapalah.

Sementara Bung Prabowo secara mengejutkan juga melakukan ‘real count’ versi internal, di mana hasilnya memenangkan dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia 2019 – 2024. Prabowo berucap: “saya SUDAH dan AKAN menjadi Presiden kalian semua!”

Kebetulan saya sempat berkunjung ke rumah salah satu nenek saya yang sudah sepuh. Pertanyaan pertama yang beliau ajukan membuat saya shock karena tumben-tumbenan nggak takon kapan rabi, ta endi pacarmu, tapi: “seng menang iki sakjane Jokowi opo Prabowo?”

Luar biasa, fellas. Ente-ente semua telah membuat nenek saya bingung sampai-sampai mengalihkan perhatiannya pada dinamika percintaan cucunya. Luar biasa, pilpres mari dadakno nggak bikin awakdewe lebih santai, malah tambah ruwet!

Sebenarnya sih kita bisa membedah hal ini dengan akal sehat-sesehat-sehatnya. Di mana nggak hanya Rocky Grunge yang bisa bacot soal ini dan seolah paling pintar sendiri sejagad raya, tapi awakdewe sebagai rakyat jelata pun iso.

Semuanya sekali lagi dipicu quick count yang seragam, sama-sama memenangkan pasangan Jokowi – Ma’ruf sebagai dwi tunggal yang akan memimpin awakdewe lima tahun ke depan. Keputusan MK yang melarang quick count ditayangkan sebelum pukul tiga sore ternyata nggak berpengaruh banyak karena ya ternyata, podo ae gegeran.

Tapi secara nalar, quick count kalau dilakukan secara jujur dengan metodologi ilmiah dan nggak mengkhianati ilmu pengetahuan, bisa jadi upaya untuk mengimbangi hasil resmi KPU 22 Mei nanti. Karena toh, quick count yang baik nggak akan meleset jauh dari hasil resmi.

Ini sudah diamini ilmu pengetahuan, sudah dipakai di banyak negara, dan sudah terbukti di banyak coblosan—contohnya saat Pilpres 2014 atau Pilkada DKI Jakarta yang memenangkan Anies Baswedan. Terus apalagi yang perlu dipermasalahkan?

Kalau ilmu pengetahuan dan metode ilmiah nggak dipercaya, terus mau mengandalkan apalagi?

Yoi bener, klaim kalau ilmu dan metode itu sudah dimanipulasi salah satu paslon, menjadikannya menang dan membuat rakyat tertipu. Inilah dasar alasan yang dipakai kubu Prabowo menolak hasil quick count, dan sangat percaya—benar-benar seakan berserah pada hasil real count internalnya.

Jadi, hanya ada dua cara yang bisa kita lakukan saat ini.

Pertama, menunggu hasil resmi KPU sementara awakdewe semakin diaduk-aduk ketidakjelasan. Kedua, menutut kedua kubu dan semua lembaga quick count bertemu, tukar metode, saling bantai argumen, untuk selanjutnya rakyat bakalan tahu mana yang benar mana yang abal-abal, dan mereka akan sadar kembali, damai maneh.

Saya sih nggak memihak kubu manapun dalam konteks ini, hanya saja, wes talah cok. Mosok di Twitter saya sampai kudu nge-mute beberapa akun konco-koncoku dewe karena mereka dadakno lebih brutal pasca pilpres dibanding pas masa kampanye cebong-kampet.

Mosok saya kudu streamingan IndoXXI terus karena YouTube pun penuh ambek hal-hal yang ngerameni dan membuat deg-degan. Mosok saya kudu nonton dangdutan di Indosiar atau sinetron seyeng di SCTV terus karena acara televisi berita pada gelut pilpres semua? Mosok kudu sampai 22 Mei ngene terus, padahal kurang dari dua minggu lagi, sudah bulan puasa.

Saya sih sebenarnya sudah bikin rencana artikel berjudul: “Alhamdulillah Akhirnya Pilpres Kelar, Indonesia Mbalik Normal Maneh!”

Dadakno saya sekarang malah bikin 600 kata soal ratapan uneg-uneg pasca pilpres, hanya karena dipicu para politisi yang nggak dewasa. Healah njeng..