Saya bukan peneliti. Saya tekankan sekali lagi, saya tak pernah meriset secara rinci peristiwa G30S seperti yang dilakukan Wijaya Herlambang, Hermawan Sulistyo, atau Joshua Openheimer. Saya hanya kebetulan pernah membaca penelitiannya, menonton karya mereka, membandingkannya—untuk kemudian menemukan satu fakta bahwa G30S adalah peristiwa paling gelap dalam sejarah bangsa.

Versi dari peneliti yang kebetulan saya baca memang jauh berbeda dari versi resmi pemerintah. Versi ini digarap TNI AD dan diklaim sebagai satu-satunya versi yang mendekati kebenaran. Ditambah lagi dengan propaganda berupa buku, sastra, dan film—yang seolah-olah menunjukkan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah dalang dari semuanya.

Padahal di samping itu, ada empat versi lain tentang peristiwa ini. Kesimpulan Mary Zurbuchen, seperti dikutip dalam Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang, menyatakan bahwa ada kemungkinan lain yang juga layak diperdebatkan dan dikaji lebih dalam.

Pertama, pembunuhan terhadap para jenderal dipercaya seluruhnya dan dilakukan oleh PKI dan simpatisannya. Kedua, percobaan kup adalah hasil pertarungan internal angkatan bersenjata. Ketiga, Jenderal Soeharto adalah pelaku sebenarnya. Keempat, Presiden Soekarno memberi izin atau menganjurkan para perwira terkucil untuk bertindak melawan kolega mereka sendiri—yang disebut “Dewan Jenderal” rahasia. Kelima, adanya peranan intelejen asing.

Dikutip dari Historia, versi PKI adalah klaim sahih Orde Baru atas peristwa G30S. Literatur pertamanya dibuat sejarawan Nugroho Notosusanto dan Ismael Saleh, bertajuk Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia (1968). Buku ini juga jadi acuan pembuatan film Pengkhianatan G30S/PKI yang dibuat Arifin C. Noer.

Versi inilah yang paling banyak beredar dan bahkan, film Pengkhianatan G30S/PKI sempat diwajibkan diputar di sekolah-sekolah. Saat saya menuliskan artikel ini, rekan sesama redaksi yang kebetulan bertugas di bagian design/ilustrator, menolak halus membuat ilustrasi tentang G30S. Alasannya sederhana:

“Aku wedi, trauma, ket mbiyen ket cilik ndelok film iku,” ujarnya. Sebegitu membekaskah film ini sampai menimbulkan trauma mendalam bagi rekan saya? Akhirnya, saya memutuskan memakai ilustrasi simbolik untuk artikel ini.

Lewat karya, segala sesuatunya memang lebih mudah diterima. Entah benar terjadi atau hanyalah propaganda, yang pasti film G30S harus disikapi dengan kritis—demi bisa meredupkan segala trauma. Segala klaim Orde Baru tentang perisitwa ini, jelas bukan narasi tunggal.

Ada beberapa narasi tandingan yang juga bisa kamu baca sebagai perbandingan. Novel September (2006) karya Noorca M. Massardi adalah salah satunya. Noorca mengklaim September murni fiksi. Tapi kalau dibedah lebih jauh, ini adalah narasi tandingan—yang memutarbalikkan klaim pemerintah.

Menurut Wijaya Herlambang, argumen utama cerita ini adalah bahwa peristiwa percobaan kup atau G30S merupakan akibat dari konflik di kalangan para pemimpin militer. Herlambang menyatakan:

“Dengan pemerian intrik politik yang kompleks, cerita ini jelas menunjuk pada tokoh bernama Jenderal Theo Rosa (anagram untuk Soeharto) sebagai dalang di belakang: pertama, Gerakan 10 September di mana tujuh perwira militer dibunuh; kedua, percobaan kup sistematis terhadap Presiden, dan ketiga, pembantaian massal terhadap komunis.”

Hal menarik lain dalam novel ini adalah, Noorca mengimplikasikan bahwa tidak pernah ada upaya infiltrasi dari Partai Kiri (PKI), namun yang terjadi hanyalah friksi internal dalam kepemimpinan militer sendiri. Karena itu, Partai Kiri sangat jarang disebutkan dalam konteks operasi militer.

Inilah yang membedakan secara September dengan film G30S/PKI. Menurut Wijaya, novel September ini merupakan “narasi tandingan yang paling radikal terhadap narasi utama Orde Baru yang digunakan untuk mendelegitimasi pembantaian massal 1965-1966.”

Jadi daripada kalian terus membingungkan peristiwa G30S setiap 30 September, cara paling sederhana untuk mengatasinya bisa dengan membaca, berpikir, dan mulai memperdebatkannya dalam kepala masing-masing.