Prabowo Subianto, rival berat Joko Widodo di dua kali pertempuran pilpres—satunya luar biasa chaos, satunya lagi benar-benar mengacaukan akal sehat—agaknya menempuh jalan di luar dugaan para pendukungnya.

Bahkan bagi sebagian besar orang di grup WhatsApp keluarga yang masih kebelah gara-gara Pilpres, ini kayak mimpi basah berlapis-lapis di siang bolong.

Kemarin (21/10), Ketum Partai Gerindra ini mendatangi Istana Kepresidenan Jakarta, dengan memakai pakaian putih-hitam. Kebiasaan Prabowo yang doyan memakai kostum empat kantong ditinggalkan—wong Doraemon saja kantongnya cuman satu.

Seperti seorang ksatria yang menanggalkan baju zirahnya di film-film matador, Prabowo resmi menggantung pedangnya di istana, memulai jalan baru bersama banteng yang dulu dilawannya: jalan kompromi. Ceileh banteng..

Nah, kedatangannya ini bukannya tanpa maksud. Prabowo mengaku ditawari Jokowi buat menduduki salah satu pos menteri di Kabinet Kerja Jilid 2 di bidang pertahanan. Prabowo, dengan mimik meyakinkan, berjanji akan bekerja keras, memenuhi harapan yang diamanatkan kepadanya.

Mantap sekali juragan!

Terus gimana nasib tonggo-tonggoe awakdewe seng eker-ekeran, anggota keluarga seng nggak saling sopo, dan awakdewe seng nekat metu nang grup keluarga gara-gara kesumpekan pilpres?  Yaopo nasibe Panjul, Supa’at, Heri Sukarmanto, dan konco kentele awakdewe seng wes nggak digembuli gara-gara resek pas pilpres?

Ya itu urusanmu. Ha-ha. Tapi dilansir Kompas, keputusan Prabowo menerima tawaran Jokowi sebenarnya amatlah wajar. Aditya Perdana, pengamat politik menilai, secara alamiah fungsi partai politik memang harus menjadi bagian dari kekuasaan. Jadi nggak melulu berseberangan.

Kata Adit, hitung-hitunganya sih Prabowo sudah tiga kali kalah dalam kontestasi Pilpres. Nah, mau nggak mau, doi harus mempertimbangkan soal tawaran Pak Jok, dong.

Eksistensi Gerindra di panggung politik nasional memanglah rentan. Nah, menurut Adit, masih dilansir Kompas, menjadi bagian dari pemerintah dipandang jadi salah satu cara yang harus diambil untuk mempertahankan keberadaannya Gerindra di panggung politik nasional. Apalagi, untuk Pemilu dan Pilpres 2024.

Prabowo dan Gerindra juga butuh survive, bertahan di tengah gempuran. Karena itulah diperlukan banyak sumber daya. Bukan lagi soal uang atau orang, kata Adit, ini juga soal popularitas dan elektabilitas dari partai untuk dilirik.

Nah, jadi gimana, ente-ente sek tetep bolo Panjul, Supa’at, dan Heri Sukarmanto kan? Prabowo ae wes kompromi, lho, gelat-gelut wes nggak relevan blas dong!

Karena itu, segera masuk kembali ke grup WhatsApp keluargamu, mulai ramah-tamah lagi, cintai mereka seperti mereka menggendongmu waktu kecil, putarlah lagu-lagu persatuan dari Superman Is Dead, dan tertawalah yang kencang!

Berhala copras-capres sudah runtuh. Mari berangkulan kembali, bersama menjadi rakyat, menjadi oposan lima tahun ke depan! Pemerintahan baru, kebijakan baru, jangan goyah, tetap kritis, jangan lengah!