Ada banyak hal di dunia ini yang tak akan cepat kamu mengerti. Kenapa Prabowo bisa jadi menteri di Kabinet Jokowi, kenapa Uya Kuya membikin kanal YouTube, sampai kenapa BLACKPINK bisa hampir menyamai raihan Taylor Swift dengan video musik yang tayang lebih dari satu miliar penonton.

Pertanyaan terakhir tampaknya sedang booming di awal pekan ini. Bagi jamaah K-Pop, pastilah tidak akan kaget dengan raihan BLACKPINK ini. Musik keren, personil kece. Apalagi? Tapi bagi saya—dan mungkin kamu yang nggak mudeng blas sama K-Pop? Hmmm. Apa-apaan nih?

Kemarin sore (11/11) agensi YG Entertainment menyatakan bahwa video musik “DDU-DU DDU-DU” berhasil melebihi satu miliar penonton. Sebagai orang yang nggak relate blas sama musik Korea, awalnya saya berusaha tidak peduli.

Ehm, tapi kalau dipikir-pikir, prestasi satu miliar juta viewer YouTube ini nggak bisa begitu saja diabaikan.

Walaupun harusnya sih kita nggak kaget-kaget amat. Catatan rekor untuk bintang K-Pop keseluruhan masih dipegang PSY dengan Gangnam Style. Video yang viral 2012 lalu ini sudah ditonton lebih dari 3,4 miliar kali. Tapi itu mungkin karena tren goyangan atau flash mob Gangnam Style yang sempat viral.

Tapi, faktor apa yang membuat DDU-DU DDU-DU (terus terang saya amat malas menuliskan judulnya yang mboh) bisa menjabat capaian yang hampir sama seperti Psy? Viral, sensasi, ataukah kualitas? Psy bisa saja kita remehkan (apa lagi memang lagunya yang terkenal selain Gangnam Style?).  Tapi BLACKPINK, tunggu dulu…

Perkara viewer, Taylor Swift dengan video klip Look What Do You Do For Me sudah menembus 1,1 miliar, sementara BLACKPINK masih di angka satu miliar—and maybe still counting. Tapi saat BLACKPINK dengan—copy, paste—-DDU-DU DDU-DU-nya muncul 2018 lalu, rekor viewer-nya membalap habis Taylor Swift, menikung cepat Ariana Grande, dan membabat habis-habisan penonton vlog taek Saaih Halilintar.

Sebagai penggemar musik abal-abal, setiap genre dari negara manapun di dunia ini yang punya respon massa besar selalu menarik perhatian saya. Tak terkecuali BLACKPINK. Tapi saya tak lantas mencintai girlband ini, malah sampai saat ini, saya lebih menikmati DDU-DU DDU-DU yang di-cover dangdut koplo.

Jujur, saya juga belum bisa benar-benar tak meremehkan musik K-Pop. Bagi saya—caci maki saja kalau saya salah—pemusik Korea Selatan masih sama tampang dan ragam musiknya. Saya nggak bisa membedakan mana Lisa BLACKPINK, atau entah-siapa-itu personel SNSD atau apalah. Coraknya sama, cantiknya sama, gayanya sama, warna musiknya—baik cewek ataupun cowok—juga sama.

Lantas apanya yang menarik?

Satu hal yang saya respek dari musik K-Pop adalah industrinya. Bagaimana sebuah negara berkembang yang kini beranjak maju, berbatasan teror dengan salah satu negara nuklir fasis-komunis yang paling dibenci, bisa melesatkan sebentuk K-Pop ke lintasan yang sama dengan yang dibawa Lady Gaga, Katy Perry, Taylor Swift—yang semuanya adalah bintang idola Billboard.

Bagaimana settingan bisnis dan branding dan apapun itu yang membuat K-Pop bisa begitu digemari, dianggap sebagai penyelamat hidup banyak anak muda di Indonesia, negara berkembang yang berada berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari Korea Selatan.

Bagi saya, tak ada yang lebih logis dari hal ini selain keterlibatan pemerintah Korea Selatan. Meski punya beragam sisi negatif, tapi toh bentuk dukungan inilah yang melesatkan K-Pop sebagai industri, yang di negara kita setara dengan memasarkan kerupuk udang atau Indomie Rendang ke berbagai belahan dunia.

Yang jelas, rekor BLACKPINK dengan satu miliar viewer di YouTube adalah sejarah, momen penting dalam pergeseran produsen musik. Kini, tak hanya Amerika atau Inggris saja yang menjadi kiblat. Korea Selatan dengan K-Pop-nya adalah episentrum kultur baru, pusat baru dari dunia hiburan, yang mungkin tinggal tunggu waktu saja untuk menggeser negara yang selama ini kita berhalakan.

Dan kita, dengan Rich Brian, Stephanie Poetri, atau—ehem mungkin—Agnezmo, berharap hal serupa akan terjadi. Tapi toh ironisnya, mereka semua memulainya dari Amerika Serikat, bukan dari negeri sendiri untuk kemudian meledak seperti K-Pop.

Sementara saya, sejauh ini masih menikmati K-Pop cover koplo yang digubah ulang oleh DJ Gagak.