Sebagai mahasiswa kere yang nggak terlalu mbois, dulu saya pernah mendapat omongan yang taraf pedasnya melebihi gado-gado berkaret dua. Kuliah di fakultas seni membuat saya lebih mengedepankan gaya hidup low level: makan sehari dua kali, berangkat ke kampus memakai motor bebek rongsok, dan pakaian yang jarang ganti.

Nah, beberapa manusia yang doyan mencerca dan sok selebritis sering mengece saya akan tiga poin tadi. Dua poin pertama bolehlah saya terima. Toh UKT saya sudah sedemikian besarnya dan ini berimbas besar pada sangu bulanan yang diberikan emes.

Tapi poin ketiga, saat para manusia yang sok berlagak crazy rich ini mukai nyerocos soal baju saya yang nggak pernah ganti, ini jelas melukai harga diri saya. Saya terkesan dianggap kucel, gembel, nggak modal, dan cuek bebek dengan penampilan.

Alasannya: pakaian saya seringkali sama!

Saya memang cenderung fuck merch, biasanya memang sering memakai baju polosan—ada yang baru, ada pula yang hasil mborong dari Gembong. Warna baju polos yang itu-itu saja membuat saya dianggap nggak hieginis, kurang rich, dan nggak peduli mode.

Padahal prinsip saya adalah kebersihan. Baju mentok dua kali dipakai dalam dua hari, dan langsung masuk laundry. Omongan asal society bahwa tiap hari baju harus ganti—biar beragam, nggak iku-iku tok, bosen ndelok kon nggawe klambi iki—jelas adalah sikap takabur yang harus dimusnahkan.

Yang penting bersih dan nggak bau, sah-sah saja to pakai baju itu-itu terus?

Kita semua bukan artis. Bukan pusat dunia. Kita nggak sepenting itu. Semua orang tidaklah istimewa. Lantas ngapain gonta-ganti baju beda-beda tiap hari hanya karena biar nggak dibilang punya baju itu-itu tok?

Lah, kalau emang hanya punya lima sampai enam setel baju saja, mosok yo kudu mekso? Sopo se seng arep merhatikno sampe segitunya cok?

Syndrom society yang merasa bahwa dirinya diperhatikan terus sama orang lain dan merasa dirinya penting adalah sebentuk kecil dari kelainan jiwa. Kalian nggak sepenting itu, nggak sekeren itu juga buat mencela.

Banyak orang nggak penting ikut mencampuri urusan orang lain hanya karena biar dianggep penting. Beberapa orang nggak bermutu merasa punya andil dalam memperbaiki kualitas diri orang lain biar dia dianggap bermutu. Taek kabeh!

Maka dari itu, same old shirt different day jelas adalah motto yang saya yakini. Asal bersih dan nggak bau dan nggak mengganggu indra penciuman orang lain, sah-sah saja kali memakai baju yang sama terus-terusan.

Saya pernah punya kaus Pearl Jam album Choices yang saya pakai lumayan rutin karena toh nyaman-nyaman aja. Begitu pula kaus Joy Division album Unknown Pleasure, yang walaupun bootleg tetap saya cintai sepenuh jiwa raga dan rutin sekali saya pakai.

Begitupun baju polos abu-abu yang saya punya tiga setel di lemari, saya pakai terus dan seolah-olah memang nggak pernah ganti.

Jadi gini, hidup nggak akan maksimal kalau ente-ente sekalian tetap peduli dengan omongan kosong orang lain. Tapi hidup juga terlalu buang-buang waktu untuk membantahi mereka satu-persatu.

Jadi ambil jalan kompromi, ambil Converse-mu yang paling butut, kaus bandmu yang paling soak, jeansmu yang belel abis, dan acungkan jari tengah lewat lobang pantat saat ada orang yang mengejek dirimu karena dianggap kurang modis, nggak mbois, dan kere hore karena doyan pakai setelan yang sama tiap hari.

Gimana, kalian setuju?