DNK

Surat Suara Seluas Karpet Aladdin dan Hal Sangar Lain yang Kamu Jumpai di Bilik Suara

Surat Suara Seluas Karpet Aladdin dan Hal Sangar Lain yang Kamu Jumpai di Bilik Suara

Datang ke TPS pagi-pagi benar dengan muka masih bau bantal, perut keroncongan tapi kebelet eek—bayangkan sensasinya—dan perasaan deg-degan karena ini baru pertama kalinya sesudah sekian waktu selalu mbambet pas coblosan membuat saya harus mengolah kembali ingatan soal tata cara nyoblos yang baik dan benar di bilik suara.

Saya nggak paham karena inilah pertama kali saya memutuskan masuk ke bilik suara. Apalagi kata orang-orang, pemilu kali ini beda: langsung lima sekaligus. Mulai dari Presiden, DPR, DPRD kota/kabupaten dan provinsi, serta DPD.

Mungkin demi efisiensi dan penghematan, makanya pemilu dirangkep sekalian, ya. Kalau biasanya orang nyoblos langsung jleb - kelar, ini butuh lima kali jleb—yang juga berarti lima kali berpikir dan kalau yang dipilih dadakno nggateli, akan lima kali lipat penyesalan.

Lima kali nyoblos dalam lima menitan ini untuk menentukan nasib bangsae awakdewe selama lima tahun ke depan. Dan ini berarti kemungkinan ada lima kali lipat kerumitan, bagi panitia ataupun bagi pemilih. Dan inilah yang saya alami sambil ngempet boker; panitia masih sibuk toto-toto. TPS masih bingung karepe dewe.

Coblosan molor, dari jam tujuh pas jadi jam delapan kurang berapa menit. Sementara antrean semakin padat, mengular, dan gabut nggak tahu harus melakukan apalagi selain menunggu. Tapi saya rasa benar kata para tokoh yang sering nongol di acara debat kacrut para kroco di televisi: pemilu ini adalah pesta rakyat.

Benar, hanya dalam pemilu kali ini saya melihat warga libur kerja, berkumpul, dan jagongan bersama di TPS. Semacam perayaan Hari Raya versi politik. Dan disinilah saya kembali sadar kalau Indonesia itu beragam sekali.

Kakean gumbul wong kerjoan dan arek mahasiswa atau arek enom membuat saya selalu merasa bahwa mereka ini separuh nggapleki ikut-ikutan golput dan separuhnya lagi sok paham masalah politik.

Tapi saat ini, saya sedang mengantri bersama emak-emak hijabers, bapak kretek sepuh, anak SMA yang baru pertama kali dapat hak pilih, tukang gorengan, sopir truk, dan lain sebagainya. Ngelumpuk jadi satu.

Fuck sosmed, betapapun adu domba dan pecah belah saat ini seolah sedang booming, warga-warga biasa beginilah yang menjaga bhinneka dan keberagaman Indonesia tanpa perlu sok-sok memaksa seng ngene lah ngono lah, taek asu.

Setelah hampir dua jam duduk menunggu dan hampir menghabiskan daya ponsel karena selalu tak sengaja menonton Stories ‘Suara’ di Instagram—yang saya nggak tahu gimana cara Unfollow-nya—saya akhirnya dipanggil panitia.

"Rong jam dewe, bos," ujar saya. Panitia hanya terkekeh tanpa merasa berdosa. Tampak beberapa tumpukan surat suara dan daftar hadir, menyambut langkah saya menggunakan hak suara. Saya diberi lima surat suara: abu-abu untuk presiden, ada juga merah, hijau, biru, kuning yang saya lupa buat apa saja.

Memang benar, kotak suara dari KPU ini full kardus. Sempat jadi kontroversi sih di medsos tapi nggak masalah sih, toh fungsinya nutupin doang 'kan—ya walaupun di dalamnya agak kurang estetik.

Saya langsung meraih surat suara abu-abu untuk pilihan presiden. Gampang aja yang ini, surat suaranya kecil, cuman dua tok yang kudu dipilih. Ini tentu bisa langsung dicubles tanpa banyak berpikir, karena toh gegerane wong Indonesia selama ini 'kan cuman gara-gara dua orang yang sekarang sedang saya pelototi ini.

Hanya ada tiga kemungkinan: 01, 02, atau 03. Beres.

Nyoblos pakai paku tak serumit yang saya kira karena dadakno onok bantale. Tak pikir ngono ta paku tok lak yo kesulitan awakdewe.

Surat suara kedua yang saya buka adalah DPR disusul dengan DPRD. Cok gede banget kertase rek. Mayan tebel dan berisi kayak absen majelis taklim. Tapi saya bingung, endi fotone? Di baliho-baliho caleg 'kan selalu ada fotonya, kok di kertas suara nggak onok?  Lah terus awakmu lapo kok nggawe foto nang baliho?

Terus ada juga partai yang nggak ada nama calegnya blas—kayaknya partai baru dan gurem. Kosongan. Lah terus kalau misal milih partai ini ujungnya gimana njir.

Surat suara DPR ini juga gede banget, luasnya kayak karpet Aladdin. Mungkin kalau diduduki bisa terbang. Saya juga nggak kenal blas sopo ae seng nang njero. Akhirnya, ya gitu deh. Saya nggak bisa ngasih tahu pilihan saya ke samean semua lah. Pokoknya nyoblos ae.

Lalu yang paling epik adalah DPD. Ini ada fotonya dan saya agak lamaan memandanginnya satu persatu. Nggak ada yang kenal kecuali ada satu nama yang mungkin udah familiar. Sisanya nol putul. Saya cari yang punya air muka paling hangat. Tapi kabeh posene podo.

Saya mulai gelisah, wes milih ngawur ae, ayo wes terakhir iki ndang moleh cok. Tapi, tapi, tapi, kalau doi yang tak pilih nggak genah gimana. Tapi, tapi, ealah yaweslah. Saya mencoblos yang terbaik menurut insting dan naluri hewaniah.

Lalu terakhir, celap-celup tinta ungu. Wah, ini yang juga membuat saya nggak paham, tangan kiri apa kanan yang harus dicelup. Terus, jari apa yang kudunya ada tandanya. Juga sampai mana batas jari harus tercelup.

"Sembarang, bos. Celup sak karep ae. Mari iki nyelup bojo nang omah!" ujar petugas penjaga celup tinta sambil terbahak melempar guyonan bapak-bapak. Aku durung rabi cok.

Oke, saya akhirnya memakai tangan kiri saja untuk dicelup, dengan jari favorit yang selalu saya pamerkan sepanjang hidup ini: jari tengah.

Semoga bisa dapat diskonan dengan mamerin tinta ungunya, ya.