The Irishman, film mutakhir karya Martin Scorsese, mengobati rasa rindu penikmat film gangster yang dalam, pekat, dan membayang sampai akhir. Dengan durasi teramat panjang—sekitar tiga setengah jam—kita lantas akan bertanya: semudah itukah menjadi Scorsese?

Menjadi Scorsese memang tidak pernah sulit. Tinggal mencomot pistol, tragedi, sejumput pengkhianatan, pilihan antara menembak atau ditembak, dan ledakan di kepala dalam berlembar-lembar naskah sinema. Tidak pernah sulit menjadi Martin Scorsese saat kita sudah tahu formulanya.

Yang sulit tentu saja saat mengolah formula itu, menjadi brilian, kecamuk tak berkesudahan, dan tiga jam bumbu darah yang lesap sampai dikandung hayat.

Dalam The Irishman, Scorsese mengulang lagi formula yang sama, dengan ketekukan khasnya namun tampak lebih kalem dan elegan. Silence (2016), film terakhirnya sebelum The Irishman, memang lepas dari dar-der-dor drama adu peluru—yang diganti cambuk. Film yang hening sampai batas akhir keheningan itu sendiri—yang tak lain ada teriakkan sepekak-pekaknya.

Tapi dalam Irishman, Scorsese, si tua bijak yang pernah menggarap Taxi Driver (1976) dan Goodfellas (1990), seolah ingin menghempas kembali tajinya sebagai raja dari raja film mafia.

Dalam durasi tiga jam lebih penayangan di Netflix, pastilah film ini sedikit banyak akan menimbulkan ruang kosong dalam diri kita saat nekat menontonnya penuh tanpa terpecah. Ambisi Scorsese menceritakan detil dan ruang perasaan yang nyaris sempurna adalah hadiah yang akan kita dapatkan setelah itu.

Pengalaman sinematik jangan ditanya. Tapi pengalaman soal pemahaman siapa kawan siapa lawan, siapa bos yang harus dipatuhi siapa bos yang hanya dibutuhkan uangnya saja, terus ditekankan sepanjang film.

Pace lambatnya agak membuat pening, namun padat dengan sorot mata dingin Robert De Niro yang berperan sebagai Frank Sheeran, sopir truk yang pernah jadi prajurit dalam Perang Dunia II dan akhirnya masuk ke lingkaran mafia. Seolah membuat kita respek meskipun tindakannya belang-belang semua.

Al Pacino juga bermain di sini, dan tentunya sebagai jagoan utama The Godfather, memainkan peran sosok penuh kuasa yang tak jauh dari itu bukanlah hal sulit. Hanya saja Pacino bukan menjadi Mike Corleone yang diam-diam membunuh, melainkan Jimmy Hoffa, semacam “orang baik” yang sengak, sombong, lagi amat terobsesi dengan kekuasaan, tapi punya daya pikat dan kharisma kelas gurame.

Selain itu, ada pula Joe Pesci yang memerankan Russel Bufalino, petinggi mafia yang menarik Frank ke bisnis gelap. Sosok balik layar yang selalu memposisikan dirinya di balik layar. “Rabi” bagi Frank, yang kadang mengatur tindakan Frank dengan sehalus, serapi, dan sebijak mungkin—dan Frank selalu harus berkonflik batin panjang sesudah dinasehati Russel.

Fokus cerita film ini sebenarnya hanya satu: mengingatkan kembali publik akan fakta sejarah yang saat ini masih simpang siur. Tentang menghilangnya Jimmy Hoffa, pemimpin bisnis gelap, pucuk pimpinan Teamster, yang berpengaruh dalam percaturan politik Amerika. Hoffa menghilang sampai hari ini, dan konon kabarnya, ia sudah mati karena dibereskan.

The Irishman memanglah adaptasi dari memoar Charles Brandt, I Heard You Paint Houses, yang menggambarkan sosok Frank Sheeran secara detil dan mendalam. Dengan bantuan teknologi “de-aging”, tiga aktor kawakan tadi seolah tampak muda kembali, pelan-pelan, hingga akhirnya tampak setua aslinya.

Maka dari itu, pertanyaan apakah The Irishman layak tayang atau tidak, harusnya kau pendam dalam-dalam. Siapa di dunia ini yang tak memasukkan Scorsese sebagai rekomendasi? Bagus atau kurang bagus itu hal lain, intinya semua karya Scorsese pantas dan harus dilihat. Entah, apakah saya harus menjelaskan lagi alasannya?

Sementara, cara terbaik melihat Irishman—tanpa kantuk, ngigau, dan bengong sendiri—adalah tidak ada. Siapa bisa memaksa laju kantukmu? Atau karena ini ditayangkan di Netflix, kamu boleh juga mencacahnya jadi beberapa bagian. Silakan atur sendiri.

Yang selanjutnya akan saya sorot lebih dalam adalah kedalaman dari The Irishman itu sendiri, dan intrik politik yang mengiringi di belakangnya.

The Irishman dirilis tak lama setelah peringatan tewasnya John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat yang diledakkan kepalanya dalam perjalanan mobil dengan sang istri. Publik selama ini hanya melihatnya dengan satu perspektif iba. Yang lain malah lebih terpukau dengan ragam teori konspirasi kematiannya.

Tapi The Irishman mengambilnya di setting waktu yang sama, dari kacamata serikat buruh Internasional Brotherhood of Teamsters, yang dirugikan dengan pemerintahan Kennedy.

Lantas, saat semua kantor dan rumah di Amerika berkabung, mengibarkan bendera tiang pasca tewasnya Kennedy, Hoffa, pentolan Teamster, peduli setan dan justru naik pitam saat bendera di kantornya menurunkan tiang sampai setengah.

Ia menaikkannya kembali sampai pucuk, bukti bahwa Kennedy bagi sebagian orang tak jauh beda dengan penjahat yang kematiannya harus dirayakan.

Tapi, berbicara baik dan buruk, benar dan salah dalam The Irishman sesungguhnya bisa tidak relevan. Semua menjadi benar karena kepentingan, menjadi antagonis saat mengacau kepentingan pula. Posisinya jelas di sini. Moral masuk tong sampah.

Sesuci-sucinya Amerika, mereka tak akan bisa membantah bahwa pernah ada—atau masih ada—peran mafia dalam percaturan politiknya. Mafia adalah kunci dan mungkin, di Indonesia, situasi yang ada juga tak jauh berbeda.

Seperti film Scorsese sebelumnya, moral value The Irishman juga sama: redup, abu-abu, anti-hero, dan akhirnya menyimpulkan satu pertanyaan: orang jadi benar karena komitmen, atau harusnya semuanya harus berkomitmen pada kebenaran?

Semua tahu jawaban itu. Tapi tidak bagi Frank, yang mempersetankan loyalitas, meminggirkan keraguan, demi meraih apapun kepentingan pesuruhnya. Kalau kamu mengira bahwa Hoffa-lah yang berada di balik tindakan Frank, kamu bisa saja salah.

Jangan lupakan sosok penting yang dengan kharisma dan sikap lemah lembutnya, menyetir segalanya dari luar radar. Orang itu adalah Russel dan mungkin karena itulah, The Irishman harus ditonton.