Toxic positivity adalah istilah awam yang baru mengemuka di media sosial akhir-akhir ini. Saya pun juga baru mengetahuinya, meski mungkin seringkali mendapatkan perlakuan “toxic positivity” yang awalnya saya kira sebagai hal wajar.

Toxic positivity adalah sikap positif yang justru malah merusak dirimu. Ia serupa racun, atau katakanlah, gula yang kalau dikonsumsi tidak pada porsinya bisa bikin badan diabet.

Bentuk toxic positivity ada banyak. Ada yang menganjurkan untuk bersyukur melihat orang lain menderita (ini terlalu spiritual, saya belum berani membahasnya).

Ada pula yang berupa saran positif nggampangno saat kamu sedang dalam kondisi tidak baik (“santai, ada yang lebih parah dari kamu”). Atau ada pula yang berbentuk self respect atau self love yang keblinger (“aku nggak apa-apa, aku tetap cinta diriku meski kayak gini”).

Saya bukan motivator. Jadi saya juga sebenarnya nggak seberapa paham berbagai pola di atas. Tapi, saya pernah pada suatu waktu menulis di buku jurnal saya, yang intinya adalah mempertanyakan hal yang sudah pasti.

“Kalau kita bersyukur pas lagi pengen sambat, apakah kita lagi menipu diri?”

Toxic positivity mungkin awalnya adalah bentuk self healing. Atau mungkin, secara radikal, semua bentuk motivasi omong kosong adalah toxic positivity?

Kamu yang rentan, sedang dalam masalah, berada dalam kondisi mood buruk, dan cenderung gegabah membuat keputusan, biasanya cepat mengambil jalan pintas dengan quote-quote nomor wahid dari motivator medsos, lantas mulai mengafirmasi bahwa kamu baik-baik saja.

Memang hati sangatlah nyaman setelah itu, tapi apakah masalahmu jadi teratasi?

Saya selalu ingat bab pertama dalam buku karya Mark Manson, Seni Bersikap Bodo Amat, atau saya lebih suka versi judul Inggrisnya: A Subtle Art To Give A F*ck.

Memang saya tak mengingat semua isi buku ini. Tapi yang paling ngena adalah bab pertama dan bab terakhir. Bab yang membahas bahwa kita, “jangan berusaha”, dan bagian akhir yang membahas kematian.

Correct me if I am wrong (ceileh CMIIW). Saya menafsirkan bab “jangan berusaha” tadi sesuai perspektif saya pribadi. Ya memang, jangan berusaha melakukan hal yang sia-sia, kalau ujung-ujungnya masalah nggak teratasi

Atau katakanlah begini, kamu punya masalah dengan jerawatmu, dan kamu memilih berkaca sambil berkata “aku cantik, aku cinta diriku apa adanya, aku suka jerawatku.”

Di situ kamu berusaha membuat dirimu terhipnotis, bukannya malah berusaha menghilangkan jerawat itu. Kita seolah “menggampangkan” segalanya dengan berpikir positif, padahal banyak masalah kompleks yang sebenarnya butuh penyelesaian, bukan afirmasi-afirmasi bahwa kita baik-baik saja.

Biar lebih memahami apa itu toxic positivity, saya akan cerita satu teman toxic saya yang bisa disebut Hendi. Dia ini gayanya petentang-petenteng, auranya negatif, tipe-tipe teman yang membuatmu buru-buru menghabiskan makan saat melihatnya datang ke kantin.

Hendi ini memang dikenal suka ceramah, dibalut dengan saran-saran pseudo-motivasional, dan ujung-ujungnya menghancurkan teman-temannya dari dalam, tanpa dia sadari.

Jadi dulu, sewaktu saya putus cinta dengan cewek se-fakultas, saya bercerita panjang lebar pada Hendi. Lalu tiba-tiba, Hendi memotong ucapan saya dan langsung menceramahi saya.

Subjeknya diganti dia sendiri. Jadi selalu ada ungkapan, “koyok aku mbiyen lho ngene,” “tiruen aku lho,” “sek susahan aku mbiyen.” Awalnya saya kira itu wajar, tapi, lama-lama lah kok aneh gini?

Pertama, dia seolah nggak menunjukkan empati sama sekali. Hanya ada satu perspektif, dan itu dirinya. Dirinya seorang, yang pahlawan, yang paling bijak di kehidupan.

Kedua, semua hanya tentang dirinya. Jadi dia akan memancing kita curhat, lalu tiba-tiba dia menyelipkan curhatan juga, soal betapa dia berhasil menyelesaikan masalah dengan cara-caranya.

Judge sehalus mungkin, membikin semua yang kamu alami nggak ada apa-apanya dibanding semua hal yang dialaminya.

Maka dari itu, toxic positivity bisa hadir dari arah manapun. Dari dirimu sendiri, konco ngopi, orang tua, musik-musik self-empowerment Lady Gaga, sampai buku bacaanmu.

Kalau saya, nggak apa-apa kadang negatif asal nggak fake. Saya nikmati kok galau saya, sedih saya, hampa saya. Toh ada rokok dan bir dingin—hahaha ini juga kalau berlebihan bisa jadi toxic buat tubuh.

Tapi intinya, saya selalu menjaga diri supaya nggak terlalu bahagia, nggak terlalu sedih juga. Efek Rumah Kaca pernah nulis bagus tentang hal ini di lagu “Melankolia.”

“Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi
Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah hati…”