Merekam Derap Sepatu Lars. Judul buku ini seram dan menggoda. Dibalut sampul warna merah terang berpadu hijau rerumputan yang melambangkan baret dalam institusi TNI, membuat buku yang ditulis Aris Santoso ini menikam mata sedari pertama—sensasi yang sama saat melihat buku-buku pembantaian tertuduh komunis yang dipajang di perpustakaan lokal kota saya.

Saya tak punya pengalaman apapun di bidang militer—tentu saja kalau memang punya, saya tak mungkin berada di media yang kamu baca sekarang. Tapi saya seringkali mengulang-ulang film Full Metal Jacket (1987) karya Stanley Kubrick yang endingnya sedemikian mencengangkan.

Sayangnya, kesan pertama pada sampul dan bayangan dipicu betapa mengerikannya pasukan tentara di Full Metal Jacket tak serta-merta membuat buku ini istimewa. Jauh dari ekspekstasi, buku ini hanya sekadar menambah wawasan, semacam pengetahuan sekilas akan kulit muka militer Indonesia tanpa kedalaman yang berarti. Berbeda saat saya membaca biografi Ali Moertopo dan tokoh TNI lainnya yang diterbitkan Tempo.

Aris sendiri sebagai penulis, memang tak bisa diragukan kemampuannya. Aris adalah pengamat militer yang rutin menulis sejak tahun 1988. Analisisnya dalam bidang militer, khususnya TNI AD, mungkin bisa menarik kalau sedikit lebih fokus dan panjang—dengan daya analisis yang berbelit-belit sedikit tapi memuaskan saat bisa dipecahkan di akhir.

Tapi dalam versi esai seperti ini, yang ada pembaca—atau mungkin hanya saya—malah terombang-ambing dan tak menemukan kedalaman yang saya harapkan. Buku ini berloncatan, tak beraturan mulai dari Benny Moerdani—jenderal Orba yang dikaguminya—meloncat ke tahun sebelum TNI belum bernama TNI, kembali melaju jauh ke situasi pasca reformasi, hingga sampai pada huru-hara Pilpres 2019 ini yang melibatkan para jenderal purnawirawan.

Benang merahnya jelas, membahas TNI. Tapi garis waktunya yang melompati ruang dan waktu. Entah saya yang manja ataukah pihak editorial Buku Mojok yang gagal mengelompokkan naskah, yang pasti ekspekstasi saya akan betapa seramnya buku ini gagal terpenuhi.

Tapi hanya itu kritik yang saya lempar di muka. Selebihnya, kerja keras dan konsistensi Aris mampu menghasilkan karya yang tak mengkhianati hasil. Passion Aris mungkin adalah militer, dan meskipun tak masuk dalam pasukan, Aris menunjukkan tajinya sebagai pengamat militer jempolan.

Barisan tentara yang ditulis Aris rasanya sangat manusiawi. Ada rasa keakraban yang menyeruak dari tulisannya. Blurb buku ini menuliskan, “bagaimana sebuah figur penting lahir dan dicaridari militer, hingga bagaimana purnawirawan menjalani masa pensiun: dengan tenang atau gelisah?”

Aris sudah berhasil mengejawantahkannya hingga buku ini bisa dipahami awam sekalipun. Aris memanglah seorang—sebut saja—military geek, tapi sejauh ini bukunya masih bisa dibaca secara populer.

Berikut adalah beberapa bab yang membuat wawasan saya terbuka lebar. Sudut pandang saya yang dulunya sesempit semua TNI adalah Golkar dan mereka, entah jauh atau tidak, terlibat dalam beberapa tragedi HAM berdarah di Indonesia, perlahan mulai sedikit mengerti bahwa ada pola, ada cerita, ada kegilaan yang salah satunya bisa menjelaskan kenapa Soeharto, yang awalnya sosok antah-berantah kemudian bisa menjadi presiden besi yang tak bisa dikalahkan selama 32 tahun.

Tulisan pertama yang menarik tentu saja saat Aris membahas Benny Moerdani sebagai pembuka buku. Ada di bagian “Figur Militer”, Aris menulis bahwa Benny adalah tipikal perwira intelejen sejati. Karier Benny yang terbilang unik, diselingi sikap yang agak berbeda dibanding rekannya kebanyakan, menunjukkan pada saya bahwa TNI punya beragam rupa—dan cara untuk mencapai puncak.

Aris juga menuliskan dengan tekun soal Slamet Rijadi, penggagas Satuan Kopassus (Baret Merah) yang nyaris terlupakan sejarah. Figur semacam ini mungkin tenggelam oleh nama besar. Perannya dalam sejarah nyaris terlupakan karena publik lebih memuja jenderal overrated. Tapi toh peran itu tak dapat dibohongi karena sejarah selalu menunjukkan jalannya.

Dalam bagian “Figur Militer”, kamu juga bisa menelaah lebih jauh—walaupun tak sejauh itu—soal bagaimana awal mula karier Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto.

Saya jelas tak bisa menghafalkan istilah-istilah komando berapa, apa namanya, bayonet jenis apa, dan sebagainya. Tapi mengingat kedua tokoh ini sampai saat ini masih aktif di jajaran perpolitikan nasional, rasa-rasanya pembahasan Aris cukup relevan.

Rekam jejak itu penting. Latar belakang adalah segalanya. Itulah kenapa fakta bahwa keduanya masih eksis di panggung politik sampai saat ini tak terlalu mengagetkan.

Figur lain adalah Panglima Soedirman dan Oerip Soemohardjo—yang langsung mengingatkan saya akan nama jalan di Surabaya. Patokan punya peran atau tidaknya para perwira atau jenderal bisa dilihat dari siapa saja nama-nama yang menghiasi jalan di kotamu. Di Surabaya, banyak sekali nama jalan yang mengacu pada anggota militer, dan itu sah-sah saja karena perjuangannya terasa hingga sekarang.

Salah satu bagian paling menarik adalah esai yang mengungkapkan cara-cara Jenderal Besar Haji Muhammad Soeharto menyingkirkan pesaingnya. Soeharto memang dikenal ulung saat bekerja dalam diam. Senyap, menunggu dengan sabar, demi bisa meraih kepentingannya.

Tak perlu memakai intrik drama seperti sekarang. Ironisnya, Aris menyatakan bahwa ini bisa ditiru oleh politikus zaman sekarang. Semacam sindiran atau entah kenyataan yang menunjukkan bahwa lingkar kuasa di bawah kepentingan tak lebih dari sekadar kaus kaki bolong yang menunggu robek sempurna.

Bagian lain dalam buku ini selebihnya butuh waktu agak lama untuk ditamatkan. Di “Sejarah Pasukan” misalnya, Aris menguliti di antaranya soal munculnya Kodam-kodam baru. Juga menanyakan hal yang jadi pertanyaan publik hari ini: Apakah prajurit TNI berkompeten untuk jabatan sipil (jawabannya: iya!)

Selain itu, bagian ini juga membahas surplus kolonel dan perwira di tubuh TNI. Semua yang berlebihan memang tidak baik, termasuk banyaknya TNI yang berpangkat tinggi. Tanpa kompetensi yang moncer, yang ada hanyalah kegagapan dalam kompromi kepentingan yang jelas akan membingungkan kita.

Bagian ketiga sekaligus terakhir adalah “Panggung Politik.” Meskipun hanya esai-esai singkat semata, beberapa judul mungkin akan terasa sangat relevan bila berkaca dari situasi saat ini. Ada yang membahas skenario dalam tubuh Panglima TNI, paranoia bayang-bayang rezim Orde Baru, sampai Tragedi 1965 dan 1998.

Politik yang diangkat pun tak terlalu memaksakan untuk menjadi relevan dan kekinian. Selain membahas Jokowi dan jejaring perwira Solo dan Prabowo lagi, Prabowo lagi, bagian ini juga membahas soal Malari. Memang agak sedikit keluar konteks karena ini sama sekali tak menyinggung era sekarang. Tapi berkaca dari kenyataan sejarah bahwa jika Peristiwa Malari berhasil, tentu Indonesia akan lain rupa lain bentuknya.

Esai penutup tulisan sekaligus akhir buku ini adalah saat Aris membahas rekonsiliasi pragmatis sekaligus masa depan Purnawirawan TNI di Pilpres 2024 mendatang. Sebuah ramalan tanpa garis tangan. Hanya bermodal intuisi dan prediksi Aris semata—yang tentu tetap tak bisa dipandang sebelah mata.

Mungkin ini saatnya kita menutup buku dan memandang TNI bukan hanya sebagai institusi militer sebuah negara belaka, tapi juga pergerakan, riak-riak, pengkhianatan, dan lain sebagainya yang nyatanya, sebagian besar membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia.