“Work sucks i know”–kamu, yang dulunya sempat jadi bocah pop-punk, pernah dengar lirik ini? Mari kita bernostalgia sejenak, sekaligus meratapi nasib.

Kerja memang taik. Tom Delonge dan kawan-kawannya udah menyadarinya lebih dari dua dekade lalu di lagu “All The Small Things.” Single di album Enema of the State ini rilis di bulan Januari ini pada 1999 lalu, tapi toh liriknya tetap relevan—dan mungkin bakalan terus relate sama hidupmu yang jadi budak uang, buruh korporasi yang memperkaya si bos dan keluarganya.

“All The Small Things” memang cheessy as fuck, pop-punk rada menye yang bisa kamu hafalin bahkan dengan sekali dengar. Tapi lagu ini membuat Blink, meneruskan jasa Green Day yang udah menghidupkan kembali punk lewat Dookie di pertengahan ’90an.

Walaupun Blink lebih lembek, band ini juga banyak jasanya dalam membuka pop-punk invasion yang nggak pernah mati sampai hari ini. Kalau nggak ada Blink, jangan harap ada Fall Out Boy, Boys Like Girls, dan di kancah lokal: Rocket Rockers, Pee Wee Gaskins, sampai The Flins Tone.

Tapi toh pengaruh Blink yang signifikan nggak bakalan dibahas lebih dalam di artikel ini. Saya cuman ingin mengingatkan, bahwa pernah ada punch line ciptaan DeLonge yang kiranya pantas diingat kembali. Punch line yang mau berusia 20 tahun lebih alias dua dekade.

Semua pasti hafal bait “Work sucks, i know!”  di lagu “All The Small Things.”

“Late night come home
Work sucks, I know
She left me roses by the stairs
Surprises let me know she cares..”

Saya nggak ngerti DeLonge kerja apa. Walaupun dulunya mungkin cuman band-band-an, toh itu juga bisa disebut kerja dan bakalan capek juga. Semua orang di dunia ini kayaknya pengen deh nggak kerja aja, tapi bisa tetap dapat duit.

Hidup udah semakin mengkhawatirkan, terutama buatmu, generasi ‘90an dan early 2000an yang pernah jadiin “All The Small Things” sebagai soundtrack masa remaja di toilet sekolah. Kalau kamu nggak kerja, bisa-bisa nggak makan, dianggap sampah, dibilang males.

Ya mungkin ada benarnya, tapi kamu kudu paham juga kalau bekerja itu menyebalkan. Cari uang itu pusingnya amit-amit.

Saya emang kayak anak kecil ya, ngoceh sambat tentang kerja di umur segini. Terserah, anggap saja saya bocah manja. Tapi, saya yakin, 70 persen lebih yang membaca paragraf ini pasti mangkel terus-terusan kerja. Jadi lebih baik saat ini kita jujur-jujuran aja.

Ya nggak apa-apa sih sebenarnya kalau murni kerja. Lah ini ditambah (ayo, saya akan sebutkan hal menyebalkan saat kerja sebanyak-banyaknya):

Drama rekan kantor, ocehan bos, berangkat macet pulang padet, boyok cuklek, geger kemratak, gaji nggak sepiro, supervisor kontol, konco keminter, arek sak divisi mbacot, wong nggolek rai, potongan BPJS nggak masuk akal, kultur seksis, investor ngawur, gaji mundur, klien nyencreng, digudo wong mesum, dll dst. (wow saya capek menyebutkannya).

Maka dari itu, lagu “All The Small Things” harus diperingati sekali lagi. Kali ini bukan dalam konteks gaya-gayaan semata, tapi lebih pada maknanya. Lagu ini mungkin belum terlalu relevan pas kamu masih remaja dulu, tapi di umur segini, pasti kamu bakal meringis mendengarnya. Hidup ternyata perih, sob!

Oke, mari puter kencang-kencang lagu ini pakai headset saat berangkat kerja. Toh walaupun DeLonge menyatakan bahwa ada “little windmill” alias areknya alias pacar alias bojo yang bisa menyembuhkan, saya dengan amat terpaksa menyatakan bahwa ini juga kadang bikin makin buntu.

“Keep your lips still
I’ll be your thrill
The night will go on
My little windmill..”

Cok kabeh wesalah!