DNK

Cinta Tiga Kota (Episode 1)

Cinta Tiga Kota (Episode 1)

Wira menyeruput kopinya yang masih panas. Entah sejak kapan kebiasaannya itu bermula, yang jelas dia tidak suka meminum kopi yang mulai mendingin.

Dia masih menantikan kedatangan Anggia yang berjanji akan langsung bertemu setibanya di Nganjuk setelah mudik dari Kediri. Pasti perempuan cantik itu sudah menggebu-gebu ingin curhat, mengingat mereka sangat dekat. 

Dua minggu lalu Anggia curhat tentang kejengkelan dia terhadap atasannya yang sering mendekati dirinya dengan cara –yang menurut Anggia- murahan. Setiap sore Si Boss menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke kost. Awalnya dia suka dengan tawaran itu. Tapi lama-lama dia kesal karena setiap hari harus menemani Si Boss makan lalu mengobrol sampai malam, padahal bossnya itu sudah beranak-istri di Surabaya. 

Kopi di cangkirnya tinggal seteguk saat Wira melihat perempuan yang ditunggunya itu tergopoh-gopoh menghampirinya sambil nyengir kuda.

“Sorry…. lama ya nunggunya? Aku tadi pulang dulu naruh tas. Ada titipan buat Pak Boss dari Ibu.”

“Oooooo…gituuuuu. Katanya nggak suka, tapi Ibumu nitip-nitip buat Pak Bossmu… Piye sih?”

Anggia masih tersenyum lebar, tidak seperti terakhir dia marah-marah saat cerita tentang kelakuan atasannya itu.

“Biarkan saja. Terakhir waktu aku pulang Pak Boss ngasih Ibu kain tenun oleh-oleh dari Sumba kapan hari. Aku satu, ibu satu. Makanya ibu nitip oleh-oleh buat Pak Boss. Biar sajalah, sengaja aku baik-baikin dia, kali-kali dapat tambahan buat jajan. Kan lumayan.  Tapi berani colek ya awas, gak bakal kubiarkan. Hajar yo hajar temenan. Lah, kopimu udah hampir habis, Wir? Nambah lagi gih, aku ya mau pesan yang hangat-hangat. Maaassss….” Anggia setengah berteriak memanggil penjaga kedai kopi langganan kami ini.

Wira memesan coklat hangat untuk menemani Anggia bercerita. Pisang coklat-keju kegemaran mereka berdua menjadi kawan obrolan malam ini.

Seperti biasa, Anggia yang ekspresif bercerita sambil menggerak-gerakkan tangannya, seolah mempertegas setiap kata yang diucapkan. Sayangnya setiap gerakan, lirikan mata, gelak tawa, apapun yang keluar dari Anggia malah mengingatkan Wira akan Intan, perempuan yang sangat dicintainya namun memilih untuk menikah dengan lelaki lain demi uang.

Apalah Wira yang hanya bekerja sebagai buruh pabrik jika dibandingkan dengan lelaki pengusaha transportasi terkenal di Nganjuk ini. Kenangan buruk akan Intan membuatnya enggan membuka hatinya untuk perempuan manapun, termasuk Anggia.

Kalaupun dia bisa dekat dengan Anggia karena memang perempuan inilah yang menemani saat dirinya terpuruk hingga bisa kembali bangkit seperti sekarang.

Anggia adalah teman semasa kecilnya, sebelum akhirnya keluarga mereka pindah ke Kediri mengikuti ayahnya yang berpindah tugas ke sana.

Saat alat komunikasi belum semarak seperti sekarang, keluarga mereka saling mengunjungi hingga akhirnya selepas setelah selesai kuliah D3 empat bulan lalu Anggia kembali ke Nganjuk untuk bekerja.

Tiga jam berlalu, Wira melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

“Sudah malam, Nggi. Ayo pulang, aku antar.”

“Yaaaaaahhh…. baru jam sepuluh. Masak sudah harus pulang?” Anggia merajuk.

“Iya. Besok kan masih bisa dilanjutkan. Aku sudah mengantuk nih. Tubuhku sudah tidak mempan dengan kafein,” Wira beranjak dari kursinya dan mengambil jaket Anggia yang disampirkan di sandaran kursi di depannya.

Anggia menurut, tanpa cemberut. Namun tiba-tiba gerakan Anggia terhenti saat hendak menarik retsleting jaketnya. Wajahnya pucat, kaget. Tatapannya nanar ke arah belakang Wira. 

“Ada apa, Nggi?” Wira menoleh ke belakangnya. Tidak tampak sesuatu yang aneh.

“Ayo, Wir. Cabut,” ajak Anggia seolah-olah tidak terjadi apapun. Ekspresinya kembali ceria seperti biasa. Wira heran, namun enggan bertanya. Rasa kantuk yang mendera memunculkan hanya satu kata. Pulang.

***
Ronny masih mengisap rokoknya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya yang kalau dibedah mungkin sudah menghitam bak jelaga. Sengaja dia duduk sendiri, memisahkan diri dari Wira yang baru saja didatangi perempuan yang diketahuinya bernama Anggia.

Sudah beberapa akhir pekan ini dia tidak ngopi bersama Wira karena tahu dia bakal menjadi kambing congek dengan kedatangan perempuan Kediri itu. Kecuali malam ini, dia kangen sama roti bakar selai kacang favoritnya di kafe ini.

Ronny melihat gerak-gerik Anggia yang menarik, sekaligus mengingatkannya akan Intan yang telah melukai Wira hingga laki-laki itu menjaga jarak dari perempuan mana pun, kecuali Anggia yang sudah dikenalnya sejak kecil.

Baru saja dia akan menyalakan rokoknya yang ke sekian, Wira memanggilnya.

“Sini, Ron. Gabung. Sekali-sekali ngobrol sama manusia gitu lho. Mosok ngobrol sama asap terus. Gak bosan?”

Anggia tertawa waktu mendengar Wira bicara begitu. Ronny, lelaki introvert yang sifatnya sangat bertentangan dengan Wira ini hanya bisa tersenyum sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung.

“Ronny,” itulah sepatah kata yang spontan keluar dari mulutnya sambil mengulurkan tangan, mengajak perempuan ramah yang ada di depannya itu untuk berkenalan. Anggia menyambut uluran tangan itu sambil tertawa.

“Sudah tahu.”

“Maksudnya, namamu sudah tahu?” ujar Ronny bermaksud melucu.

Anggia semakin tergelak dan Wira pun ikut ngakak mendengarkan guyonan garing sahabat karibnya itu.

“Sudahlah, Ron. Gabung sini. Kamu kalau ada temanku kok mesti memisahkan diri. Biarkan asapnya libur dulu. Dia sudah lelah nemanin kamu ngobrol dari tadi.”

.

Ronny hanya bisa tersenyum kecut, namun akhirnya terseret dalam sebuah perbincangan yang mengasyikkan. Suatu peristiwa langka, mengingat Ronny, si sales yang pendiam, akhirnya dapat larut dalam sebuah obrolan yang panjang dan menyenangkan. Wira pun tersenyum melihat sahabat karibnya sejak SMP ini akhirnya dapat keluar dari cangkangnya. Selama ini mereka sering ngopi bareng di kedai langganan yang ada di pusat kota Nganjuk ini, tapi setiap ada temannya yang datang selalu Ronny memisahkan diri.

Kalaupun bergabung, itu karena kedai sedang ramai dan tidak ada tempat duduk lagi. Meski begitu, Ronny tetap saja diam sambil sesekali tersenyum jika ada pembicaraan yang lucu. 

Tapi tidak dengan kali ini. Ronny tampak sangat menikmati perbincangannya dengan Anggia. Jangan-jangan dia perlahan sudah membuka hatinya setelah bertahun-tahun tertutup debu karena selama ini Ronny selalu minder jika bertemu dengan perempuan.

***

Anggia bergegas mengemasi barang-barangnya. Rutinitas kerja di Kediri yang itu-itu saja begitu membosankan hingga Anggia menganggap pekerjaan ini hanya sebagai batu loncatan. Kembali ke Nganjuk, dekat dengan Wira, tampaknya mengasyikkan hingga tanpa sadar Anggia sudah merindukan akhir pekan.

Lima menit lagi waktu pulang kantor dan dia sedang tidak ingin bertemu dengan Aryanto, Pak Boss yang selalu ngebet mengantarnya pulang.

Kalaupun kemarin dia bercerita ke Wira bahwa dia sengaja membalas perhatian Aryanto semata-mata untuk memancing reaksi Wira. Apakah dia cemburu, marah, kecewa, atau reaksi negatif lainnya jika Anggia membalas perasaan bossnya.

Ternyata itu tidak terjadi. Wira tetap mendengarkan ceritanya dengan antusias, bahkan beberapa kali bilang, “Sudah, kalau memang hidupmu bisa sejahtera kan gak apa-apa juga kalau dijadikan istri kedua.”

Meski Wira mengucapkan kalimat itu dengan nada becanda, tapi entah mengapa dada ini sakit saat kata-kata itu terucap. Anggia ingin Wira cemburu, marah, bahkan kalau bisa mendatangi kantornya dan menegur tingkah kurang ajar bossnya. Tapi hingga detik ini tak sedikitpun sahabatnya itu bersikap berlebihan menanggapi cerita-ceritanya. Wira masih bisa tertawa-tawa seperti halnya jika becanda bersama teman nongkrong.

Jangan-jangan memang Wira tidak pernah menganggap Anggia lebih dari sekadar teman.

“Pulang, Nggi? Yuk bareng. Sekalian aku ingin mampir beli nasi goreng seafood di tempat kita biasanya makan. Temani ya,” suara bariton Aryanto membuyarkan lamunannya. Lagi-lagi Anggia kalah cepat dan terpaksa menemani Pak Boss yang semakin hari semakin mengesalkannya.

Sementara itu, Aryanto, bapak dengan dua anak ini sudah berada di satu-satunya pintu ruangan tempat Anggia bekerja, seolah-olah mencegat perempuan cantik bermata belo ini sehingga tidak dapat lari dari cengkeramannya. Anggia pasrah, tunduk akan kehendak boss. Pokoknya Pak Boss tidak menyentuhnya sedikit pun, aman.

Braaaaakkkk…..!!!!
Tiba-tiba pintu terbanting dengan sendirinya saat mereka sudah meninggalkan ruangan. Anggia dan Aryanto terkejut. Seketika Anggia menjerit histeris saat melihat ke pintu tertutup itu. Sesosok bayangan lelaki menghadap ke arahnya, kemudian bayangan itu samar menghilang. Anggia terduduk lemas, sementara Aryanto kebingungan atas apa yang terjadi. Dia tidak melihat dan merasakan apapun, namun mengapa Anggia demikian ketakutan?

“Bapak barusan gak lihat gitu? Tadi ada bayangan hitam di pintu, terus hilang. Hilang aja gitu, Pak? Masak Bapak gak lihat sih?” akhirnya Anggia bersuara dalam posisi masih terduduk di lantai dan tangannya menunjuk-nunjuk ke arah pintu. Aryanto hanya bisa diam. Melongo. Bingung.

.


Bersambung…
***