DNK

Horor di Kedai Darmokali Surabaya Bagian 4: Teror Kengerian saat Pembukaan Kedai

Horor di Kedai Darmokali Surabaya Bagian 4: Teror Kengerian saat Pembukaan Kedai

Pada bagian pertama, sempat diceritakan tentang awal-awal berdirinya kedai ini. Mulai kematian beberapa tukang bangunan karena merenovasi bagian belakang gedung hingga kesurupan masal saat acara pembukaan.

Kisah kali ini akan menceritakan beberapa pengalaman yang nyempil di antara dua kisah tersebut. Yang dialami dua manajer perempuan saat berjerih payah menyiapkan kebutuhan A sampai Z untuk pesta pembukaan kedai.

Mereka adalah Bu Vivi dan Bu Noni. Bu Noni sudah sering diceritakan pada bagian 1 dan 2. Bu Vivi juga pernah muncul pada bagian 2, saat ketemu Bu Noni di gudang. Namun, itu bukan Bu Vivi yang sebenarnya.

Dimulai dari rapat untuk mendiskusikan acara pembukaan pukul 14.00. Sebelumnya, dua manajer itu sibuk mengatur bawahannya untuk menyiapkan ruang VIP yang akan dipakai.

Semua dirapikan dan dibersihkan hingga kinclong.

Mendekati jam rapat, para pihak penting berkumpul dan hendak memasuki ruang rapat. Bu Noni ngecek sebentar ke dalam ruang VIP.

Dia pun kaget. Di lantai yang sudah kinyis-kinyis, tampak jejak kaki seperti bekas orang berjalan dari tembok ke tembok.

Seakan orang itu berjalan nembus tembok.

Iseng-iseng, dia ukur jejak tersebut dengan membandingkan kakinya. Dia yakin itu kaki perempuan. Seorang bawahannya segera dipanggil untuk mengepel ulang.

Tapi, dengan lancang pegawai itu nyeletuk, “Lho Bu, kan tadi sudah tak bersihkan. Itu bekas kaki Ibu, kan?”

Bu Noni yang emosian langsung bernada tinggi. “Ngawur ae, bukan kakiku itu yo!”

Si pegawai sebenarnya mengira atasannya itu bercanda. Dia memang tidak pernah percaya adanya hantu.

Tapi, pada bagian kisah berikutnya akan diceritakan. Bagaimana dia akhirnya percaya dengan hantu.

Ruangan pun bersih kembali dan rapat bisa dimulai. Gelas-gelas yang disanding dengan botol air mineral sudah ditata di setiap tempat duduk peserta.

Ada seorang peserta yang mengalami kejadian aneh. Setelah dia menuang air ke gelas, perhatiannya sejenak teralih ke diskusi.

Kemudian, saat hendak minum, gelas yang dia angkat sudah kosong. Bersih seperti belum terkena air. Dia yakin baru saja menuangnya dan belum minum. Sebab, air di dalam botol sudah berkurang.

Bu Noni juga tahu sendiri. Karena dia asisten peserta itu, dan duduk di sampingnya. Tanpa berpikir apa-apa, dia tuangkan kembali air ke gelas tersebut. Dan saat mereka lengah, kejadian itu terulang lagi.

“Kok bisa, ya?” komentar Bu Vivi tentang kejadian yang sempat memecah konsentrasi rapat itu. Bu Vivi memang religius, dan tak mau menanggapi hal-hal mistis dengan berlebihan.

Hari H kurang sehari lagi. Dua manajer itu makin sibuk.

Malam itu, sekitar pukul setengah dua, mereka yang berboncengan motor baru saja tiba di kedai. Keduanya berhenti di depan pintu gerbang.

Barang bawaan berupa tiga kresek ukuran jumbo cukup merepotkan mereka.

Keduanya lalu turun dari motor. Bu Noni membuka gembok pintu gerbang, lalu menggesernya ke samping. Tidak dibuka lebar, yang penting bisa masuk.

Setelah itu, dia kembali ke motor. Dan ketika dia mulai jalan, tiba-tiba gerbang menutup sendiri. Cklik! Gemboknya juga terkunci sendiri.

Keduanya cuma saling pandang. Lalu, Bu Noni mendatangi pagar tersebut dan membukanya kembali. Dan ketika dia mau masuk, gerbang itu menutup lagi. Hingga tiga kali bolak-balik, barulah mereka bisa masuk.

Mereka langsung parkir di bagian belakang bangunan, tepatnya di dekat dapur, untuk menyimpan barang-barang bawaan.

Entah karena capek atau bagaimana, keduanya seperti tak punya gagasan untuk membicarakan kejadian aneh tadi. Mereka masing-masing segera membawa satu kresek dan meletakkannya di dapur.

Setelah itu, mereka keluar lagi untuk mengambil sisanya. Namun aneh, di situ ada dua kresek. Mereka coba amati.

Tak salah lagi, satu di antara dua kresek itu sudah dimasukkan ke dapur barusan.

“Bu Noni aneh, ya?” kata Bu Vivi.

“Yang aneh bukan aku, Bu. Tapi ini kreseknya yang aneh. Kok bisa kembali lagi ke sini?” sahut Bu Noni agak geli, tapi juga tidak memahami kejadian tersebut.

Keduanya malah tertawa dan membawa barang-barang itu ke dapur. Kemudian, mereka keluar lagi untuk mengecek. Siapa tahu ada kresek yang balik lagi. Untung tidak ada.

Esoknya, sekitar pukul 10.00, mereka panik karena peralatan panggung yang ditunggu-tunggu sejak pukul 08.00 belum datang. Bu Noni segera menelepon vendor peralatan tersebut.

“Pak, kok belum datang-datang alatnya? Kami wes nunggu dari pagi, ini!” tanya Bu Noni, agak keras.

“Lho Bu, tadi kami ke situ. Kosong, nggak ada orang sama sekali. Ya kami balik lagi," jawab orang dari vendor.

“Masa seh Pak, wong ada aku sama tiga temanku nunggu di depan kok. Pintunya juga semua tak buka. Masa nggak kelihatan?!”

Penyedia peralatan itu kemudian balik ke kedai. Mereka harus buru-buru nge-set alat karena waktu sudah mepet.

Entah apa yang terjadi. Kata orang vendor, sebelumnya tempat itu kosong. Tidak ada pintu yang terbuka dan tidak ada orang. Dan lagi, ketika dia menghubungi Bu Vivi, nomor HP-nya tak bisa tersambung.

Setelah tukang alat, giliran tukang sulap. Saat itu pukul 17.00. Si pesulap minta izin ganti kostum badut untuk persiapan tampil.

Namun, hingga pertunjukan akan dimulai, si pesulap tidak muncul-muncul. Kedua manajer jadi bingung.

Bu Noni sudah marah-marah. Sempat juga mereka mencari ke sana-kemari, tapi tidak ketemu. Mereka pun balik ke dekat panggung dengan rasa khawatir.

Ketika MC memanggil pesulap untuk tampil di atas panggung, keduanya semakin panik. Tiba-tiba si pesulap datang tergopoh, dan berhasil membuat pertunjukan tanpa telat. Keduanya langsung lega.

“Bu, pesulapnya sudah tampil. Saya salat dulu ya sama Dini. Di ruang VIP,” pamit Bu Vivi untuk salat Magrib bersama seorang bawahannya.

Mereka memilih ruang VIP karena musala dekat dengan panggung. Suaranya terlalu bising.

Bu Noni mengiyakan. Dia kini menikmati pertunjukan sulap itu sampai kelar. Dia pun sempat bertanya kepada si pesulap, “Mas, kok tadi lama, ke mana? Untung nggak telat Sampean!”

Si pesulap cerita. Tadi pas ganti kostum, dia terkunci di dalam ruangan. Sudah teriak minta tolong dan gedor-gedor pintu, tapi tidak ada yang dengar.

Dan ketika sudah mepet waktu tampilnya, pintu mendadak terbuka sendiri.

Bu Noni hanya geleng-geleng kepala. Tiba-tiba dia sadar bahwa Bu Vivi belum kembali. “Ini salat tah salat, kok lama banget!” omelnya sambil berjalan mendatangi mereka.

Begitu masuk ruangan VIP, ternyata mereka cuma duduk terdiam. Dan yang bikin kaget, di depan mereka tergolek tubuh perempuan. Telentang menghalangi mereka. Itulah kenapa mereka dari tadi tidak salat-salat.

Bu Noni segera mengajak mereka keluar dengan setengah berbisik. “Ayo keluar..!”

Bu Vivi menunjuk-nunjuk hantu yang begitu jelas dilihat oleh mereka. “Kok bisa, ya?”

“Haduh, jangan bahas di sini. Ayo keluar!”

Baru saja mereka keluar dari ruang VIP, tiba-tiba terdengar teriakan di luar. Bukan teriakan senang karena melihat pertunjukan, tapi teriakan orang-orang kesurupan.

Untung, penjaga kedai tersebut kenal dengan orang pintar di sekitar situ. Akhirnya situasi bisa diatasi. Namun, itu membuat acara molor. Yang seharusnya selesai pukul 19.00 jadi berakhir pukul 21.00.