DNK

Horor Kedai Darmokali Surabaya Bagian 3: Rontoknya Impian Sang Kasir

Horor Kedai Darmokali Surabaya Bagian 3: Rontoknya Impian Sang Kasir

Kembali lagi pada kisah ontologi tentang keseraman sebuah kedai di kawasan Darmokali Surabaya.

Jika dua kisah sebelumnya menceritakan dari sudut pandang manajer-nya, kali ini kita akan mengikuti pengalaman dari salah satu karyawatinya. Yang awalnya begitu senang ketika dihubungi oleh pihak kedai untuk pertama kalinya, dengan tawaran kerja sebagai tukang kasir.

Saat itu bayangannya sudah melambung indah. Jika nanti dapat gaji, dia bisa belanja ini dan itu, happy sekali. Dan yang paling penting, ia tidak lagi merepotkan orang tuanya.

Pada hari yang telah ditentukan. Sekitar pukul 5 sore dia datang untuk wawancara kerja. Kakinya melangkah dengan semangat memasuki halaman kedai.

Dan begitu menginjak teras, mendadak berhenti. Padangannya menyapu setiap sudut ruang. Perasaannya tidak enak. Suasananya terasa suram.

Meski banyak lampu, tapi cahayanya seperti hidup dalam kelam.

Nafas beratnya terhembus spontan, bibir manisnya mengucap doa bismillah. Kakinya diangkat lagi, memantabkan diri untuk melangkah menuju ruang pimpinan.

Singkat cerita dia sudah mulai bekerja. Hatinya selalu riang setiap datang pada pukul 5 sore. Terbayang barang yang sudah dia incar untuk dibeli, ketika nanti turun gaji.

Dan itu dia syukuri dengan melaksanakan kewajibannya menyembah pada ilahi.

Seperti pada magrib itu, setelah selesai sholat. Ia hendak keluar dari mushola, tapi mendadak tertahan. Mulutnya ternganga, tak mampu bergerak dan berkata.

Hanya suara hati yang mencoba melafalkan bacaan-bacaan untuk mengusir si pocongan, yang kini menghadangnya persis didepan pintu mushola.

Entah berapa lama kemudian, mahluk tak kasat mata itupun akhirnya benar-benar hilang didepan mata. Langsung ia lari dengan gemetaran. “Ya Allah, kenapa ini terjadi padaku!”

Dugaannya tentang keanehan tempat ini telah terbukti. Apalagi setelah ia cerita pengalaman pertamanya itu ke yang lain. Malah semakin banyak kisah hantu dari rekan kerjanya secara mengalir.

Dari situ dia sempat ingin keluar. Tapi janji dalam hati untuk membahagiakan orang tua mengalahkan rasa takutnya.

Apalagi banyak teman-temannya yang masih kuat bertahan, meski pengalamannya lebih banyak dari dirinya.

Dan yang paling tidak rela adalah karena gajinya belum keluar.

Entah sudah berapa minggu, dia sudah mulai melupakannya. Karena sudah tidak dihantui lagi. Namun pada suatu hari ketika ia baru saja sampai depan pintu gerbang. Ada perempuan berbaju putih lusuh, memegangi terali pagar sambil goyang-goyang.

Dia bingung dan ngeri, karena perempuan yang memberinya joget sambutan itu berwajah rusak. Anehnya tidak ada orang lain yang melihat selain dia.

Padahal itu masih pukul setengah setengah 6 sore, masih banyak yang lalu lalang.

Oh gawat, dia mungkin belum tahu. Karena itu adalah hantu perempuan yang menguasai kedai ini. Seperti yang diceritakan pada bagian pertama tulisan ini. Yang kadang bertindak tanpa motifasi, seperti cerita di film-film tak berekspetktasi. Yang membuat seisi kedai merasa risih.

Dengan perasaan tak menentu, ia segera menundukkan wajah untuk menghindari kontak mata. Lalu dengan gemetar menjagang motornya, dipinggir jalan, persis didepan kedai.

Entah kenapa dia lebih memilih parkir disitu, padahal di dalam juga bisa.

Kini ketika akan masuk, dia ragu. Terbersit sabuah kengerian, bagaimana nanti kalau melewati pintu gerbang tiba-tiba setan itu menghadangnya. Tapi dia harus masuk.

Dengan nekat kakinya segera membawa tubuhnya melewati pintu gerbang. Hiii...! Untung apa yang ditakutkan tidak terjadi.

Dua kejadian tersebut mulai kembali membuatnya patah arang. Namun dengan alasan yang sama, dia mencoba menguatkan kembali asa-nya. Meski resikonya akan menghadapai episode-episode dihantui selanjutnya, yang entah kapan masa tayangnya.

Seperti ketika mencuci piring di dapur. Tiba-tiba di belakangnya terdengar ctang cting suara piring di rak yang dimain-mainkan. Dia pikir itu adalah temannya.

Dan ketika akan menaruh piring ke rak, dia urungkan. Karena ada perempuan yang pernah dia lihat di pintu gerbang kapan lalu, lagi duduk diatas rak sambil mainan piring. Cuma wajahnya tidak rusak.

Kemudian saat ia sedang membuat minuman kopi. Ada yang mencolek pundaknya dari belakang. Dia tidak tengok, karena mengira itu temannya. Tapi setelah beberapa kali colek, dia pun menoleh. Tak ada siapa-siapa.

Dan episode terakhir dari semuanya adalah ketika dia diminta ibu manajer untuk membikinkan teh.

Saat jalan menuju dapur tiba-tiba kakinya seperti ada yang menjegal, yang membuatnya jatuh terjongkok.

Dia pikir itu tersandung sesuatu saja. Ia-pun segera berdiri lagi, namun, deg! Jantungnya hampir putus karena ada setan perempuan menghadangnya dengan wajah marah.

Setelah 10 bulan bekerja dengan baik. Akhirnya ia tidak tahan dan memutuskan untuk resign.