Duduk di kursi bus ekonomi Suroboyo­­-Malangan akan mudah sekali menemui ucapan begini dari mulut pengamen: ”Ladies and gentlemen, jangan sadis sama pengamen”. 

Sebuah sambutan ”selamat datang” menuju situasi baru yang begitu misterius. Sebab, untuk beberapa menit ke depan, penumpang pasti menebak-nebak apakah si pengamen bakal mengantarkan stimulan suara merdu yang mengajak otak kita sejenak rileks atau sebaliknya.

Yang lebih sering adalah kombinasi epik antara enam tutup botol yang disatukan dengan paku dan ditanam di potongan kayu. Alunan ritmis bunyi ”pyek..pyek..crek..ecrek..ecrek” dipadu nada suara minor ibu-ibu tua yang menyanyikan lagu dari medio 70-an dengan margin of error lirik lagu tembus 87 persen.

Sebagai orang yang punya frekuensi naik bus Suroboyo-Malang sesering pergi ke toilet, saya mengelompokkan beberapa jenis pengamen menjadi tujuh kategori sesuai kelakuannya di dalam bus. 

  1. Pengamen Nyiyir

Selain keahlian mengamen (bukan bermusik), kelompok ini dibekali skill nyinyir yang mumpuni. Seringkali kenyinyiran itu sukses memaksa penumpang sungkan buat nggak ngasih duit.

Begini modusnya: Yang paling sering dengan mengeluarkan kalimat provokatif, ”Seribu-dua ribu tidak akan membuat Anda miskin”. 

Ancen bener, tidak bakal membuat miskin. Tapi saking mangkele dinyinyiri, saya sering berseloroh kalau memberi mereka seribu-dua ribu juga nggak bakal bikin mereka sugih. 

Yo kan?

Jadi pengamen model begini kalaupun skill bermusiknya di atas rata-rata, nyiyirnya bikin males.

  1. Pengamen Sekadarnya

Ini jenis yang pokoke ngamen. Salah satu bentuknya kayak yang digambarkan di awal. Modal enam tutup botol, diberi lubang di tengahnya, disatukan dengan paku, ditambatkan ke sepotong kayu. Lalu dipukul-pukulkan ke telapak tangan.

Ora ono istilah spesifik buat alat musik itu. Tapi karena bunyinya kecrek.. kacrek.. Sebagian menyepakati kalau namanya ”kecrekan”. 

Ada juga yang memanfaatkan botol plastik bekas susu diisi pasir untuk menimbulkan bunyi yang mirip-mirip itu. 

Untungnya, suara kecrekan tersebut tak memandang nada. Se-fals apa pun suara pengamen, nadanya tetap saja masuk. Gak perlu nyetem-nyetem.

Ada yang lebih sekadarnya dari jenis pertama. Mereka biasanya naik ke bus, ucap salam, lalu tepuk-tepuk tangan sendiri. Padahal, gak ada yang ulang tahun.

Parahnya lagi, sudah pakai alat musik tangan, nyanyinya nggak kenal genre lagu. Padahal gak semua lagu cocok dinyanyikan dengan tepuk tangan. Hanya beberapa yang cocok. Salah satunya ya lagu selamat ulang tahun.

  1. Pengamen Ngancem

Biasanya setelah naik bus, pengamen jenis ini langsung curhat. “Dua bulan lalu saya baru keluar dari Medaeng. Sekarang saya mencari uang halal. Kalau tidak ada yang memberi, berarti semuanya ingin saya masuk penjara lagi”.

Pengamen jenis ini sudah banyak berkurang sekarang. Mungkin orang-orang malah gak ada yang ngasih duit, gak takut lagi ancam-ancaman.

Tapi, ada model ancaman baru yang lebih halus. Modusnya dengan mengatakan: daripada nyolong, nyopet, ngerampok, ditembak polisi jedoorr!! Pengkor gak payu rabi”. Ini antara ngancem sama curhat beda tipis memang.

Namun, mereka lupa bahwa di dunia ini pekerjaan bukan cuma ada dua, pengamen dan kriminal. Ada asongan, ngojek, badut ulang tahun, dan nambal ban. Jadi kalau gak bakat ngamen, ya gak harus nyopet. 

  1. Pengamen Ekonomis 

Dari skill bermusik dan menyanyi, pengamen jenis ini biasanya agak di atas rata-rata. Suaranya cukup merdu untuk ukuran bus ekonomi. Tapi, mereka termasuk pengamen yang cuma ngamen. Tidak ada passion dalam hati mereka. Saya ngamen, kasih saya uang, selesai. Begitu prinsipnya.

Kalau lagi ngamen, mereka paling banyak nyanyi dua lagu. Lebih banyak lagi yang cuma nyanyi satu lagu kemudian cepat-cepat membuka bungkus plastik bekas permen atau detergen, lalu mengedarkannya ke penumpang. Atau menyebar amplop kosong sebelum nyanyi, berharap setelah 1­-2 lagu, amplopnya terisi. 

Modus amplop tersebut lebih modal daripada plastik bekas. Karena dengan amplop, mereka berharap yang dimasukkan adalah uang kertas, bukan recehan.

Prinsip mereka, kalau satu lagu bisa dapat 10 ribu, buat apa capek-capek nyanyi 2-3 lagu. Biasanya yang model begini lagunya dari ke hari sama. Mereka lebih senang sendirian daripada ngamen rame-rame. 

  1. Pengamen Nedo Terimo

“Ikhlas dari Anda, halal bagi kami”. Begitu semboyannya. Ada yang gerombolan mirip boy band atau orkes amatir. Skill-nya lumayan, tapi tidak wow banget. Juga nggak banyak omong. Kalau kelompok sebelumnya sangat berhitung soal lagu dan uang, mereka tak terlalu memikirkan soal itu.

Bayangkan, satu kelompok bisa beranggota 4-5 orang. Bahkan ada yang tugasnya cuma mengumpulkan uang atau sesekali membantu tepuk tangan. Gak terlalu berguna tugasnya. Jika satu kali naik bus dapat 10 ribu, berapa persen masing-masing dapat bagian? Bandingkan kalau ngamen sendiri.

  1. Pengamen Seniman 

Mereka ini tetep butuh duit. Tapi bukan itu tujuan utama. Aktualisasi diri adalah hakikat. Skill mereka yang terbaik dari semuanya. Pilihan playlist-nya juga beragam. Mulai lagu lokal sampai interlokal. Komplet. 

Kalau sudah nyanyi, mereka bisa merem melek. Saking menghayatinya. Dua, tiga, empat lagu. Kadang bisa lebih. Mereka gak pernah mempermasalahkan. 

Bus menjadi panggung spektakuler bagi mereka. Kalau lagi tampil, mereka gak peduli selera audiens. Biarpun mayoritas penumpang mbah-mbah, kalau mereka bergenre reggae, ya sampek elek nyanyi Steven & the Coconut Treez. Atau kalau mereka ini Oi!, ya nyanyinya lagu Iwan Fals dari album Perjalanan, Cikal, Sarjana Muda. Semuanya hafal.

Bisa jadi, mereka merupakan musisi sejati yang hanya butuh panggung untuk narsis. Kebetulan yang bisa memberikan kesempatan cuma-cuma adalah kondektur bus. 

  1. Pengamen Aktivis

Kalau yang ini jangan tanya soal lagu Top 40 atau pop terbaru. Pop terlama pun mereka enggan menyanyikan. Lagu wajibanya Darah Juang. Lagu pilihannya adalah karangan mereka sendiri yang sesekali memelesetkan lagu-lagu lama yang familiar di telinga semua orang.

Temanya perjuangan kaum miskin kota, nasib pedagang kaki lima yang diobrak satpol PP, atau perjuangan buruh menolak sistem outsourcing.

Kostum mereka kadang kaus hitam bergambar Che Guevara yang dibeli dari pasar maling. Atau logo bintang merah dipadu padi dan kapas. 

Ada juga yang megombinasikan lagu-lagu balada dan di tengahnya muncul penyair yang membawakan karya WS Rendra sambil mengepalkan tangan kiri. Kenapa tangan kiri? Karena yang kanan bawa kertas puisi.

Pengamen juga profesi. Tujuannya nyari duit. Semua profesi semestinya dilakoni secara profesional. Dua unsur utama ngamen adalah nyanyi dan main alat musik. Kalau unsur itu gagal dipenuhi, ya mbok nyadar, mungkin ladangnya bukan di situ.