Warga Sepanjang menolak disebut warga Sidoarjo. Tapi juga emoh dianggap orang Surabaya. Apakah ini gejala disintegrasi bangsa?

”Kami warga Sepanjang. Titik!” kata Edu Karaman, seorang warga Sepanjang yang beranak pinak di wilayah tersebut sejak kakek buyutnya.

Sepanjang memang kawasan magak. Maksudnya, berbatasan langsung dengan Surabaya tapi jauhnya minta ampun dari Sidoarjo kota. Mereka tak bisa mengklaim sebagai warga Serbejeh, tapi juga tak bisa berkata iya saat ditanya, ”Pean arek Darjo ta?”

Jadilah Sepanjang sebagai kawasan yang punya identitas mandiri. Mereka adalah arek Sepanjang. Bukan arek Suroboyo ataupun Sidoarjo. Kalau dilihat secara detail wilayah, Sepanjang sudah lebih dari layak disebut sebagai kota mandiri. 

Tanpa Suroboyo dan Sidoarjo, aku rapopo.

Lihat saja, semua kebutuhan sudah lengkap di sana. Mulai sekolah, rumah sakit umum, rumah sakit spesialis mata, pasar tradisional, mal, stasiun, hingga terminal angkutan. Bahkan, bank milik pemerintah pun lebih dari tiga. Itu belum termasuk bank titil yang pasti sak taek ndayak.

Anda butuh dana? SAMA!

Nah, dengan fasilitas yang luar biasa lengkap itu, Sepanjang seperti tidak membutuhkan siapa pun di dunia. Mereka bisa berdiri sendiri. Tanpa kehadiran negara, tanpa presiden, tanpa pimpinan ormas, tanpa kuota internet, dan tanpa tahu bulat. 

Sepanjang masih berdiri kokoh di persimpangan peradaban antara Surabaya dan Sidoarjo. Merdeka!

Ibarat manusia, Sepanjang adalah seorang jomblo yang tidak lagi membutuhkan cinta. Apalagi pernikahan. Karena semuanya hanya akan mengganggu kenyamanan. Mengganggu stabilitas. 

Karena itu, hampir tak pernah ada perubahan apapun di Sepanjang. Waktu seperti berhenti berputar begitu kita memasukinya. Semua gerak perubahan dalam dimensi waktu dan fisik berhenti. Membeku. Tanpa dinamika. Hanya gravitasi yang bisa menarik warganya agar tetap menjejaki tanah. 

Deretan toko tetap menjadi toko sama yang berdiri lebih dari tiga dekade silam. Fasadnya tak berubah. Warna cat yang digunakan masih serupa. Kalaupun ada perubahan, paling-paling cuma barang dagangannya. 

Misalnya Edu Karaman, pedagang keturunan Arab yang punya Warung Coffee Specialty Goesto di Jalan Ir Anwari (sebelah kantor Kecamatan Taman). Dulu dia buka penyewaan VCD. Setelah peminat film dalam kepingan cakram itu menurun drastis karena internet, dia buka warnet. Warnet Edu pun tutup sejak HP lebih pintar daripada penggunanya. 

Sekarang lelaki berewok itu menjadi barista sukses dengan produk andalan kopi lanang.

Perubahan lainnya di Sepanjang tak terlalu spektakuler. Paling-paling yang kelihatan adalah pembangunan SD Muhammadiyah Taman dan RS Siti Khodijah. Sejak dulu sudah ada, tapi cuma kapasitasnya ditambah. 

Begitu halnya dengan jembatan yang menghubungkan Sepanjang dan Jalan Mastrip Karang Pilang. Sudah terlalu lama jembatan itu abadi sebelum tiga tahun terakhir diperbarui. Sebelumnya, warga harus terimo nasib dengan jembatan dari kayu yang reyot sejak dibangun pada 1980-an. 

Padahal, jembatan penuh lubang itu sudah menelan korban balita. Dia terperosok karena sang ibu tidak menggandeng tangannya. Banyak kasus lainnya, tapi tak terungkap. Seperti perasaan yang enggan diungkapkan kepada gebetan selama bertahun-tahun karena takut ditolak. Sakit, Bro!

Dengan kondisi yang serbamapan itu, Sepanjang justru sangat terkenal. Bahkan dinobatkan sebagai lagu evergreen: Sepanjang Jalan Kenangan.

Saking terkenalnya, nama Sepanjang sebenarnya berbeda secara administratif. Kawasan yang dari tadi kita bicarakan adalah Kecamatan Taman. Sedangkan Sepanjang merupakan nama salah satu kelurahan di dalamnya. 

Tapi, popularitas Sepanjang sudah jauh melampaui zaman. Membuat nama Taman di bonsai memudar. Bagai butir-butir marimas yang tercecer di warkop giras pojokan gang buntu.

Orang lebih familiar dengan nama Sepanjang daripada Taman. Meski dua-duanya adalah anak kandung Sidoarjo.

Saking lamanya waktu berhenti di Sepanjang, mereka yang lama tak berkunjung kemudian ke sana lagi mustahil pangling. Via Vallen dijamin tak bakal bertanya-tanya dalam lagu Lali Rasane Trisno.

Wes suwe ora nyawang

Opo kowe isih sayang?

Sebab, meski sudah melewati berbagai reinkarnasi kehidupan, orang tetap trisno dengan Sepanjang. Karena Sepanjang tak akan berubah. 

Sepanjang bisa saja kamu tinggalkan saat masih sayang-sayangnya. Tapi dia bakal menerimamu kembali. Sebab, dia tak akan pernah move on. Tetap menjadi dirinya sendiri. Sendirian.