Setelah dua hari dikepung bom, apakah kita akan segera melupakan bom Surabaya? Sampai berapa lama lagi kita akan amnesia kemudian memaklumi 28 korban tewas itu sekadar angka yang segera hilang ditelan kisah-kisah konspirasi imajiner?

Sebanyak 28 nyawa yang hilang dengan cara mengenaskan itu nyata. Ada wujudnya. Ada nama dan alamatnya. Ada darah dan ada jenazahnya. Kalau tidak percaya, datang saja ke rumah duka. Lihat semua prosesinya. Lihat bagaimana suasana kelam melingkupi rumah mereka satu per satu.

Bagi beberapa orang, terorisme sungguh sangat berjarak. Begitu jauh. Ia cuma video sebuah kota yang luluh lantak berselimut debu. Tertutup kabut dan asap bekas amunisi. Ia cuma potongan korban-korban bergelimpangan di sebuah wilayah antah-berantah di stasiun televisi. Yang bisa dengan gampang bergeser ke channel Liga Dangdut Indonesia di Indosiar.

Banyak yang tidak menyadari bahwa mesin pencabut nyawa dalam sosok hitam dan misterius itu bergerak dalam kesunyian. Berjalan menuju rumah-rumah kita.

Hingga kemudian, ia tiba di Jakarta. Menembaki orang-orang di Jalan Thamrin. Kita masih menganggapnya pertunjukan produk skenario. Bahkan baku tembak di rumah tahanan polisi pun masih dianggap darah dan jenazah berupa foto kotak di media sosial.

Sampai akhirnya, terorisme mengetuk pintu kita. Tepat di depan batang hidung kita. Ia mencabut 28 nyawa dengan bengis dan brutal. Tanpa melihat siapa dan bagaimana. Seorang bocah leher dan kakinya tersayat benda tajam. Hidupnya berakhir. Seorang petugas keamanan rela mengorbankan dirinya demi menjaga lebih banyak nyawa lagi.

Darah dan jenazah itu tak ada maknanya. Potongan-potongan tubuh hanya menjadi kisah mengharukan di koran. Yang akan hilang dibilas tumpukan edisi hari-hari berikutnya.

Di tengah situasi kecamuk tersebut, masih ada saja yang membenarkan. Menganggap cuma sekadar gimmick politik. Kebengisan seperti apa lagi yang kita inginkan untuk menganggapnya benar-benar nyata? Atau kita menunggu sampai ada orang dekat kita yang menjadi korban?

Pemakluman terhadap gerakan terorisme tersebut harus diakui beririsan dengan bangkitnya wacana radikalisme yang memenuhi udara. Para ustad fundamental dengan gampang menganggap negara ini sudah bangkrut. Tak ada harapan. Penyebabnya hanya karena tidak berhaluan Islam.

Jika terorisme adalah turunan dari ide-ide radikalisme, mereka yang menyemai wacana fundamentalisme tentu berkontribusi terhadap munculnya para pelaku bom bunuh diri.

Masalahnya, pada saat yang sama, ustad moderat tak banyak yang muncul. Kalaupun muncul, kalah start. Sejak awal terlalu menggampangkan. Padahal, pada saat bersamaan, timeline dipenuhi ide-ide besar soal negara Islam, khilafah, dan upaya melenyapkan mereka yang berbeda.

Sudah saatnya para ustad dan kiai kampung mengakses saluran komunikasi yang berbeda. Tak bisa sekadar masuk dari gang ke gang, mengisi pengajian dari majelis lorong-lorong sempit, rumah-rumah petak di pinggir rel kereta api.

Begitu halnya dengan kita. Kita tak bisa lagi memaklumi pandangan radikalisme hanya karena ia terlihat begitu alim dan taat. Terlihat begitu meyakinkan karena membawa-bawa nama Rasulullah. Tapi tafsirnya bisa begitu beringas. Brutal melindas siapa saja yang berbeda haluan.

Perang sudah ditabuhkan para teroris dari Surabaya. Kita mungkin tak bisa angkat senjata. Tapi kita masih bisa menjaga timeline agar bersih dari orang-orang gila yang mengharapkan surga dengan cara-cara hina.

Surabaya memanggilmu untuk bergerak. Bersihkan timeline dari para radikal. Suroboyo wes dadi medan perang. Nek koen sek mbidek ae, mungkin awakmu keturunan intel pengkhianat informan Belanda dan sekutu.