Surabaya dan Malang tidak hanya eyel-eyelan di lapangan sepak bola maupun tribun suporter lho, Rek. Kedua kota besar di Jawa Timur ini setidaknya sudah 5 tahun lebih juga saling hajar di arena yang positif, yaitu pengelolaan lingkungan di daerah tingkat dua.

Hal itu umumnya menjadi ajang gengsi antar kota antar provinsi di seluruh Indonesia. Dan, bagian pentingnya adalah kegiatan adu kelola lingkungan tadi diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Laiknya Piala Dunia, cabang pengelolaan lingkungan ini memperebutkan banyak penghargaan dan piala, tapi yang paling bergengsi adalah Adipura Kencana. Koen-koen kabeh pasti tau ndelok onok tugu kotak koyok tepak nang tengah dalan, sing nandi ae onok? Nah, itu namanya Tugu Adipura.

Umumnya pada badan tugu tersebut tersemat tahun di mana sebuah kota/kabupaten mendapatkan penghargaan tersebut. Tapi, mari kita kembali ke dua kota kebanggan Jawa Timur ini.

Surabaya, adalah juara bertahan Adipura Kencana tahun 2018, di mana Surabaya menjadi satu-satunya peraih Adipura Kencana di tahun itu. Dan tentu saja, ini tidak lepas dari “Lionel Messi”-nya Surabaya, yaitu Bu Risma. Wong sitok iki ncen mashooook polll, loss gak rewel pokoke.

Bu Risma ini setidaknya sejak tahun 2013 selalu membawa Piala Adipura Kencana yang luhur itu untuk pulang ke Surabaya, tapi yo gak dalam bentuk tugu langsung rek yo tulung. Ncen, Bu Risma adalah walikota Surabaya sing Greatest of All Time, koyok Messi wes pokoke.

Banyak environmental development yang dilakukan Srikandi kelahiran Kediri itu, salah satunya adalah pengelolaan sampah botol plastik menjadi tiket bus yang konon inovasi ini hanya ada di Surabaya, SAK NDUNYO 1!1!1!

Bahkan di edisi terakhir penghargaan Adipura yang digelar pada 14 Januari 2019 lalu, Bu Risma juga mendapatkan penghargaan khusus yaitu Nirwasita Tantra atau Green Leadership Award untuk kali ketiga. Penghargaan ini diberikan kepada kepala daerah yang memiliki pemahaman dan aktualisasi diri melalui jabatan eksekutifnya terhadap isu-isu lingkungan.

Tidak hanya itu, penghargaan ini juga ditujukan bagi para kepala daerah yang secara proaktif menciptakan inovasi dan tindakan nyata dalam permasalahan lingkungan hidup. Maka dari itu, atas inovasi membayar tiket bus dengan sampah botol plastik tadi, Bu Risma diganjar dengan penghargaan ini.

Prestasi itu juga ditambah dengan penghargaan adipura baru yaitu Kinerja Pengurangan Sampah 2018. Ini dikarenakan inovasi terkait sampah botol plastik tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk Surabaya pasca pemerintahan Bu Risma nanti hiks hiks hiks…

Terhitung sudah 5 tahun sejak Surabaya senantiasa mendapat Adipura Kencana dari tahun 2013 hingga tahun 2018―khusus untuk 2016, penghargaan itu dinamakan Adipura Paripurna, dan Surabaya tetap meraihnya. Ancen masiyo ganti jeneng ta yoopo lek ncen jodo yo ketemu maneh.

Serunya adalah, Kota Surabaya dan Malang sama-sama menerima Adipura Kencana dalam beberapa tahun yaitu tahun 2013, 2014, dan 2017. Ngeri gak doloorr??? Kesangaran Surabaya ini tak lepas dari bertambahnya zona hijau dan adanya maksimalisasi Ruang Terbuka Hijau. Perindang di jalan-jalan utama juga nampak bertambah, dibanding biyen…

Nah, untuk Kota Malang yang sedari zaman embuh langganan Piala Adipura dalam berbagai kategori, khusus tahun 2018 kemarin malah hanya mendapatkan plakat adipura untuk kategori sarana terminal terbaik. Hal itu membuat Wali Kota Malang sedih.

Lhah yoopo Yth. Bapak Sutiaji gak sedih, Rek. Tahun sebelumnya, Kota Malang sudah berhasil meraih Piala Adipura Kencana. Saat itu, Piala Adipura Kencana diarak dengan bangga oleh Wali Kota Malang sebelumnya, yaitu Abah Anton.
Setahun kemudian, Kota Malang kehilangan walikota dan 45 anggota DPRD-nya akibat OTT KPK, hehehehe, mashooook Lur.

“Prestasi” itu juga masih diimbuhi dengan Bupati Malang dan Wali Kota Batu. Sebuah downgrade, Pemirsaaa. Tapi, sebagai insan kelahiran Malang, saya lebih bangga dengan OTT KPK hehehe…

Kemunduran pengelolaan lingkungan di Kota Malang ini bisa jadi disebabkan berbagai macam faktor. Baik dari segi pemerintahan serta birokrasi antar dinas terkait yaitu Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kebersihan dan Pertamanan, dan juga Dinas Pekerjaan Umum. Hal ini terlihat dari bagaimana kondisi jalan raya dan separator di Kota Malang saat ini.

Jika Anda masuk Malang dari arah Singosari menuju Blimbing kemudian ke arah Soekarno-Hatta, maka sepanjang Jalan Borobudur akan melintang separator berwarna alami cor-coran dan pot-pot tanaman berukuran jumbo juga dengan warna yang sama. Shade ini cukup suram jika dibandingkan dengan bagaimana Ijen Boulevard yang sedemikian gonjreng.

Tidak hanya itu, kondisi aspal di dalam kota pun cukup memprihatinkan. Sampai-sampai muncul gerakan #Ajorji di Twitter yang secara lucu melaporkan kerusakan jalan. Tagar itu pun lambat laun menjadi cara warga Malang mengadu atas permasalahan yang hadir di kota yang saat ini konon bisa bersuhu 14°C di tengah malam itu.

Permasalahan air PAM hingga listrik juga menjadi keluhan yang lazim dirasakan warga, namun permasalahan kondisi jalan raya adalah yang utama. Tidak usah jauh-jauh, sejak memasuki gapura Kota Malang selepas Karanglo menuju Flyover Arjosari, Anda semua sudah disambut dengan aspal gronjal, Lur.

Belum lagi di kawasan-kawasan seperti Jalan Gayajana hingga Jalan Galunggung. Bahkan Jalan Veteran yang berada di kawasan pendidikan dan perbelanjaan pun tak lepas dari aspal njeglong ini.

Kesimpulannya, dua kota besar ini bisa jadi sedang bertukar nasib. Dahulu kala, Malang adalah kota sejuk, kota bunga, dan kota wisata yang suanteee shayaang. Dan tentu, Surabaya identik dengan kota yang sumpek dan sumuk, belum lagi kalau Anda kesasar di dalam DTC pas lagi nemenin yangmu belanja. Langsung mumet wes, yo gara-gara saking mbulete, ambek banter gelute.

Nah, seiring berjalannya waktu dan pergantian wali kota, maka kondisi dan anggapan stereotip itu pun berangsur bergeser. Memang sih Surabaya gak bakal gak sumuk, tapi Bu Risma melalui kebijakannya terhadap lingkungan mampu menargetkan bahwa suhu Surabaya bisa turun, bahkan lebih rendah dari Malang. Ini perlu kita tunggu, karena Malang pun kini semakin panas dan sumuk.

Yok opo, menurutmu, sopo sing bakal menangno pertandingan iki? Sing jelas, iki gak bakal nggarai ono tawuran antar suporter, hehehe…