Assalamualaikum ya Akhi, ya Ukhti. Semoga anthum sekalian sehat selalu. Ana doakan semoga kita selalu dekat dengan kebaikan dan dijauhkan dengan keburukan. Tidak lupa ana berharap anthum sekalian mendoakan pemimpin kita, Sultan Recep Tayyip Erdoğan agar selalu sehat. Supaya beliau bisa mewujudkan lingkungan yang damai di bawah khilafah sedunia.

Afwan, ana menulis ini bukan bermaksud menggurui, tapi hanya sekedar memberikan saran. Which is, bukan sesuatu yang wajib diikuti. Tapi jika ini sekadar mengingatkan kejadian mengejutkan yang baru-baru ini ada di Probolinggo.

Ana demikian terkejut, bergetar tubuh ana, dunia seperti mau runtuh, Dajjal seolah muncul dari segitiga bermuda. Perasaan sedih menaungi, sama seperti perasaan ana ketika kanda Harun Yahya ditangkap Sultan Erdogan. Kekecewaan yang begitu mendalam.

Pasalnya di Indonesia, negara yang sebentar lagi akan tunduk di bawah khilafah sedunia, telah terjadi pendangkalan akidah yang luar biasa.

Bagaimana tidak kecewa dan sakit hati ana. Melihat anak-anak perempuan yang hampir matang untuk dinikahi, diajak merayakan hari ulang tahun republik taghut dengan menenteng senjata. Ya, senjata. Perempuan diajarkan untuk berperang. Kurang ajar betul. Siapa yang mengajarkan ini? Ini adalah pendangkalan akidah, perusak ukhuwah, dan yang pasti produk pendidikan komunis liberal.

Bukankah kanda guru ustad Felix Siauw dulu pernah bercerita. Beliau tidak mau punya istri yang kuat, tidak berkehendak perempuan mandiri, lha ini kok malah dipersenjatai. Malah dengan berani-beraninya menggunakan nama Rasulullah.

Masak merayakan perang bersama Rasulullah saat ulang tahun Republik Indonesia? Bukankah yang tepat itu dirayakan bersamaan dengan ulang tahun Sultan kita Erdogan?

Jangan kita bangga anak perempuan bisa jadi profesor, jadi ilmuan, atau jadi peraih medali emas dalam even Asian Games. Buat apa? Paling benar kata Kanda Ustad Felix Siauw. Tugas perempuan ya tunduk sama suami, tak usah pintar atau kuat-kuat amat.

 

Ana kecewa sekali dengan akhi dan ukhi yang ada di Probolinggo sana. Bagaimana bisa meloloskan acara semacam ini? Semestinya anak-anak perempuan kita dilatih untuk tinggal di rumah, kalau bisa memakai rantai, diajari cara melayani suami, seperti saudara-saudara kita di ISIS sana, yang sedang berjihad. Lha ini kok malah diajari nenteng senjata, parade di tengah jalan.

Bagaimana nanti kalau anak-anak perempuan ini mikir kalau mereka punya hak setara dengan anak laki-laki? Bagaimana kalau nanti anak-anak ini tumbuh dengan ide bahwa mereka sebagai perempuan bisa meraih apa yang diraih laki-laki? Awalnya mereka minta diijinkan pergi ke luar rumah, nanti lama-lama mereka minta diberikan hak yang sama dengan laki-laki.

Naudzubillah, jauhkan pahal komunis liberal yahudi ini dari hidup kita.

Ana berharap insiden seperti janganlah terulang kembali. Kita perlu mendidik anak-anak perempuan kita sesuai pandangan yang benar. Misalnya seperti poster pedagang jilbab Rabbani, jangan sampai anak kita pakai rok mini, nanti mereka susah berprestasi. Coba lihat Jepang, Korea, dan Swedia, negara-negara itu hancur karena anak perempuan mereka pakai rok mini.

Jangan pula kita bangga anak perempuan kita bisa jadi profesor, jadi ilmuan, atau jadi peraih medali emas dalam even Asian Games. Coba anda lihat peraih emas negara thagut Indonesia kebanyakan perempuan. Buat apa meraih prestasi dunia kalau akhirat tidak tercapai? Semuanya akan sia-sia belaka. Paling benar kita ikuti teladan Kanda Ustad Felix Siauw, tugas perempuan ya tunduk sama suami, tak usah pintar atau kuat-kuat amat.

Untuk itu ana mendorong para ibu untuk mempersiapkan anak-anak mereka mulai dari playgroup, TK, sampai SD untuk menjadi pengantin. Bukan pengantin bom bunuh diri, tapi pengantin untuk menikah. Seperti yang kita ketahui di Indonesia umur 16 tahun anak perempuan sudah bisa menikah. Ini kan salah, harusnya umur 12 tahun. Kita bisa meneladani Syekh Puji dan pernikahan anak yang ada di Sulawesi.

Ana berharap daripada berzina, kan lebih baik dinikahkan. Lulus SD menikah, biar nanti SMP sudah ada yang membiayai. Ana berharap negara ini bisa menurunkan standar usia lebih rendah lagi, supaya bisa melawan Zina, yang perlu didorong adalah menikah muda, bukan dengan memberikan akses pendidikan, prestasi, dan kemajuan bagi anak-anak.

Lagian buat apa anak perempuan pintar kalau nggak bisa dinikahi muda? Udah putusin aja.