Jika kamu ingat kisah Nabi Musa dan umat Yahudi yang dipimpinnya, mungkin kamu akan merasakan bagaimana rasanya memimpin umat bebal. Misalnya saat diperintah untuk menyembelih sapi betina, si umat bebal tadi menawar, usianya berapa? Warnanya apa? Dan sebagainya dan sebagainya.

Dalam tradisi islam, umat-umat bebal dan males berpikir ini kerap hadir sebagai ujian bagi para nabi dan rasul. Nabi Nuh yang ditertawakan umatnya karena membangun kapal di gunung. Nah dalam tradisi biblikal, contoh paling baik digambarkan dalam film Ten Commandments.

Kamu akan melihat bagaiman frustasinya nabi Musa. Ia naik ke bukit sinai untuk memperoleh wahyu, sebelumnya ia memerintahkan umatnya untuk bersabar, jangan kembali nyembah sapi, atau bahkan melakukan larangan.

Tapi kamu tahu apa yang umat Musa lakukan? Begitu nabi hilang, mereka membuat patung sapi, berpesta dan melakukan larangan yang telah diperintahkan. Dalam Ten Commandements, Musa yang marah membanting 10 perintah dan menghancurkan berhala.

Mentang-mentang mayoritas pasang speaker sebanyak-banyaknya, lalu ngatain mereka yang protes sebagai setan yang ngga suka azan.

Mentang-mentang mayoritas pasang speaker sebanyak-banyaknya, lalu ngatain mereka yang protes sebagai setan yang ngga suka azan.

Di Indonesia umat-umat bebal dan keras kepala semacam ini ada. Misalnya, saat diminta (diminta ya bukan diperintahkan) untuk melakukan perbaikan dalam tata kelola suara di masjid dan musola, sebagian manusia yang susah berpikir ini malah menantang balik seruan baik itu.

Kita tidak bisa melawan orang-orang keras kepala ini dengan kekerasan. Kita perlu mengajak mereka bertemu, lantas mengajarkan bahwa untuk bisa dihormati, anda perlu menghormati. 

Kamu juga tidak akan bisa melawan mereka dengan perdebatan. Mendebat orang debil dan bebal hanya akan membuat kamu malu. Mereka punya ratusan pengalaman berdebat tanpa logika, sementara kamu harus terus menerus berpikir dengan premis-premis yang rapi sebelum membuat kesimpulan.

Di Eropa kini sedang menjalar kebencian terhadap imigran muslim. Orang-orang ini dituduh sebagai perusak bangsa, padahal ya nggak semua imigran jahat. Belakangan ketahuan bahwa orang yang dilabeli imigran ternyata pengungsi perang Syria.

Di Indonesia muslim bisa belagak seenaknya karena mayoritas, sedangkan muslim di Eropa harus mati-matian menuntut hak dan bekontribusi positif agar eksistensi mereka dihargai.

Banyak muslim di Indonesia marah dan mengutuk perlakuan pemerintah eropa yang dianggap diskriminatif terhadap umat muslim di sana, tapi kok ya di sini malah melakukan serupa pada yang minoritas. Ini kan mental yang buruk, mentang-mentang mayoritas seenaknya.

Mentang-mentang mayoritas pasang speaker sebanyak-banyaknya, lalu ngatain mereka yang protes sebagai setan yang ngga suka azan.

Gini deh kalo emang suara azan itu cuma mengganggu setan dan manusia dengan hati setan. Coba kamu pake azan pake toa di telinga bayi, Bayi kan masih suci, jauh dari najis dan yang jelas belum bisa mendukung Jokowi. Kalo dia nangis, artinya bayi itu setan, kalo tidak, berarti emang azan itu memuliakan hati manusia yang baik.

Menteri Agama memerintahkan masjid untuk menggunakan toa dan pengeras suara sebaik-baiknya. Selain untuk panggilan sholat dan ibadah, sebaiknya pengeras suara tak digunakan. Lha kok kemudian diterjemahkan sebagai “setan yang terganggu suara azan?” Ini maunya apa?

Apakah menteri agama sama dengan musa? Ya jelas tidak, Lukman Saifudin bukan nabi apalagi rasul, tapi ia menganjurkan yang baik. Perintah ibadah sebaiknya sesuai kaidah fiqih, ibadah boleh, tapi ibadah bisa jadi dosa kalau itu menganggu dan mengambil hak orang lain.

Membaca Qur’an itu ibadah, berdakwah itu ibadah, tapi ingat jangan sampai kamu menginjak hak orang lain hanya karena kamu ingin baik di mata Allah. Saya yakin bahwa orang yang tak punya capaian, pikirannya cetek, dan bebal, akan mudah tersinggung pada hal-hal sepele.

Soal volume azan yang terlalu bising semestinya bisa diselesaikan secara bermartabat sebagai manusia berpikir, bukan berlagak bengis dengan membakar dan menghancurkan rumah.

Tapi pernahkah kita berpikir dan mencari tahu, bagaimana kanjeng nabi menghadapi sebuah masalah?

“Dari Abu Said, ia bercerita bahwa Rasulullah SAW melakukan itikaf di masjid. Di tengah itikaf ia mendengar mereka (jamaah) membaca Al-Quran dengan lantang.

Rasulullah kemudian menyingkap tirai dan berkata, ‘Ketahuilah, setiap kamu bermunajat kepada Tuhan. Jangan sebagian kamu menyakiti sebagian yang lain. Jangan juga sebagian kamu meninggikan atas sebagian lainnya dalam membaca.’ Atau ia berkata, ‘dalam shalat,’” (HR Abu Dawud).

Perintah kebaikan semestinya dipikirkan dengan baik, bukan malah menantang dengan pemberontakan. Nabi pernah menegur orang yang membaca Qur’an karena suaranya terlalu lantang, apa ya kamu mau nantang kanjeng nabi dengan masang speaker di depan mukanya?