Inilah pertama kali aku menginjakkan kakiku di Surabaya. Kota yang katanya menyimpan banyak misteri.

Ah, menurutku semua kota pasti punya misteri tersendiri.

Sama saja seperti kota yang kutinggali, Jakarta. Mulai dari Terowongan Casablanca yang katanya anker, mall besar di pusat kota yang katanya banyak pesugihannya, belum lagi tempat pemakaman umum yang punya hantu legendaris pembawa kepala itu.

Ya, aku bisa melihat mereka semua. Mereka yang kalian sebut hantu.

Oke, lanjut di Surabaya. Ternyata macetnya hampir menyamai Jakarta. Pengap dan panas udaranya juga sama.

Aku nggak punya itinerary  khusus di kota ini. Aku hanya akan ikut dan nurut sama adik sepupuku yang tinggal di sini.

Awalnya kami mengantar suamiku yang harus bekerja. Lalu aku diajak makan siang. Sepanjang jalan tidak ada hal aneh yang aku lihat, hanya beberapa pengemis jalanan dan seorang anak muda yang duduk di depan tempat kami makan.

Aku pastikan dia bukan manusia. Karena wajahnya pucat, di pelipis kanannya ada luka terbuka panjang ke arah kepala. Tentunya aku melihat dengan darah yang segar mengalir dari luka itu.

Takut?

Jelas lah aku takut. Aku juga manusia, tapi kayaknya dia hanya lewat saja. Matanya menatap bingung ke segala arah, seperti mencari sesuatu, lalu menghilang.

Lalu kami bingung mau kemana. Sampailah tercetus ide “ke museum aja, deh”, sahutku kepada Anin, adik sepupuku. Dia pun memutar otak mencari Museum yang menarik untuk dikunjungi.

Lalu pilihan jatuh pada salah satu museum milik pemerintah.

Yang namanya museum, nggak akan jauh dari benda-benda lawas dan kuno. Aku memasuki parkiran mobil yang sangat sepi.

“Yah, namanya juga museum pemerintah, Mbak. Seadanya gitu deh, masuknya juga murah kok”. Jelas Anin kepadaku.

Ada orang yang duduk di atasnya. Menunduk lesu ketika aku melihatnya. Ia memakai baju rumah sakit berwarna hijau.

Anin memang mungkin nggak bisa membaca raut wajahku, apalagi membaca pikiranku. Di kepalaku mulai tersirat “bangunannya tua gini. Horor deh pasti”. Namun, aku terus melangkah masuk bersama Anin.

Kami pun membeli tiket masuk seharga Rp 1.500. Lalu masuk ke bagian awal museum. Masih sangat aman, walaupun memang pengunjungnya hanya kami berdua.

Di ruangan pertama ada cerita tentang pemilik museum.

Masuk ruangan kedua, mulailah ada barang-barang kuno yang dulu digunakan untuk keperluan medis. Mulai dari alat suntik, alat operasi, sampai aku pun masuk lebih dalam lagi ke museum itu.

Ada mesin untuk cuci darah, dan surprise!  Ada orang yang duduk di atasnya. Menunduk lesu ketika aku melihatnya.

Ia memakai baju rumah sakit berwarna hijau, tapi ada darah keluar dari lubang di tubuhnya. Dari mata, telinga, mulut, dan hidung.

Seketika juga aku ingin keluar dari ruangan itu, tetapi aku masih berusaha untuk tenang.

“Nin, pintu keluarnya mana?” tanyaku kepada Anin yang sedang sibuk mengambil gambar.

“Harus memutar lewat belakang dulu, Mbak Ay. Baru nanti pintu keluarnya di samping.”

“Oh, ya udah, yuk” aku pun menarik tangan Anin untuk segera pergi dari ruangan itu.

Nggak berhenti di ruangan itu, aku mulai mencium bau anyir darah ketika masuk di tempat peralatan aborsi.

Aku bahkan bisa melihat sosok seorang perempuan yang duduk di kursi sambil menangis dan meminta tolong.

Suaranya lirih terdengar, meminta tolong berulang-ulang, tetapi wajahnya tertutup rambut panjang yang menjuntai sampai ke lantai.

Di tangannya, perempuan itu memegang seonggok janin yang sudah cukup besar. Aku ingin muntah rasanya. Dan segera berlari ke ruangan selanjutnya.

Aku disambut oleh sepasang suster dan pasien yang berlalu lalang menggunakan kursi roda. Mereka tampak tidak peduli denganku saat itu.

Aku mengambil jalan yang sebelah kanan untuk menghindari mereka. Anin sepertinya mulai menyadari perubahanku.

“Mbak Ay, lihat apa?”

Aku nggak menjawab Anin. Aku hanya menatapnya dan berkata dalam hati “Aku mau keluar dari sini!” 

Anin seolah mengerti. Dia pun mengambil tanganku untuk berjalan lebih cepat ke pintu keluar. Aku nggak berani lagi menoleh ke belakang.

Jarak 5 meter ke pintu keluar terasa sangat jauh.

Ketika hampir mencapai pegangan pintu. Aku menoleh ke belakang. Di belakangku tampak mereka menggunakan seragam pasien berewarna hijau, melayang ke arahku dan Anin.

Aku langsung membuka pintu dan keluar. Kali ini aku yang menarik tangan Anin agar segera keluar dari museum itu.

“Anin, ayo, pulang” ajakku ketika aku sudah merasa aman.

“Mbak Ay nggak apa-apa?” Anin lalu mengikutiku berjalan dan membuka kunci pintu mobil.

“Nggak apa-apa. Mereka nggak akan bisa keluar dari ruangan itu.” Tanpa sadar aku mengucapkan itu kepada Anin.

“Tuh kan. Mbak Ay pasti lihat yang aneh-aneh, deh. Kenapa nggak bilang sih? Kan jadi kita bisa cepat keluar dari sana”.

“Udah nggak apa-apa, kok.” Aku sudah duduk tenang di dalam mobil.

Kami pun keluar dari komplek museum itu dengan diam. Aku masih memikirkan, tempat itu pasti bukan sekadar museum sebelumnya. Lalu Anin pun mulai bercerita.

“Dulu, museum itu katanya sempat jadi rumah sakit khusus kelamin. Ya, namanya juga rumah sakit. Pasti banyak yang meninggal di situ.”

“Oh, pantas aja banyak pasien masih berkeliaran”.

“Ha ha ha, ya, pasti banyak lah. Mungkin itu pasien yang pada meninggal di sana”

“Iya juga, sih. Ditambah lagi peralatan medis lawas di sana. Makin banyak memori mengerikannya”.

“Mbak Ay mau ke tempat horor lagi nggak?”

“Udah gila kamu, Nin,” sahutku sambil menggelengkan kepala.

“Mumpung di sini loh. Mau ya ya ya? Please….

Aku memutar mataku lalu mengangguk tanda setuju, “Tapi janji, ya. Nggak seserem yang ini tadi. Aku tinggal kamu kalo seserem museum tadi”.

“Asyik, masih ada dua hari lagi di sini. Aku akan ajak Mbak Ay jalan-jalan deh biar happy”.

Aku nggak mungkin mempercayai Anin. Muka jahilnya menjelaskan semuanya. Dia pasti akan membawaku berkunjung ke tempat-tempat penuh misteri lain di Surabaya.

“Happy, ya? Happy kan? Awas, ya, kalau kamu jahil”.

Anin tersenyum sambil menuliskan sesuatu. “Pasti happy, lah. Nih, aku udah catat tempat-tempatnya”.

Aku melihat catatan tempat-tempat yang diberikan Anin. “Apaan ini? 6 tempat? Aku cuma dua hari loh di sini”.

“Justru itu. Dare to join the adventure?”  Anin baru saja menantangku.

“Kita lihat siapa yang ketakutan duluan, ya? Nanti aku panggil semuanya biar gangguin kamu”.

“Ih, kok jahat sih? Nggak mau kalau gitu”.

Aku hanya tertawa melihat Anin yang merengek ketakutan. Padahal pada petualangan berikutnya bisa saja…. Ah, sudah lah.

Kita lihat saja nanti apa yang akan aku temui dan aku alami selama liburan singkat ini. Aku yakin pasti ‘berkesan’.

Bersambung