Entah apa yang ada di benak Bu Mamik ketika membuka panti pijat kala itu pada tahun 1996. Mengapa dia memilih bertetangga langsung dengan macan yang dalam hal ini adalah kantor polisi? Mau ngece pak polisi apa piye?

Soalnya kan tentu bisa diterkam kapan aja gaess. Bahkan dalam sekali lompatan saja bisa diterkam dan tidak bisa lepas lagi.

Tapi entah kenapa, sang macan tersebut tidak segera menerkam. Bahkan selama puluhan tahun. Apakah dia lagi mager atau kekenyangan, kita tidak tahu.

Bisa saja, Bu Mamik -pemilik panti pijat tersebut- memahami betul pepatah kuno lama. Jika hendak aman, kita harus bersembunyi di kandang macan.

Memang sih ruko Bu Mamik tidak langsung berada dalam satu kandang atau satu pagar dengan macan. Tapi boleh dikatakan, masih satu area. Yaitu, area kekuasaan sang macan.

Pria yang suka “njajan” pasti sudah tidak asing lagi dengan panti pijat atau pitrad Bu Mamik di Ruko Barata Jaya. Lokasinya tepat berada di belakang kantor Polsek Gubeng dan masuk wilayah Kecamatan Gubeng.

Selain berdekatan dengan kantor polisi, lokasinya memang cukup strategis. Yaitu, diapit Terminal Bratang dan pasar burung.

Tapi entah kenapa, sang macan tersebut tidak segera menerkam. Bahkan selama puluhan tahun. Apakah dia lagi mager atau kekenyangan, kita tidak tahu.

Jadi, tempatnya memang sangat mashook sekali. Salah satu wilayah pusat lalu-lalang di Surabaya bagian timur.

Boleh dibilang sebagai tempat berkumpulnya lanang sejagat. Dikatakan demikian karena yang hobi ke pasar burung pasti bapak-bapak. Soalnya kalau emak-emak, tujuannya pasti ke pasar sayur.

Kemudian tempat berkumpulnya para sopir. Ratusan sopir di Terminal Bratang adalah pria. Ga ada sopir wedok bro, seumur-umur aku lalu-lalang di sana.

Namun, setelah 22 tahun buka, pitrad Bu Mamik akhirnya tamat juga. Empunya atau Bu Mamik selaku pemilik langsung ditangkap dan ditahan polisi saat ini.

Bu Mamik ternyata hanya mampu bertahan dua dekade tanpa tersentuh polisi. Kalau sampai tiga dekade, mungkin dia layak mendapatkan rekor muri. Germo yang paling lama bertetangga dan akur dengan Silup.

Tentu yang melakukan penangkapan bukan kantor polisi tetangga (Polsek Gubeng), melainkan Polrestabes Surabaya gaess. Kalian yang hobi ke sana tidak usah macak sedih gitu. Ndang nikah beneran.

Namun, banyak pertanyaan dari warga maupun arek-arek mazhab ndramus, kok baru digerebek sekarang ndan? Kenapa tidak sejak awal buka atau berbarengan dengan ditutupnya Dolly? Saat itu kan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengumumkan perang terhadap segala bentuk prostitusi di Surabaya.

Setelah buka selama 22 tahun, tentu tempat pitrad Bu Mamik boleh dibilang legendaris. Sebagai salah satu tempat Puskesmas (Pusat Kesenangan Mas-Mas), sudah tidak terhitung berapa pria galau yang berobat ke sana melawan kesumpekannya.

Mulai saya SD, SMP, SMA, kuliah, kuliah gak lulus-lulus, sampai akhirnya lulus dan nyambut gawe saiki.

“Kami mendapati informasi dari masyarakat yang menyebutkan adanya praktik prostitusi di sana,” ujar Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni, saat Press Release, Rabu (19/9).

“Setelah dilakukan penggerebekan, kami temukan 17 terapis yang sedang melayani tamu dan 14 di antaranya sudah melayani tamu pada hari itu,” imbuh Ruth.