Sudah mandi, sudah salat. Segar rasanya pikiran. Bismillah, kali ini saya akan memulai tulisan perdana saya untuk DNK.id, Gaes. 

Memang diperlukan pemikiran yang agak mendalam untuk persoalan yang satu ini. Tapi yo ojok serius-serius banget. Hehe.

Parkir liar dan ngawur. Masalah sehari-hari yang kita hadapi. Terlihat sepele tapi ya kadang menjengkelkan. Dari pada mbatin terus dan rasan-rasan mending ya saya ungkapkan saja dengan tulisan ini.

Cuk… baru-baru ini saya hampir saja kena palak secara halus oleh tukang parkir gak jelas. Untungnya setelah otot-ototan, saya menang. Tukang parkirnya ciut nyali. Tapi kalau yang mbahnya preman biasanya berani.

Ceritanya, ketika itu ada Timnas U-19 latihan di lapangan futsal tengah kota Sidoarjo. Karuan saja banyak masyarakat yang menonton. Adik-adik yang terlihat unyu ini banyak digandrungi terutama oleh penggemar perempuan.

Ketika ada Egy Maulana Vikri dan Hanis Shagara keluar lapangan banyak gadis-gadis yang kemudian mengerubutinya. Itu hanya sekadar untuk selfi.

Alamak! Seandainya saya dulu jadi pemain bola tentu nasib saya akan seberuntung Egy dan Hanis. Dikerubuti cewek-cewek cantik. Tapi nasib berkata lain sehingga mengantar jadi wong biasa.

Jika jukirnya ngotot minta uang,  kita bisa ancam. Silakan terima uang ini laporkan polsek terdekat dengan pasal pemerasan.

 

Nah, sepulangnya dari lapangan ini pikiran sudah agak kalut. Maklum lihat dompet menipis. Padahal masih tengah bulan, haha.

Waktu mau ke luar dari area lapangan ini tiba-tiba tukang parkir dengan enaknya meminta uang Rp 5.000. Tentu saja saya kaget bukan main. Makmu kiper tah!

Tukang parkir yang rambutnya semiran ini langsung saya bentak: woy kamu mau malak yah!

Dengan sekali bentakan saja rupanya jukir gak jelas tadi ciut. Apalagi sebelumnya dia tidak memberikan karcis. Tapi dia sempat terdengar nyerocos, “Gae setoran bos.”

Ya gak kesuwen langsung saja saya tantang begini. Siapa bosmu? Dan tahu gak peraturan daerah tentang jasa retribusi khususnya parkir?

Ya, untuk parkir ini jukir tidak bisa menarik senak udelnya. Setiap daerah sudah memiliki standar harga masing-masing. Misal Surabaya yang masih Rp 2.000 dan kemudian daerah pedesaan di kabupaten yang masih ada juga Rp 1.000 atau bahkan 500.

Namun, jika jukirnya masih ngotot minta uang kita bisa kasih ancaman serius kepada dia. Silakan terima uang ini dan kemudian laporkan kepada polsek terdekat dengan pasal pemerasan.

Saya yakin jukir itu akan mundur dengan teratur. Tapi kalau memang dia menerima uang kita, uang tersebut bisa jadi barang bukti nantinya. Di mana untuk memenuhi unsur pidana memang minimal harus ada dua alat bukti. Dan tinggal cari satu barang bukti lagi bro.

Memang sih kalau dipikir uang ribuan aja ngapain dimasalahkan? Pelit amat ente bro?

Tapi kan sekali lagi, ini menyangkut dengan aturan yang sudah ada. Yang sama-sama mengenakkan bagi pihak pemarkir dan juga tukang parkirnya.

Dari pada dikasih ke tukang parkir mending uang ribuan dimasukkan ke kotak amal di masjid. Jelas penggunaanya dan dapat pahala lagi.

Sekalian juga kita memberikan pelajaran kepada tukang parkir yang mokong itu. Bahwa tidak semua masyarakat bisa kamu minta uang seenaknya. Kalau ketemu yang ngerti hukum ya bisa panjang urusanmu pak jukir.

Umum juga nih, sedikit curhat. Kita kalau ke mini market tentu akan memilih yang tidak ada penjaga parkirnya.

Karena meskipun banyak mini market bertuliskan parkir bebas, tapi faktanya jebakan betmen bro. Tiba-tiba tukang prit ini muncul dari tempatnya yang tersembunyi.

Lagi-lagi mbatin. “Nggateli. Cuma beli minum air mineral Rp 2.000 parkirnya bayar Rp 2.000.”

Pak Jukir, kita sesama wong cilik diharapkan saling simbiosis mutualis dalam berhubungan. Bukan menaikkan harga seenaknya. Dengan alasan malam minggu lah atau yang lainnya. Wassalam!