Memang lho yha kebutuhan untuk mabuk ini levelnya sudah mbuh begitu. Lha gimana. Apapun dilakukan biar bisa mabuk. Kalau minuman kurang keras, ditambahi berbagai macam bahan-bahan kimia. Termasuk obat nyamuk. Demi cepet mumbul. 

Ya nggak apa-apa sih kalo situnya memang menjadikan mabuk sebagai kebutuhan pokok. Namanya juga pililhan. Tapi bijimana kalau saking nggethu pengen mabuk itu sampai bikin yang bersangkutan wassalam!

Padalan lho ya beberapa bulan lalu, tepatnya bulan April, ada 15 orang tewas di Surabaya akibat miras oplosan. Eh, gak kapok-kapok sikan arek-arek iki ternyata. Minggu (19/8), tiga orang tewas gara-gara pesta miras oplosan. 

Jika ditotal, sudah ada 18 orang tewas akibat miras sepanjang tahun ini. Dan jumlah itu masih dimungkinkan bisa bertambah mengingat tidak semua kasus dilaporkan. Lagian siapa yang mau melaporkan sanak, saudara, atau teman yang tewas gara-gara ngombe Autan! Hadehhh!

Kira-kira akan sampai jatuh korban berapa lagi akibat sok-sokan jadi bartender oplosan ini yha? Ya nggak tahu. Mungkin sampai ditemukan formula mabuk baru yang lebih aman, murah, dan cepat tanpa efek samping seperti tidak pusing, tidak ndleming, dan tetap sadar.

Yha, namanya bukan mabuk mz. Ngombe es blewah ae nek ngunu!  

Sek bijim, Rek. Tiga korban miras oplosan ini, Riko Yakub, Andik Kristanto, dan M Fendi Pradana, apa ya mikir. Kan jelas-jelas sudah ada 15 orang koit akibat oplosan pada April lalu. Belum termasuk yang masih hidup tapi harus buta seumur hidup. Kok ya masih nekat. Apa maksudnya itu ingin membuktikan sendiri gitu?

Mereka yang tewas ini didahului dengan gejala sesak nafas hingga akhirnya sama sekali tidak bisa bernafas. Mereka yang meninggal dengan cara demikian diduga keracunan metanol dan etanol dalam tubuh. Sebab, miras yang dikonsumsi didominasi oleh alkohol murni.

Miras oplosan antara alkohol dengan air biasa tersebut masih ditambah lagi. Aneh-aneh bahan yang dimasukkan. Mulai dari obat sakit kepala hingga lotion anti nyamuk.

 

Sebelumnya, pihak kepolisian Polrestabes Surabaya pernah mengungkap peredaran miras ilegal ini saat ramai ada belasan korban tewas. Saat diinterogasi, pengoplos ternyata hanya mencampuri alkohol murni dengan air biasa saja. Tanpa ada tambahan bahan apapun lagi.

Maka wajar jika kandungan racun dalam miras ilegal tersebut tinggi. Sebab, tanpa ada pengawasan dari BPOM dan juga yo sak karepe yang ngoplos. Pengoplos mikirnya yang penting laku keras dan konsumen senang jika mabuk.

Kalau efeknya hanya mabuk biasa saja mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah koit bagaimana? Mengingat nyawa tidak tidak bisa dikembalikan. Masio sudah wadul ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), nyawa gak bisa diretur, Bosque.

Dan lagi biasanya jika sudah sampai di tangan konsumen, miras oplosan antara alkohol dengan air biasa tersebut masih ditambah lagi. Aneh-aneh bahan yang dimasukkan. Mulai dari obat sakit kepala hingga lotion anti nyamuk.

Antum mau ta ngombe jus aneka ria kimia kek gitu itu? Mau ta? Hah?

Semua itu dilakukan biar bisa cepat mabuk keras dengan dana yang minim. Tapi hasilnya malah cepat mengantar ke pintu tol akhirat. Subhanallah.

Kalau sudah demikian korban bakal merepoti orang banyak. Selain merepoti pihak keluarga juga akan merepotkan pihak kepolisian. Pihak kepolisian pasti dituntut untuk melakukan ungkap oleh atasannya.

Meskipun terlihat remeh, ternyata korban yang berjatuhan akibat miras ini ternyata lebih parah dari pada para pecandu narkoba.

Sepanjang tahun ini tidak pernah ditemui adanya kasus overdosis narkoba yang memakan korban hingga belasan orang sekaligus. Korban narkoba jika sampai meninggal bagusnya ya tidak pernah ngajak-ngajak. Tahu-tahu sudah kejang-kejang sendirian di pojok ruangan.

Beda halnya dengan minuman keras. Tewasnya bisa berjamaah sekaligus. Seperti kejadian Minggu (19/8) lalu di Meganti, Gresik.

Dan biasanya korban miras yang masih selamat saat ini biasanya mengalami stress berat. Sebab, racun miras oplosan tidak langsung berefek sehari. Tapi dua, tiga sampai seminggu setelahnya.

Racun itu tiba-tiba mengagetkan peminumnya. Padahal sehari atau dua hari usai pesta miras mereka tidak mengalami efek apapun. Masih setrong. Tapi setelah itu bisa tumbang.

Jika pengen selamat, para korban harus mendapatkan penanganan cepat. Yaitu dengan cuci darah untuk mengeluarkan semua racun dalam tubuh yang sudah teroplos tersebut. Duh, perkoro omben-omben kok iso repot ngene seh, Mz!