Berpuluh tahun silam, di sebuah desa … Badai angin dan hujan deras beserta guntur menggulung alam lewat tengah malam. Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu sedang berpeluh menahan sakit perut karena hendak melahirkan anak kelimanya.
Keluarga Sang Ibu bergumam dan berbisik-bisik satu dengan lainnya. Meskipun mereka bahagia menerima anggota keluarga baru, tapi sesungguhnya mereka berharap kelahirannya bukanlah malam itu. Sejak hari Minggu Kliwon, Sang Ibu sudah mulas, tapi terus disugesti untuk menahan dan menunda kelahiran setidaknya sampai esok lusa. Sebabnya bukan karena hujan badai beserta guntur yang terjadi hampir tiap malam, melainkan karena hari berikutnya, yaitu Senin Manis adalah weton, atau hari pasaran lahir Sang Ibu. Keluarga itu penganut Kejawen yang masih mempercayai bahwa anak yang lahir menyamai hari lahir ibunya harus dibuang dan mejadi anak orang lain jika ingin ia selamat sampai besar.
Namun, sekeras apa pun Sang Ibu menahan, bayinya tak hendak menambah sedetik pun lebih lama waktunya berada di alam rahim. Tangisnya pecah penanda ia telah masuk alam dunia, bersahutan dengan guntur yang terus bergemuruh bergulungan di langit dini hari. Bayi itu adalah seorang bayi perempuan yang berambut lebat dengan tendangan yang kuat.
Setelah disusui sebentar, dibersihkan, dan dibungkus kain yang hangat dan nyaman, bayi itu pun segera diambil dari sisi ibunya untuk dibuang. Nenek dan kakek Sang bayi membawanya ke samping rumah. Bayi merah mungil itu diletakkan di atas kandang kelinci, dilindungi dengan kain, dan diterangi dengan sebuah lampu minyak kecil. Nenek dan kakek tersebut menunggui sambil berkidung mantra keselamatan bagi Sang Bayi.
Tak berselang lama, sepasang suami istri tua berjalan beriringan dari rumah sebelah, berpayung menembus hujan deras mendekati bayi merah di kandang kelinci. Dengan penuh kegembiraan, diambilnya Sang Bayi dan ditimang-timang serupa anaknya sendiri. Kakek dan neneknya menyerahkan kain, lampu minyak, dan segala empon-empon yang berada di sekitar bayi tersebut. Dengan prosesi tersebut, resmilah sekarang bayi merah yang dibuang di kandang kelinci itu menjadi anak pasangan suami istri yang rela menembus hujan untuknya.
Tentu saja, semua itu simbolik belaka. Bayi itu kemudian dikembalikan lagi ke ibunya untuk disusui dan dirawat sebagaimana mestinya. Catatan administratif bayi tersebut tetap ikut keluarga kandungnya. Hanya saja, kemudian secara adat ia diakui menjadi anak pasangan suami istri yang memungutnya dulu. Selamanya …
Tiga puluh satu tahun kemudian, bayi yang dibuang di kandang kelinci itu telah menjadi seorang ibu satu anak yang hamil besar dan sedang menanti kelahiran anak keduanya. Bayi itu adalah saya sendiri.
Entah kebetulan atau bagaimana, saya mengalami mulas dan tanda-tanda hendak melahirkan juga di hari Minggu Kliwon, dan sedang ada hujan badai beserta angin dan guruh yang bersahutan. Saat itu sebetulnya saya sendiri kebingungan menghitung perkiraan tanggal lahir bayi saya. Jika menuruti hitungan berdasarkan HPHT (hari pertama haid terakhir) maka kelahiran bayi kedua saya seharusnya masih akan beberapa minggu lagi.
Sejak awal kehamilan, anak kedua ini memang sudah dipenuhi drama. Saya sampai tepuk jidat, apakah lahirnya pun masih harus pakai drama? Ini hujan badai, dan kendaraan yang kami miliki hanya sebentuk motor bebek. Masa iya malam-malam kami harus menembus hujan untuk ke klinik bersalin karena saya tak tahan lagi?
Tuhan Maha Penyayang. Badai hujan berhenti, dan angin berangsur menjinak. Tanpa harus merepoti tetangga atau saudara untuk dipinjami mobil, suami saya bisa membawa saya dengan aman ke klinik bersalin menggunakan motor saja. Alhamdulillah …
Sampai di klinik, saya ditempatkan di kamar rawat dulu. Saya sudah mulas melilit-lilit, tapi baru pembukaan dua. Perkiraan bayi akan lahir sekitar subuh atau sebelumnya. Selama waktu menunggu itu, saya sama sekali tak bisa tidur karena intensitas kontraksi dan rasa sakitnya sungguh aduhai.
Ini benar-benar berbeda dengan proses kelahiran anak pertama yang santai dan sangat lancar. Proses kelahiran kali ini lebih panjang, lebih sakit, lebih melelahkan. Tapi akhirnya tangis bayi kedua saya pecah seiring kumandang azan subuh di masjid depan klinik. Teriakan saya ketika mengejan beradu keras dengan toa masjid. Saya sampai berkali-kali diingatkan oleh bidan yang menangani kelahiran ini untuk memelankan suara. Halah, bodo amat, dah. Situ ngga ngerasain sakit sampai ngebet macam bola mata ini mau melompat saja rasanya.
Menjelang siang, ibu saya yang menunggui tiba-tiba menggamit lengan saya.
“Eh, ini hari Senin Manis, lho. Wetonku. Wetonmu juga. Dan sekarang menjadi weton anakmu pula. Anakmu ini harus dibuang dan diakui sebagai anak orang lain kalau kamu ingin ia selamat sampai besar,” ucap ibu saya dengan nada bercanda.
“Ya sudah, buang saja,” kelakar saya.
Tentu saja kami tidak serius. Kami bukan penganut Kejawen yang meyakini hal-hal semacam itu. Weton pun sudah tidak kami ingat-ingat betul macam nenek kakek kami dulu, apalagi segala ritual yang berkaitan dengan hal tersebut.
Tapi saya pikir, ritual bayi dibuang karena weton yang sama dengan ibunya ini tetap menarik diceritakan. Saya merasa senang pernah menjadi tokoh dalam cerita tersebut, meski saat melakoninya saya sama sekali tidak ingat. Jadi sepertinya akan menyenangkan juga kalau saya melakukan hal serupa dengan lakon anak saya.
Menjelang sore, saya sudah bisa pulang. Sebelum meninggalkan klinik, saya menjalani ritual buang bayi. Ibu saya meminta bayi saya dan “membuangnya” di meja resepsionis klinik bersalin. Pada saat itu, orang pertama yang menghampiri bayi buangan saya adalah sepupu suami. Ia mengambil bayi saya, menimangnya, dan mengakuinya sebagai anak. Saya menyerahkan selimut, pompa asi, dan buku KMS yang sedari tadi ada di sekitar bayi saya itu.
Sah sudah …
Bayi yang dibuang di kandang kelinci puluhan tahun silam, hari itu membuang bayinya di meja resepsionis klinik bersalin. Wah, sungguh kisah yang menggetarkan untuk disampaikan ke anak cucu kelak. Ha ha ha …
Bayi itu tetap saya asuh. Ia tumbuh sehat dan menciptakan berbagai drama lain di kemudian hari, membuat saya terus berproses dan belajar menjadi orang tua.
 
Bersambung…
Next: Menyusui dan Menyapih