Cukup sering situs-situs berita online memberitakan keributan di Kabuki-Cho akibat tamu yang merasa ditipu oleh mahalnya tagihan. Tamu-tamu asing akan terbelalak ketika disodori tagihan. Orang-orang Jepang sebagian sudah tahu, tapi tidak sedikit pula yang belum tahu soal harga yang mencekik leher di Kabuki-Cho.

Banyak club di Kabuki-Cho yang menolak tamu yang bukan Jepang. Alasan utamanya tentu saja soal bahasa. Orang-orang Jepang umumnya tak pandai berbahasa Inggris.

Soal lain adalah soal tata krama. Kedai minum sekali pun punya tata krama. Suasana club yang tamu utamanya adalah orang-orang Jepang, akan rusak kalau tamu non Jepang yang tak tahu tata krama masuk ke situ.

Yang tak kalah penting adalah soal harga yang mahal tadi. Tamu asing akan kaget dan mengamuk saat tagihan ia anggap terlalu tinggi. Hal seperti itu benar-benar terjadi, lalu menjadi berita.

Tapi ada pula club yang mengambil risiko, memanfaatkan ketidaktahuan orang asing, lalu menguras uang mereka. Karena itulah ada club yang mempekerjakan orang asing sebagai pencari tamu (kyaku biki).

Jepang serba mahal, kita semua tahu. Tapi mahalnya Kabuki-Cho bukan pada level itu. Kalau orang minum di bar dengan ditemani hostes sebagai teman mengobrol, tagihan minumannya hanya 20-30% lebih mahal dari harga di kedai minum biasa. Etiketnya ia juga harus mentraktir hostes minum. Hostes minum ala kadarnya, dalam jumlah yang pantas.

Di Kabuki-Cho gadis-gadis berpakaian minim akan menyodorkan tubuhnya untuk dipegang-pegang oleh tamu. Tamu boleh melakukan apa saja, termasuk membuka baju mereka sampai buah dada mereka terbuka bebas. Tapi itu tentu ada harganya.

Dengan cepat mereka meminta tamu memesan minuman. Tamu juga didorong untuk minum dengan cepat. Dengan rayuan dan sentuhan cabul para tamu didorong untuk memesan banyak-banyak.

Mereka sendiri memesan minuman, dan minum dengan cepat. Dalam sekejap, satu hostes sudah menghabiskan 6 gelas minuman. Kok tidak mabuk? Di situlah curangnya mereka. Kemungkinan besar minuman yang dihidangkan untuk para gadis itu hanyalah soft drink.

Sedang asyik berbincang, si gadis akan pamit untuk kotai. Kotai artinya berganti. Ia akan pindah ke meja sebelah, gadis lain akan datang menggantikan. Sebagian tamu akan menahan gadis itu, karena sudah mulai asyik, atau sekadar malas membuka suasana baru dengan gadis lain. Si gadis akan menurut. Tapi ingat, itu pun ada harganya.

Ketika tagihan disodorkan barulah semua terbuka. Satu gelas minuman dihargai 4-6ribu yen. Padahal kalau membeli di toko minuman, itu adalah harga sebotol minuman. Jadi, harga 6 gelas minuman yang dihabiskan gadis tadi adalah 36.000 yen. Tamu juga ditagih dengan jumlah yang kurang lebih sama, karena tamu didorong untuk minum banyak.

Lalu ada tagihan gadis pendamping. Lalu, oh, ada tambahan lagi, meminta gadis untuk tidak kotai tadi dianggap memesan pendampingan khusus yang harganya 7ribu yen. Total tagihan yang harus dibayar oleh seorang tamu yang duduk minum sekitar 20-30menit bisa mencapai 80-100ribu yen. Berapa itu? Sekitar 10-12juta rupiah. Edan, kan?

Itu pun belum seberapa. Tamu-tamu yang datang ke Kabuki-Cho biasanya sudah minum di tempat lain. Mereka sudah mabuk, jadi akalnya sudah tidak berfungsi. Dengan mudah seorang gadis pendamping minum bisa merayunya untuk membuka champagne yang satu botol harganya belasan juta rupiah. Kalau itu terjadi, tagihan tamu tersebut bisa mencapai 30-40juta rupiah.

Tidak mau bayar? Beberapa orang anggota Yakuza berpakaian setelan jas lengkap, berdandan rapi akan datang. Mereka berbicara dalam bahasa yang sangat halus, tapi nadanya penuh intimidasi. Jarang ada yang berani menantang mereka, membangkang untuk tidak membayar.

Sebagian tamu yang datang ke situ tentu sudah tahu konsekuensi yang mereka hadapi, yaitu tagihan mahal tadi. Sebagian yang lain masuk karena tidak tahu.

Mereka sudah siap membayar sejumlah uang, yang tentu saja lebih mahal dari kedai minum biasa. Tapi mereka tidak menduga harganya 7-8 kali lipat dari kedai minum biasa. Setelah disodori tagihan, apa boleh buat, mereka tak punya nyali untuk melawan. Ada yang kapok setelah sekali mencoba. Tapi ada juga yang kemudian jadi ketagihan.

Tidak hanya laki-laki yang berkunjung ke Kabuki-Cho. Club untuk tamu perempuan juga ada. Kalau di club untuk laki-laki di depan toko dipajang foto-foto gadis-gadis berdandan menor, di club untuk para perempuan dipajang foto laki-laki muda berdandan ala anggota boy band. Mereka adalah host yang mendampingi para tamu perempuan minum.

Tugas para host ini sama dengan para gadis hostes tadi, yaitu menemani tamu minum, mendorong mereka untuk minum sebanyak-banyaknya. Lebih tegasnya, tugas mereka adalah menguras uang tamu. Tentu saja caranya agak berbeda. Tamu perempuan tidak akan secara vulgar melakukan sentuhan seksual di bagian genital seperti yang dilakukan oleh tamu laki-laki.

Ketimbang sentuhan, para host ini lebih banyak memberi layanan berupa kata-kata pujian. Mereka menempatkan diri dalam posisi seperti pelayan bagi para tamu. Mereka merendahkan diri serendah-rendahnya.

Tak mengherankan sebenarnya. Di tengah masyarakat Jepang perempuan masih ditempatkan di posisi lebih rendah. Di tempat ini, di club Kabuki-Cho, seorang perempuan bisa merasa seperti seorang ratu, dengan para laki-laki tunduk pada kehendaknya.

Tak cukup sampai di situ. Tamu-tamu juga didorong untuk bersaing dengan tamu lain. Kalau ada tamu yang membuka botol champagne, para host yang sedang melayani tamu akan berpamitan sejenak untuk berkumpul di meja pemesan champagne tadi. Mereka akan meneriakkan yel-yel memuji si pemesan. Itu akan memancing kecemburuan tamu-tamu di meja lain untuk ikut memesan sebotol champagne juga.

Tamu-tamu perempuan sepertinya memang datang untuk menghabiskan uang, dan mendapat kepuasan dari itu. Mereka seperti sedang membeli status dan pujian. Status lebih tinggi dari laki-laki, yang memang sulit didapat di masyarakat Jepang.