Beberapa waktu lalu, netizen ribut membicarakan sistem zonasi sekolah yang dinilai membingungkan, baik bagi calon peserta didik baru maupun bagi orang tua yang akan mendaftarkan anaknya ke sekolah. Namun, ada yang lebih menarik perhatian dari masalah zonasi tersebut, dan lingkupnya ada di pendidikan tingkat perguruan tinggi.

Bagi siswa yang lulus SMA atau sederajat, berkuliah menjadi impian sebagian dari mereka, meski sebagian yang lain lebih memilih untuk bekerja atau bahkan membangun rumah tangga. Alasannya ya macam-macam, mulai dari yang tidak mampu dalam hal biaya, tidak mampu dari segi daya pikir, atau memang sudah dilamar (perempuan tentunya, kalau laki-laki itu yang melamar).

Tapi, berita baik bagi siswa yang tidak mampu adalah, adanya beasiswa dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Beasiswa itu bernama Bidikmisi, dan diperuntukkan bagi siswa yang sudah lulus pendidikan setingkat SMA dan tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Tentu saja syarat dan ketentuan berlaku di dalamnya, Rek, gak ujug-ujug langsung oleh ngono angger ngomong “Pak, Bu, aku pengen kuliah tapi celenganku durung kebak.”

Pokoknya seseorang yang mau mendaftar Bidikmisi dari jalur apa saja harus berasal dari miskin dan minimal punya prestasi akademik di sekolah seperti peringkat kelas. Nah, mungkin karena sudah cetakan dari sononya, masih saja banyak orang yang tidak miskin-miskin amat kemudian memaksakan diri untuk jadi miskin demi mendapatkan beasiswa itu.

Mulai dari membuat Surat Keterangan Tidak Mampu, surat keterangan penghasilan orang tua yang dibuat serendah-rendahnya, bahkan sampai memfoto rumah tetangga atau saudara yang tampak pantas disebut miskin (tentu karena rumahnya sendiri sudah gedong, dinding, dan lantai lapis keramik, di dalamnya ada televisi LED, kulkas dua pintu, dan gudang koin).

Nominal yang Menggiurkan

Beberapa teman saya yang benar-benar tidak mampu dan berhasil mendapatkan beasiswa Bidikmisi ini mengaku mendapatkan uang sebesar 3-3,5 juta per semester. Kurang enak apa coba, sudah bisa kuliah tenang tanpa harus pusing memikirkan biaya, dapat uang saku dari pemerintah pula. Siapa coba yang tidak tergiur.

Mekanisme yang Panjang

Tentu tidak mudah mendapatkannya, karena proses seleksinya pun ketat. Yang tentu harus dilewati dulu adalah seleksi masuk perguruan tingginya dulu. Bisa dari SNMPTN, SBMPTN, SPAN-PTKIN, PMDK-PN, UMPN, atau yang lainnya.

Setelah lulus seleksi itu, pendaftar Bidikmisi harus mempersiapkan diri dan juga berkas-berkas yang bisa dibilang untuk memperkuat narasi “miskin” yang sudah mereka bangun dari sejak pendaftaran itu. Setelah berkas siap, mereka akan menghadapi wawancara.

Mereka akan ditanya perihal orang tua, keluarga, dan lain-lain untuk meyakinkan panitia bahwa mereka benar-benar layak untuk mendapatkan beasiswa bidikmisi tersebut. Bagi yang benar-benar miskin dan tidak ‘memanipulasi’ data, pasti santai saja dan tidak harus mempersiapkan drama apa pun untuk dapat membuktikan kebenaran berkas itu.

Meskipun persyaratan sudah seketat itu dan harus melalui mekanisme yang cukup panjang, tetap saja ada orang-orang yang “mengaku” miskin (padahal berkecukupan) malah lolos dan mendapatkan beasiswa itu. Tentu saja dengan drama sepanjang masa yang harus mereka lakukan demi memuluskan langkah mendapat Bidikmisi secara kontinyu.

Saya mengetahui ini dari beberapa kawan saya yang juga mendapat bidikmisi, mereka bercerita jika ada dari beberapa teman mereka yang tidak layak mendapatkan beasiswa itu namun bisa mendapatkannya.

Kalau kata orang Jawa, “nggragas” atau rakus. Padahal sudah jelas sekali bahwa beasiswa Bidikmisi itu untuk golongan tidak mampu. Memang miris, yang miskin sudah diberi solusi untuk bisa maju dan keluar dari kemiskinan dengan pendidikan, tapi jatahnya diambil orang yang sebetulnya mampu.

Pesan untuk Pak dan Bu Menteri

Pendidikan merupakan hak bagi setiap individu di negeri ini, dan dijamin undang-undang. Yang namanya hak berarti diambil ya monggo, tidak diambil ya monggo. Kalau saya sih, ya mending diambil saja. Orang sudah miskin harta, tambah-tambah miskin ilmu, mau jadi apa kalau negeri ini begini-begini saja?

Yang kaya sudah diberi rezeki sama Yang Kuasa, ya mbok sadar diri ngono lo. Jangan main seradak-seruduk haknya orang lain yang lebih membutuhkan. Orang kaya kan makannya banyak, bergizi, dan sehat; belajarnya paket komplit, ada sekolah formal, ada les, ada tetek-bengek, ya harusnya jadi wong pinter dan berprestasi.

Nah, beasiswa khusus orang pintar yang tidak menengok status finansial kan yo akeh, mbok yo dimanfaatkan sebaik-baiknya. Di negeri ini orang miskin seringnya kebagian turahan (tidak berbentuk lambe tentunya) atau sisa. Nah, yang namanya turahan itu ya pasti tidak sebanyak mula-mula. Bukan begitu?