Agaknya, mahasiswa zaman sekarang memang dituntut jadi serba bisa. Selain isu digitalisasi yang membuat mereka “wajib” melek teknologi digital, pentingnya penguasaan bahasa asing juga dijadikan tuntutan.

Bagaimana tidak? Di era generasi 2.0 dengan batasan nyaris nol ini, kemampuan tiap akademisi untuk bisa bersaing secara global seluas-luasnya. Itu artinya, bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama di skala internasional tentu jadi syarat mutlak.

Lha yok opo carane bersaing secara akademik nek gak iso bahasa Inggris? Moso apene presentasi malah nggawe Google Translate sik. Yo dadine koyok fitur chat nang aplikasi ojol iku lak an, Rek.

Masalahnya, kita semua tahu bahwa penguasaan bahasa percakapan jauh lebih mudah daripada bahasa tulis.

Jangankan bahasa asing, lha wong pake bahasa Indonesia gaya percakapan sehari-hari aja lebih gampang daripada nulis. Makanya lebih banyak yang bacot daripada yang nulis. Kecuali netizen yang hobi ngebacot lewat tulisan.

Nah, dalam urusan bahasa Inggris, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Kita bisa saja modal dengerin lagu dan nonton film untuk bisa pede ngobrol bareng kenalan bule.

“Yo, what’s up?”
“Yeah, yeah, I don’t give a f*ck, Man.”
“Oh, I ate Core Dragon snack yesterday!”

Bicara itu lebih mudah karena kita nggak perlu bingung singkatan “s” pada kalimat “Where’s she going?” itu untuk is atau was. Atau waktu bilang “kamu cantik” dalam bahasa Inggris itu pakai your atau you’re.

Tapi ketika sudah urusan tulis-menulis, waduuuh modyar kalau nggak paham ilmu linguistik. Apalagi buat tulisan ilmiah yang harus diunggah ke jurnal internasional. Salah-salah, kamu justru bisa menyesatkan dunia penelitian sampai satu abad ke depan.

Menuliskan karya ilmiah dalam bahasa Inggris jelas jadi tantangan besar. Ngerjain makalah pakai bahasa Indonesia akademik aja udah bikin susah tidur berhari-hari, apalagi pakai bahasa Inggris, Bosquuue.

Masalah lainnya, di dunia akademik sekarang, belum semua dosen juga bisa menguasai bahasa Inggris dengan baik. Otomatis, ini jadi kendala juga buat mahasiswa yang ingin berkonsultasi tentang karya ilmiah yang sudah ditulisnya dalam bahasa Inggris.

Dosen mata kuliah Bahasa Inggris Akademik ya tentunya cuma menguasai urusan tata bahasa dong, cuma bisa jadi konsultan grammar dan vocabulary. Tapi untuk inti konten dan konteks penelitian kan tetap saja butuh bantuan dosen matkul terkait.

Dalam kegagapan bahasa itu, para dosen juga terancam tidak bisa bersaing di skala global. Soalnya, kewajiban mengunggah jurnal penelitian ke platform internasional itu tidak cuma diperuntukkan mahasiswa pascasarjana sebagai syarat kelulusan, tapi juga para pengajar sebagai persyaratan pemangkatan.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyadari akan hal ini. Itu sebabnya mereka kemudian bekerja sama dengan Regional English Language Office (RELO) yang berada di bawah naungan Konsulat Jenderal Amerika Serikat untuk mengadakan pelatihan bahasa Inggris akademik.

Salah satu universitas yang berpartisipasi itu adalah UIN Sunan Ampel Surabaya. Selasa (14 Agustus 2019) lalu, pihak kampus dan RELO menyelenggarakan pelatihan Workshop Academic Writing, dengan mendatangkan Spesialis Bahasa Inggris yang juga merupakan ibu dan anak, Carol Burrill dan Kate Burrill.

Pesertanya adalah para pengajar bahasa Inggris akademik di universitas tersebut. Tujuannya adalah agar para pengajar ini dapat meneruskan hasil workshop kepada para mahasiswa dan rekan-rekan pengajar lainnya. Pelatihan ini tidak hanya berupa teori, tapi juga berupa aktivitas yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan bahasa akademik itu sendiri.

Para peserta diminta membentuk grup diskusi dan memecahkan soal yang diberikan.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program Mother Daughter Go Back, Give Back, dan rencananya akan dilakukan di beberapa kota lainnya seperti Denpasar (Universitas Udayana) dan Ambon (Universitas Pattimura).

Menariknya, nama program Go Back, Give Back ini mengacu pada pengalaman Kate Burrill, yang pada 2012 lalu pernah datang ke UIN Sunan Ampel sebagai peserta program English Language Fellow, sebuah program yang diadakan pemerintah AS untuk mengajarkan bahasa Inggris di negara-negara tujuan.

Itulah sebabnya, Kate dianggap “kembali” ke instansi tempat ia “dititipkan” dahulu.

Di negara asalnya, Kate juga berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua selama lebih dari sepuluh tahun. Tiga tahun belakangan, ia berfokus pada pengajaran penulisan akademik untuk tujuan penelitian.

Carol Burrill sendiri adalah ibu Kate yang telah berpengalaman mengajar ESL selama 40 tahun. Ia juga merupakan presenter reguler di konferensi SL lokal dan internasional. Pengalaman ini tentu tidak main-main. Keduanya memang sangat tepat dijadikan pengajar dalam program ini.

Untuk dipilih dalam program ini, baik pengajar maupun peserta sama-sama diwajibkan mengikuti sistem seleksi. Kate misalnya, didapuk karena proposal pengajaran yang ia ajukan di AS untuk program ini dinilai paling tepat.

Sedangkan para peserta yang berasal dari pengajar-pengajar di berbagai universitas (tidak hanya dari UIN Sunan Ampel) juga telah diseleksi yang tingkat kemampuannya dinilai cocok mengikuti pelatihan ini.

Wahju Kusumajanti selaku ketua panitia dari UIN Sunan Ampel menilai bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan emas yang kelak diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang, tidak hanya untuk para pengajar sendiri, tapi juga untuk para mahasiswa di generasi yang akan datang.

Pelatihan semacam ini bukan yang pertama bagi RELO. Sebelumnya mereka juga telah memberikan pelatihan untuk perwakilan BNPB dari seluruh ASEAN dan staf kejaksaan.

Dr. Bradley Horn, Director of Regional English Language Office, di Kedutaan Besar AS di Jakarta mengatakan bahwa kerja sama ini adalah salah satu komitmen diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat yang pada 2019 ini mencapai periode 70 tahun.

Semoga saja pelatihan ini memberi pengaruh besar pada jumlah prestasi akademik Indonesia di kancah internasional ya!

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program Mother Daughter Go Back, Give Back, dan rencananya akan dilakukan di beberapa kota lainnya seperti Denpasar (Universitas Udayana) dan Ambon (Universitas Pattimura).

Menariknya, nama program Go Back, Give Back ini mengacu pada pengalaman Kate Burrill, yang pada 2012 lalu pernah datang ke UIN Sunan Ampel sebagai peserta program English Language Fellow, sebuah program yang diadakan pemerintah AS untuk mengajarkan bahasa Inggris di negara-negara tujuan.

Itulah sebabnya, Kate dianggap “kembali” ke instansi tempat ia “dititipkan” dahulu.

Di negara asalnya, Kate juga berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua selama lebih dari sepuluh tahun. Tiga tahun belakangan, ia berfokus pada pengajaran penulisan akademik untuk tujuan penelitian.

Carol Burrill sendiri adalah ibu Kate yang telah berpengalaman mengajar ESL selama 40 tahun. Ia juga merupakan presenter reguler di konferensi SL lokal dan internasional. Pengalaman ini tentu tidak main-main. Keduanya memang sangat tepat dijadikan pengajar dalam program ini.

Untuk dipilih dalam program ini, baik pengajar maupun peserta sama-sama diwajibkan mengikuti sistem seleksi. Kate misalnya, didapuk karena proposal pengajaran yang ia ajukan di AS untuk program ini dinilai paling tepat.

Sedangkan para peserta yang berasal dari pengajar-pengajar di berbagai universitas (tidak hanya dari UIN Sunan Ampel) juga telah diseleksi yang tingkat kemampuannya dinilai cocok mengikuti pelatihan ini.

Wahju Kusumajanti selaku ketua panitia dari UIN Sunan Ampel menilai bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan emas yang kelak diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang, tidak hanya untuk para pengajar sendiri, tapi juga untuk para mahasiswa di generasi yang akan datang.

Pelatihan semacam ini bukan yang pertama bagi RELO. Sebelumnya mereka juga telah memberikan pelatihan untuk perwakilan BNPB dari seluruh ASEAN dan staf kejaksaan.

Dr. Bradley Horn, Director of Regional English Language Office, di Kedutaan Besar AS di Jakarta mengatakan bahwa kerja sama ini adalah salah satu komitmen diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat yang pada 2019 ini mencapai periode 70 tahun.

Semoga saja pelatihan ini memberi pengaruh besar pada jumlah prestasi akademik Indonesia di kancah internasional ya!

Ki-ka: Dr. Bradley Horn, Carol Burrill, dan Kate Burrill.