Kalau saya bilang pembibitan radikalisasi di Surabaya sudah terbaca sejak satu dekade lalu, kalian akan bilang saya asal njeplak nggak? Tidak seperti bapak presiden terdahulu yang kembali meramaikan timeline, tentu saya bisa jelaskan kenapa saya bilang begitu.

Dulu saya sekolah di sebelah Grahadi. Sejak minggu pertama masuk, sudah ada sekelompok kakak SKI (Sie Kerohanian Islam alias rohis) yang setia menunggu di depan pintu kelas setiap jam istirahat. Ngapain? Ngajak gabung ekskul itu tentunya.

Modus operandinya konsisten. Pertama, mereka rajin datang setiap jam istirahat, yang saat itu dua kali sehari. Kadang sekadar menghampiri anak-anak yang bersandar di balkon depan kelas, kadang juga bergabung dan duduk di depan kami. Basa-basi, nanya pengalaman belajar, nanya hobi, lalu yang paling penting: menanyakan apakah kami memiliki masalah, baik personal, sosial, maupun akademis.

Kesannya mereka tampil sebagai kakak kelas yang perhatian dan siap membantu. Jujur saja, saya dari dulu memang nggak pernah terlalu tertarik ikut klub apapun. Apalagi yang sifatnya nonkreatif.

Jadi, ketika si kakak tersebut mendatangi meja kami di kelas, saya malah jengah. Yo bayangno ae, koen mari kelas kimia sing gurune juwudes, terus keluwen, wayahe mangan malah diajak curhat.

Oke Mbak, aku ngerti kamu perhatian, tapi kamu juga ngerti dong aku lagi kelaparan…

Kedua, mengundang anak-anak baru untuk datang ke acara perdana di tahun ajaran baru. Persuasinya, acara itu berupa pengenalan ekskul dan doa bersama. Lengkap dengan pendaftaran calon anggota.

Ngundang tapi rodo mekso. Sebab, intensitas kakak-kakak tersebut nyatroni kelas semakin tinggi menjelang hari-H. Mereka juga memastikan betul anak-anak baru itu bisa hadir.

Saya ingat, dulu saya menolak datang dengan alasan ada les sepulang sekolah. Si kakak malah bilang, “Nggak bisa diganti hari lesnya?” Dengan alasan kesopanan, saya cuma menggeleng sambil senyum. Si kakak langsung pasang muka bete.

Ehehe, akhirnya perasaan kita saling berbalas ya, Mbak. Koen mangkel mbek aku? I mangkel you too…

Masalahnya, mereka berhasil mengobservasi  anak-anak mana yang potensial untuk didoktrin dari berminggu-minggu pendekatan tadi. Wes pokoke koyok PDKT. Mek bedane, pas nembak iku ngomonge “Kamu mau nggak gabung SKI?”

Dan metode itu berhasil menjaring sekitar 80% anak baru! Gila nggak? Saat hari perhelatan tiba, hampir semua teman kelas saya ikut. Beberapa menit sebelum acara, ada sekelompok teman dan si kakak yang bertugas menjemput dengan sinis memandangi saya. Besoknya, teman sebangku saya bilang, “Kemarin kamu dicariin sama Mbak Anu, katanya kenapa sih kok kamu nggak mau dateng?”

Yaelah belum apa-apa udah ngambekan gitu…

Setelah itu, saya nggak pernah disapa lagi oleh para kakak kelas tersebut. Dilirik pun dengan tatapan seruncing celurit. Sekalinya nyamperin, eh dia malah ngobrol sama temen sebangku saya. Jadi sampai sebatas itu sajakah perhatiannya padaku?

Keanehan terjadi pada pertengahan semester pertama. Nggak tahu persisnya apa yang terjadi, tapi sepertiga anak perempuan mendadak berjilbab. Barengan. Ada yang bilang, mereka habis diceramahi soal ganjaran surga-neraka dan yang pertama dinilai bagi perempuan adalah aurat.

Saya perhatikan, para hijaber baru itu memang aggota-anggota baru yang rajin ikut pertemuan rutin. Mayoritas berasal dari kelas saya, yang karakter muridnya memang cenderung pemalu, sering berkelompok, dan kebanyakan berasal dari lingkungan menengah ke bawah.

Saat ditanya, ada anak yang menjawab alasannya berjilbab adalah nggak enak sama kakak SKI.

Beberapa bulan berikutnya, ada lagi gelombang kompakan lainnya: Keluar dari ekskul selain SKI. Ekskul olahraga yang paling banyak korbannya. Bahkan, beberapa anak yang digadang sebagai pemain andalan tiba-tiba mengundurkan diri dan memilih SKI sebagai ekskul tunggal. Yang saya dengar, kali ini alasannya adalah doktrin bahwa voli, basket, paskibra, semuanya nggak akan bisa bikin kamu masuk surga.

Waktu itu belum santer istilah radikaliasi, cuci otak, atau semacamnya. Baru beberapa tahun kemudian, ada isu kelompok JI yang ketat menembus sekolah-sekolah Surabaya untuk kaderisasi. Sekolah saya turut diinspeksi. Kelompok oposisi seperti saya berharap bahwa itulah saatnya SKI dibubarkan. Ternyata enggak dong. Mereka lolos dari pemeriksaan.

Kok bisa?

Pembina ekskul tersebut adalah wakil kepala sekolah yang sebetulnya terkenal dengan pandangan agama segaris. Beliau yang menjamin bahwa tidak ada praktik aneh-aneh di sana.

Ada lagi keekstreman lain. Saya dulu juga menjadi salah satu pengurus OSIS. Dari awal seleksi, ada bisik-bisik yang bilang bahwa “Harus (anak) SKI yang jadi ketua organisasi, paling enggak jadi wakil ketua…”

Itu yang bilang adalah salah seorang pengurus cewek yang cukup dekat dengan saya. Kami sering merasani kekakuan SKI bersama anak-anak lainnya. Yang gila, sebelum kelulusan, ada desas-desus bahwa cewek tadi menjadi “mata-mata” SKI yang sengaja diperankan sebagai pembenci. Tujuannya, tentu memetakan siapa saja “musuh-musuh” SKI lainnya. Dia sendiri menahbiskan identitas dengan mendadak berjilbab dan nongkrong di musala.

Organisasi SMA macam apa yang bisa menjadikan seorang murid sebagai “mata-mata” dan menugaskannya berpura-pura selama tiga tahun untuk mencatati nama-nama musuh?

Aku kok merasa dadi koyok figuran sing kebagian peran ngglosor nang Avenger ngene…

Ketika Surabaya menegang beberapa hari terakhir, suara dari kawan-kawan lama bermunculan. Mereka ternyata mengalami hal serupa di sekolah dulu. Ada yang mengaku sejak awal kata kunci yang dikumandangkan adalah agama, politik, dan Palestina.

Cara mereka mendekati dan memperbanyak anggota pun serupa. Dan itu tidak berhenti hanya di tingkat sekolah menengah. Para alumnus tentu akan terus membawa paham yang sama hingga ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Di masa itulah akhirnya penguatan ideologi semakin digalakkan dan berbuah menjadi tindakan lapangan. Nah, makanya jangan terlalu heran ketika ada pergerakan nekat seperti yang terjadi saat ini. Benar Surabaya damai beberapa tahun terakhir, tapi bibit-bibit tersebut sudah tumbuh dan bisa disemai.

Tentu kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa semua kegiatan rohis berpotensi menumbuhkan bibit radikalisme. Toh ada juga yang justru bisa bersikap egaliter dan moderat meski jumlahnya lebih sedikit. Tapi justru mereka yang bersedia turun tangan untuk meluruskan apa-apa yang salah dari keyakinan buta itu.

Kuncinya adalah pada siapa kita belajar dan bagaimana kita menalar. Seperti kata kawan saya yang rajin ikut kajian, “Jupuk sarine, buwak ampase.”