Semakin banyaknya undangan menikah yang menumpuk akhir-akhir ini, membuktikan bahwa jumlah pernikahan memang melonjak. Namun, hal ini ternyata juga diiringi tingginya jumlah perceraian.

Selama Januari sampai Juli 2019, tercatat ada 3.130 gugatan cerai di Pengadilan Agama Kota Surabaya. Angka perceraian ini selalu meningkat setiap tahunnya—bahkan hampir 10% setiap tahunnya.

PA Surabaya mencatat, di tahun 2017 lalu saja, sudah ada 4.872 kasus. Lalu pada 2018 meningkat menjadi 5.235 kasus. Jumlah yang tercatat pada Juli 2019 ini tentunya akan terus naik hingga akhir tahun.

Dari jumlah tersebut, yang paling banyak menggugat cerai adalah pihak istri. Selama Januari hingga Juni 2019 tersebut, 2.013 diantaranya adalah dari Istri. Sedangankan suami sebanyak 883 orang.

Penyebab perceraian yang paling dominan adalah perselisihan hubungan suami istri akibat pertengkaran terus menerus. Jumlah ini menempati posisi teratas dalam urusan perceraian. Selain itu ada masalah ekonomi, meninggalkan salah satu pihak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), murtad, dan lain sebagainya.

Pertengkaran terus menerus ini bisa ditengarai adanya perselingkuhan. Kasus ini berjumlah 1.756 orang. Salah satu pihak, baik suami atau istri, merasa tidak bisa menerima kehadiran orang ketiga dalam rumah tangganya hingga muncullah gugatan perceraian dari pasangannya.

Salah satu penyebab perselingkuhan adalah keberadaan media sosial (medsos). Terutama saat pasangan berusaha mencari pelarian dengan bermain medsos untuk berhubungan dengan orang lain. Hubungan ini lantas membuat pasangannya cemburu.

Seringnya, salah satu pasangan yang terus bermain sosial media bisa menimbulkan prahara. Jarangnya komunikasi personal karena terlalu sering bermain dengan gawainya masing-masing juga membuat hubungan suami-istri menjadi renggang.

“Masalah pernikahan ini banyak yang disebabkan karena medsos karena bisa memunculkan pihak ketiga dalam hubungan rumah tangga,” tutur Humas PA Surabaya, Agus Suntono.

Selain itu, alasan kedua yang menjadi penyebab perceraian adalah masalah ekonomi. Sebanyak 952 kasus diantaranya adalah istri menggugat suami karena merasa tidak tahan diajak hidup susah. Terlebih tuntutan biaya hidup di Surabaya terbilang tinggi dibanding kota lain.

Surabaya yang merupakan kota terbesar nomor dua di Indonesia, memang jadi jujukan para perantau. Itu menjadikan Surabaya punya banyak masalah urban, termasuk juga masalah ekonomi.

“Karena Surabaya ini kan kota metropolis, biaya hidupnya cenderung tinggi, itu memicu banyak perselisihan dalam keluarga yang ujungnya adalah perceraian, ” tutur Agus.

Masalah lain yang jumlahnya cukup tinggi adalah adanya salah satu pihak yang meninggal, yaitu 286 kasus, KDRT 89 kasus, murtad 19 kasus, judi 9 kasus, dan masalah penjara 8 kasus.

Humas DPC Peradi Surabaya, Elok Dwi Kadja menyatakan, perkara perceraian karena medsos kini menjadi tren baru. Namun jumlahnya tidak banyak.

“Kebanyakan yang main medsos perempuan. Yang laki-laki cemburu. Medsos kan dari yang awalnya tidak pernah bertemu, jadi bertemu. Termasuk juga cinta lama bersemi kembali dengan mantannya,” ungkapnya.

Pasangan suami istri yang cerai karena medsos ini didominasi oleh pasangan usia muda yang juga termasuk dalam generasi milenial. Rata-rata usianya mulai 21 tahun sampai 35 tahun. Pasangan milenial yang lahir mulai 1980, punya kecenderungan lebih tinggi untuk menggugat cerai pasangannya karena medsos.

Elok Dwi Kadja menyatakan, perceraian karena medsos jadi tren baru di Surabaya. Medsos, menurutnya bisa menghubungkan kembali komunikasi yang telah terputus dengan orang lain di masa lalunya. Pasangannya kemudian merasa cemburu.

Selain itu, sekarang orang yang sudah menikah cenderung menjadikan happy couple atau pasangan bahagia di medsos sebagai panutan. Dia menginginkan pernikahannya bahagia dan menuntut pasangannya agar seperti mereka.

Banyaknya contoh kemesraan yang ditebar oleh para selebritas di televisi maupun sosial media banyak ditiru masyarakat. Padahal jauh dari itu, mereka tidak mampu secara ekonomi maupun mental untuk hidup layaknya pesohor.

“Pasangannya tidak sesuai ekspektasi. Kenyataannya, rumah tangga mereka tidak sebahagia happy couple. Mereka menjadikan happy couple di sosmed sebagai rule model rumah tangga. Padahal kondisi antara setiap pasangan jauh berbeda,” tutur Elok.

Dia berharap, ada edukasi dari pihak terkait kepada calon pengantin maupun pasangan yang sudah menikah untuk menghindari perceraian.

“Sehingga nanti ketika sudah menikah tidak kaget,” ujarnya.

Elok mencontohkan, dirinya punya program married management untuk pasangan yang akan maupun baru menikah. Selain untuk edukasi, melalui program ini, pasangan bisa membuat perjanjian sebelum menikah.

“Mereka tandatangani dan dinotariskan. Sehingga sudah ada kesepakatan mengenai hak asuh anak sampai harta bersama. Nanti kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sudah siap semua dan tidak ribet,” katanya.

Njelimetnya pernikahan duniawi semestinya harus dipikirkan secara bijak oleh para calon pengantin yang ingin segera melaksanakan prosesi malam pertama. Pernikahan bukan hanya masalah selangkangan semata. Banyak yang seharusnya menjadi pertimbangan sebelum menentukan waktu yang tepat untuk menikah.

Keputusan untuk menikah semestinya dipikirkan secara matang dan perhitungan. Karena sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist: “Halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian.”