Tengah malam dan suntuk melanda iku ancen momen sing nggak
uwenak, rek. Pengen turu tapi nggak isok merem, pengen keluar tapi males gerak.
Lak jancuk ngono iku Tapi kondisi kayak begini memang harus dilawan. Kalau
dijar-jarno, punya potensi kepikiran hal geteli, depresi, dadi rawan bunuh
diri—atau paling masturbasi. Ha-ha-ha.

Solusi paling menarik adalah warung kopi. Tapi ketika bosen
ngopi warkop yang itu-itu saja, tandanya kamu harus explore warung kopi lain,
di antah berantah, yang nggak pernah kamu kunjungi sebelumnya. Oke, baiklah.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan—termasuk demi
meningkatkan adrenalin—saya memutuskan ngopi di sekitaran Bunderan Waru.

Jadi gini, dalam sejarahnya, Bunderan Waru memang terkenal
sebagai tempat prostitusi legendaris. Tapi nggak seperti Dolly yang menawarkan
sensasi wisata mursal dengan perempuan aduhai, Bunderan Waru justru menyuguhkan
lelaki feminim sebagai jualan utama.

Kalau Dolly menyediakan bilik kamar sebagai tempat
eksekusinya, di Bunderan Waru, bercinta bisa dilakukan di alam raya sebagai
latarnya. Also known as semak-semak.

Bunderan Waru memang tersohor dengan bencong atau waria—or
whatever you name it
—yang sering berkeliaran di malam hari. Di sekitaran
perbatasan Surabaya dan Sidoarjo itu, mereka biasa mangkal sampai subuh.

Petualangan malam ini dimulai dari Masjid Agung Pagesangan.
Waktu tepat menunjukkan pukul 22.45. Sepanjang jalan beraspal dari Masjid Agung
ke selatan menuju Waru, kata Anton (nama samaran), teman yang kebetulan rela
menemani saya, biasanya banyak waria di sekitaran situ. Banyak semak-semak yang menghampar.

“Kata bapak-bapak sopir taxi Masjid Agung yang pernah ngopi
sama aku, sopir-sopir sering dibuat kesal karena terus digodain. Nge-godainnya
bahkan sampai waria-waria itu berlarian di tengah jalan. Mentolo nubruk ae pak sopire sampekan,”
ujar Anton saat saya bonceng.

Maka, saya pun melintasi jalan gelap nan sepi itu dengan
sangat pelan. Sesekali menoleh ke kiri kanan, mencari tahu apakah ada yang
sedang menjalankan eksekusi di antara rumbuk semak-semak.

Mungkin karena gelap dan rimbunnya semak belukar itu, proses
eksekusi jadi tak kelihatan.

Maka saya pun melanjutkan perjalanan menuju Bunderan Waru.
Pada saat mulai melintasi jalan raya, saya mulai melihat banyak waria yang
melambaikan tangan, menawarkan dagangannya.

“Monggo mas, dicicipi murah meriah loh,” sapa salah satu
bencong yang dandanannya menor tapi kekar ini.

Anton menyarankan saya berjaga dan waspada karena jalanan
yang gelap sepi seperti ini rawan jambret. Para penjaja cinta itu sejatinya
juga laki-laki, jadi secara fisik juga pasti strong.

Semakin jauh melintasi jalan raya itu, semakin banyak pula
waria yang dijumpai. Mereka melambaikan sembari menyebarkan senyum manis kepada
semua yang lewat jalan itu.

Saya dan Anton akhirnya memutuskan ngopi di sebelah POM
Bensin Medaeng. Untuk menuju ke sana, kami harus memutar lewat Bunderan Waru, lalu maju terus dan putar balik di depan Rutan Medaeng, tempat di mana Ahmad
Dhani dan Vanessa Angel sekarang mendekam.

Berbeda dengan zaman dulu di mana para waria banyak
berkeliaran di sekitar Bunderan Waru, sekarang para waria agak melipir ke
sekitaran jalan arah Medaeng. Mungkin karena jalan Bunderan Waru masa kini amat
terang dan ramai.

Saya ngopi di salah satu warkop yang berjejeran di pinggir
jalan. Di antara truk-truk raksasa, saya memesan kopi hitam pekat dan Anton memesan kopi susu.

Kami saling ngobrol sembari sesekali menggoda mbak-mbak pengaduk kopi—yang ehem, lumayan aduhai.

Mbak Sari—nama penjual kopi yang punya eseman manis
ini—bercerita kalau dirinya sudah lima tahun berjualan kopi pada malam hari, di
pinggir jalan raya sekitaran Medaeng.

“Namanya cari rejeki mas, anak lagi mau sekolah jadi perlu
biaya ini itu. Suami kerja di pabrik sih, dirasa bayarannya belum nyucuk, jadi
ya saya bakulan kopi kayak gini,” ujarnya, manis banguet.

Saya pun dengan seenaknya menyinggung soal para waria demi
mendapat informasi lebih lanjut.

“Nanti tengah malam juga ada yang lewat dan mampir,”
ujarnya.

Menjelang pukul satu pagi, sudah terlihat pemandangan para
waria. Lewat Mbak Sari, kami pun punya kesempatan mengobrol dengan Kiki (nama
samaran), salah satu waria.

Mbak Sari lebih dulu menjelaskan kalau saya dan Anton nggak
mau main-main kelamin. Cuma sekedar mencari teman ngobrol.

Kiki pun memperkenalkan diri. Nama aslinya: Sasongko.
Pekerjaan siang hari: kuli bangunan.

“Aku sudah sekitar 10 tahun kali, mas kerja gini. Aku jadi
bencong kayak gini tak anggep ya kerja. Tapi ada juga sih teman-temanku yang
bencongnya buat cari seneng-senengan doang,” ujarnya sambil membenahi make-up.

Kiki mengaku, di Bunderan Waru ini ada dua pemain. Yang satu
laki-laki yang berdandan seperti perempuan, dan yang satu lagi laki-laki yang
gentle kayak preman. Untuk perempuan asli, sudah lima tahun ini tidak ada. Selain
karena kalah pasaran, perempuannya juga banyak yang sudah tua.

Mengenai tarif, Kiki menjelaskan selalu ada tawar menawar.
Kalau nggak 50 ribu ya 30 ribu untuk sekali crot.

Kiki menjelaskan, para pelanggannya kebanyakan orang
terpinggirkan dan rata-rata menengah ke bawah. Tapi kadang ada juga pelanggan
yang kaya.

“Biasanya itu pekerja pabrik, satpam, atau juga kuli
bangunan. Mereka biasanya ngekos di daerah sini. Tapi ada juga sih yang dari
jauh seperti Kenjeran, Gresik, dan Mojokerto. Kalau yang dari Malang, itu
lumayan sugih. Dia biasanya ke sini naik Avanza, Diparkirnya di POM bensin,
terus jalan kaki cari waria,” ujarnya.

Soal obrakan, Kiki mengaku hampir tidak pernah ada. Kecuali
razia Satpol PP jelang puasa ramadan.

Tapi yang disesalkan Kiki biasanya adalah obrakan ormas. Mereka
yang memakai atribut sorban dan pakaian loreng-loreng, biasanya menangkap dan
memukuli sak enake dewe. Padahal, banyak di antara waria itu hanya pasrah kalau
sudah ditangkap.

Sayangnya, obrolan seru kami harus berakhir. Kiki ternyata
sudah dijemput salah satu pelanggannya.

“Kamu dicariin kemana saja, ternyata nyangkruk di warunge
Mbak Sari. Ayo Ki, nggak atek kesuwen,” ujar pelanggannya dari atas motor.

Akhirnya kami pun pulang membawa satu pelajaran penting. Saya bukanlah orang yang doyan begituan sama waria. Tapi,
saya juga bukan homophobic. Saya menghargai mereka sebagai manusia, dengan
segala perbedaan satu sama lain. Termasuk orientasi seksual.

Saya menghargai mereka, sebagaimana mereka juga menghargai saya.