Kalau ditanya manakah kampung terkecil, terunik, dan terajaib di seantero Surabaya? Jawaban yang paling tepat bisa jadi adalah Kampung Jemur Gayungan 1. Kampung ini berada di Bunderan Dolog, yang letaknya persis di tengah Jl. Raya Ahmad Yani.

Kampung ini juga dikenal sebagai Kampung Taman Pelangi karena letaknya berhadapan dengan Taman Pelangi.

Sekilas, kampung ini memang tidak nampak karena ketika melintasi Ahmad Yani karena kebanyakan kita hanya fokus berkendara, bukan mengamati sekitar. Tapi jika melihat sekitar, kita akan kaget dengan masyarakat yang tinggal di gang tengah jalan ini.

Kampung ini memang menarik. Bagaimana orang-orang di kampung itu terus bertahan di antara beringasnya kendaraan yang berlalu lalang di sekitaran Ahmad Yani. Mereka seolah tahan bising dan polusi udara selama bertahun-tahun. Mereka pun tetap menjalani hidup bermasyarakat meski berada di tengah jalan yang konon katanya jadi yang termacet di Surabaya ini.

Masyarakat sekitar menyatakan, mulanya kampung ini tidak berada di tengah jalan. Dulunya, kampung RT 1 dan RT 2 Jemur Gayungan ini menyatu. Letaknya ada di seberang frontage road sisi barat. Baru sekitar tahun 1970an, kampung ini dipecah untuk pembuatan jalur Ahmad Yani sisi barat.

Kampung ini masih bertahan. Di sebelahnya juga masih ada POM Bensin yang masih berdiri. Letak POM Bensin ini merupakan tempat Taman Pelangi sekarang. Nah, ketika dipecah, Kampung Jemur Gayungan RT 1 ini tidak ikut tergusur. Pembuatan jalan ini membuat kampung mereka menjadi satu koloni sendiri dan terpisah dari kampung lainnya.

Kampung Taman Pelangi ini hanya memiliki luas 3.892 meter persegi. Jalan pada badan gang pun hanya 70 meter saja. Saat ini, ada 55 KK yang masih bertahan.

Icang, Sekretaris RT Jemur Gayungan menyatakan, untuk sekadar beli pulsa, warga sampai harus menyeberangi ganasnya lautan kendaraan Ahmad Yani. Ini memang agak seram kalau dibayangkan, dimana Jl. Raya Ahmad Yani sejauh ini masih mempunyai risiko kecelakaan yang cukup tinggi.

Bahkan, tercatat sudah empat orang warga yang mengalami kecelakaan. Meskipun tak ada yang sampai jadi korban jiwa, tapi sakit yang diderita para korban kecelakaan itu cukup parah. Bahkan sampai lumpuh.

Anak-anak yang ada di kampung ini pun dilarang keras untuk bermain ke luar kampung. Karena memang, untuk keluar kampung, ada risiko besar yang menanti berupa keberingasan jalan raya. Mereka cukup diperkenankan bermain di Taman Pelangi saja.

Soal polusi dan kebisingan jalan, para warga mengaku sudah kebal dengan itu semua. Tak pernah ada catatan warga yang terkena masalah dengan pernafasan. Untuk masalah kebisingan, mereka juga sudah menyesuaikan diri. Mereka menyiasatinya dengan selalu cangkrukan di depan rumah tiap sore. Menjadikan bising sebagi penghibur saja—sambil ngobrol santai menunggu maghrib.

Meski terletak di jahanamnya Ahmad Yani yang juga dikenal panas, kampung ini justru tergolong sejuk dengan banyak pohon yang ada di sekitar taman. Baliho-baliho raksasa yang ada di sekitar kampung juga bisa jadi alat peneduh.

Tidak adanya bantuan pemerintah juga tidak menyurutkan mereka untuk memperbaiki kampungnya. Mereka sering menggalakkan iuran bersama untuk membeli lampu penerangan kampung.

“Lampu-lampu yang ada di sini itu hasil iuran warga semua,” kata Icang yang sejak kecil sudah tinggal di sini.

Selain itu, warga juga masih punya keinginan besar untuk terus menghias kampungnya dengan cat warna-warni. Meskipun keterbatasan biaya membuat keinginan itu belum jua terlaksana.

Program pemerintah kota Surabaya Minim Jamban pun juga mereka laksanakan. Terbukti dengan tidak adanya jamban di sini. Kotoran dari hasil pembuangan manusia, semuanya sudah langsung terbuang di kali.

***

Pada 2011, memang sempat ada penggusuran di Kampung Taman Pelangi untuk pelebaran jalan. Sembilan meter tanah warga di sebelah barat dan timur kampung ini dipangkas. Tak ada yang protes karena memang ganti ruginya setimpal.

Begitupun dengan rencana Pemkot Surabaya yang akan segera merevitalisasi kampung ini jadi kawasan terintegrasi dengan Taman Pelangi. Warga pun menyikapinya dengan tenang-tenang saja.

Suliyono, Ketua RT 1 RW 3 Jemur Gayungan menyatakan, “Sejak 2014, banyak orang yang mengukur-ukur kampung ini, tapi toh sampai saat ini kami tinggal di sini sebagaimana biasa dan tidak terjadi apa-apa.”

Karena itu, Suliyono mengaku ingin segera ada kejelasan dari Pemkot.

“Saya inginnya warga segera diberi kepastian kapan akan dibebaskan, karena kami yang paling terdampak. Kalau digusur, tentu kami harus mencari tempat tinggal lain dan itu nggak bisa cepat lho,” ungkapnya.

Kampung Taman Pelangi ini selalu mengingatkan saya pada filosofi dari buku Small is Beautifull karya E. F. Schumacher. Bagaimana sesuatu yang kecil, sebenarnya punyai potensi lebih indah untuk bisa berkembang.

Ya, kampung ini memang bisa dibilang kampung terindah di Surabaya. Karena selain kecil, ini mungkin jadi satu-satunya kampung yang punya taman sendiri.