Dengung Indonesia Raya berkumandang dalam pikiran sewaktu saya berada di depan rumah beratap limas itu.

Berlokasi di Jalan Mangga No 21, Tambaksari, Surabaya, rumah tersebut tak hanya membuat saya membayangkan upacara bendera, tapi juga sosok penting di balik lagunya.

Rumah yang sekarang jadi museum itu dulunya sempat ditinggali W.R. Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Pada 10 November 2018, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan bangunan tersebut dengan cukup meriah. Jalan sempit di sekitar Taman 10 November (yang dulu adalah Taman Mundu) penuh dengan manusia.

Keluarga W.R. Supratman generasi ketiga dari Jakarta, Sidoarjo, dan Purworejo ikut hadir.

Museum itu terletak di kawasan padat penduduk. Jadi mohon dimaklumi, untuk parkir mobil, kita harus berjalan 100 meter. Untuk motor, bisa diparkir di sisi jalan.

Menurut A. Syaifuna Arif, pemandu wisata museum yang sangat ramah, museum tersebut didirikan atas inisiatif Bu Risma. Bahkan, beliau mendesain museum itu sendiri.

Rumah berukuran 5 x 4 meter tersebut memiliki dua kamar yang sekarang digunakan sebagai tempat koleksi museum. Museum itu menyimpan baju W.R. Supratman saat Sumpah Pemuda dan replika biola yang biasa digunakan W.R. Supratman.

Ada juga uang dan prangko W.R. Supratman. Rekam jejak perjalanannya, mulai kelahiran sampai wafatnya, terpampang di dinding tembok museum.

Sementara itu, di halaman belakang museum, ada alat pemutar suara yang merekam bagaimana Indonesia Raya dulu dikumandangkan.

Koleksi museum diambil dari Museum Sumpah Pemuda di Jakarta, juga dari pihak keluarga. Keluarga dari Purworejo pernah menaruh dipan dan kursi di sana, namun dikembalikan karena tempatnya sempit.

Uniknya, setelah ditelusuri, rumah W.R. Supratman di Purworejo juga beratapkan limas.

Rumah tersebut sebenarnya adalah tempat tinggal Rukiyem Supratijah, kakak Supratman. Rumah itu kemudian menjadi persembunyian Supratman dari kejaran Pemerintah Hindia Belanda.

W.R. Supratman dulu menjadi buron karena menciptakan lagu Indonesia Raya.

Setelah lama melarikan diri, akhirnya Supratman tertangkap di Surabaya. Lelaki berkacamata tersebut kemudian dijebloskan ke Penjara Kalisosok.

Di dalam penjara itu, W.R. Supratman mengalami penyiksaan bertubi-tubi. Pada hari ke-17 penahanannya, Supratman tidak kuat dan akhirnya meninggal pada usia 35 tahun.

Jasad W.R. Supratman dipulangkan ke rumah di Tambaksari, lalu disemayamkan di Kuburan Rangkah.

Dulu, makam W.R. Supratman berada di pemakaman umum. Setelah dikenal sebagai pahlawan pada 1956, beliau diistimewakan dengan diberi makam yang lebih layak. Dalam museum tersebut, ada juga foto pemindahan makam W.R. Supratman.

Melihat perjuangannya itu, sepertinya museum tersebut dirasa penting untuk menghargai jasa W.R. Supratman.

Meskipun terlalu kecil untuk disebut museum karena memang bekas rumah, museum itu mampu membawa kita ke masa lalu.

Bagaimana perjuangan yang telah dilakukan tokoh yang hari lahirnya dijadikan Hari Musik Nasional oleh Megawati Soekarnoputri itu.

Melihat rumah mungil beratap limas dengan patung W.R. Supratman di halamannya tersebut sangat menyenangkan. Ada sensasi masa lalu di sana.

Yang menarik, museum itu berada di kawasan padat penduduk, tapi tidak terasa di tempat yang kumuh. Rumah tersebut bisa menjadi tempat belajar sejarah meskipun dengan kondisi seadanya.

Kita memang lebih baik mempelajari masa lalu dengan apa adanya. Dengan kejujuran, tanpa ada kebohongan atau manipulasi yang harus ditutup-tutupi.

Sebab, dengan mempelajari masa lalu, kita akan bisa belajar untuk masa depan yang lebih baik. Lagi dan lagi.

Foto: Ismail Surendra