Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini.

Setan Aspal akhirnya menjadi perbincangan banyak kalangan. Buku yang kususun secara serampangan ini memang sengaja kubuat dengan kesan horor, meski kisah di dalamnya kebanyakan berisi kisah begajul—terinspirasi dari hidup Jigong.

Sekarang, aku sedang berada di Kota M, setelah sebelumnya berjibaku dengan mobil mogok di dekat Jurang Gembala. Redaksi Ngeri dot com yang kuhubungi memberi tahuku untuk mendorong mobil sampai sisi yang agak jauh dari jurang.

Ini adalah pengalaman buruk karena, kau tahu, aku dan Jigong harus mendorong mobil di jalan menanjak, hanya berdua. Kau tahu kan harus ada satu orang yang pegang setir? Dan tentu saja itu bukan aku.

Risiko mobil ini mundur jelas bisa terjadi kalau aku mendorong sendiri. Mahmud, nama editor Ngeri dot com yang kuhubungi saat dia sedang bercinta, untungnya menghubungi salah satu narasumbernya, Pak Kamto yang merupakan warga sekitar. Kata Mahmud, dia berbuat baik padaku karena sudah lama menjadi pengagum bukuku.

Dia akhirnya membantuku mendorong sampai sisi jurang dan ajaibnya, mobilku kembali hidup. Aku bertanya pada Pak Kamto kenapa mobil ini bisa mogok, tapi Pak Kamto—entah malam itu ingin bercinta juga atau apalah—menolak menjawabnya dan menyuruhku datang kembali seusai acaraku demi penjelasan yang lebih rinci.

Sekarang, aku dan Jigong sudah melakukan tur buku. Pilihannya: langsung pulang atau mampir ke Pak Kamto. Banyak jalan menuju Roma, termasuk untuk menuju Kota S tempatku berasal. Tapi kadangkala, jalan itu memutar jauh. Aku sudah kapok dan ketakutan melewati Kota M lagi, lewat Jurang Gembala lagi.

Jigong pun  kupaksa pulang melewati jalur alternatif lain dari Kota M menuju Kota S, tanpa melewati Jurang Gembala. Dia tentu saja mengangguk setuju. Tapi tiba-tiba saja Mahmud, editor Ngeri dot com, memberi tahuku kalau Pak Kamto ingin bertemu denganku.

“Lah, kok isok, Pak! Kami nggak mau lewat Jurang Gembala lagi!” ujarku sengit.

“Lho, maaf nih Pak Arman. Aku kemarin ngasih tau sih ke Pak Kamto kalau sampean penulis buku, beliau langsung menyuruh sampean mampir lho, Pak,” ujar Mahmud. Si Anjing, pikirku.

Sementara Jigong yang mendengar obrolan ini langsung panik.

“Nggak usah wes Man, jancok! Emoh, Man. Wedi cok!” ujarnya.

Tapi jawaban Mahmud di ujung telepon membuatku tiba-tiba sadar dan memutuskan mampir sebentar ke kediaman Pak Kamto.

“Gini Pak, mungkin sampean bisa menjadikan kisah Pak Kamto sebagai bahan buku kedua. Saya tahu kok penulis itu buntu-buntunya pas mau bikin buku ketiga, apalagi kalau karya pertama dan keduanya laku,” ujar Mahmud.

Jigong, mau tak mau menuruti keinginanku.

***

“HHHHANCOOOKK GONG ALON-ALON COK!” bentakku. Kami baru saja memasuki tanjakan, yang kemudian langsung mengarah pada turunan tingkat dewa, kira-kira 60 derajat lebih, atau malah 70, 80 derajat mungkin?

“I-IYO COOOOKKKKK! SOPO SENG NGONGKON LEWAT KENE COOOKK! LAK RAIMU SE!” teriak Jigong.

Mobil terjun bebas seperti roller coaster. Dan di turunan itu, ada sebuah tikungan curam, tempat mobilku mogok kemarin, tempat yang dikenal orang-orang sebagai Jurang Gembala. Hari itu belum malam benar, malah masih sore. Tapi gara-gara Jigong mencari minimarket yang menjual rokok putihan tanpa filter—ini kesukaannya—kami jadi sampai jurang ini sehabis magrib.

“Klakson, peng telu! GONG KLAKSON COK!” aku memerintahkan Jigong seperti apa yang diperintahkan Mahmud, bahwa saat melintasi turunan itu di waktu jelang malam, biasakan membunyikan klakson tiga kali. Jigong menuruti perintahku dan dia bisa melewati tikungan itu dengan selamat, menuruni turunan landai berikutnya.

“Endi omahe Kamto cok!” bentaknya.

“Sek bentar, suruh ngenteni di pos jaga di ujung tanjakan,” jawabku.

Kami berdua menunggu Pak Kamto ini di pos jaga tak terawat, kotor, jelek, dan banyak puntung rokoknya ini. Jigong mengambil rokok putihan filternya sambil ngedumel kenapa tak ada yang menjual rokok putihan non filter.

Magrib hari tampak sepi, beberapa kendaraan melintas, beberapa yang turun selalu membunyikan klakson. Tiga kali.

Tiba-tiba, entah ini mimpi atau kenyataan, setelah suara omelan Jigong, ada pengendara motor, sepertinya wisatawan yang menuruni tanjakan, jatuh dan kemudian menabrak pepohonan dan pagar besi di sisi jurang.

JRUAAAKKKK!!!

Kami pun terkaget dan langsung menuju ke arah si pengendara.

Dua pasang kekasih. Si perempuan terlempar dan sepertinya pingsan, sementara si lelaki yang mengemudi, tak sadarkan diri—dengan helm pecah dan wajah penuh darah. Bau anyir menyebar. Jigong menghampiri si perempuan sementara beberapa orang yang lewat dan warga berbondong-bondong menghampiri dan menolong.

“Jancok, wes dikandani alas ndukur iku ojok dibukak bebas, malah dibangun warung kopi akeh, yo iki seng garai numbal wong!” ujar salah satu warga. Aku pun bertanya apa maksudnya.

“Yo iku, Mas, nang ndukur iku saiki akeh warung kopi ta opo ngono, tiap bengi iku nyetel musik ruame, dan akeh wong merunu. Jare wong seng ngerti, seng njogo nang Jurang Gembala iki nggak gelem diganggu, opo maneh akeh wong nggak amit pas lewat, yo iki seng nggarai!” ujarnya.

“Amit piye se, Pak?” tanyaku.

“Nglakson, Mas. Peng telu,” jawabnya.

Aku termenung sampai Jigong menyadarkanku.

BERSAMBUNG