Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini.

Aku memasuki rumah Pak Kamto dengan perasaan campur aduk. Kecelakaan yang baru saja kusaksikan membuatku berpikir: bagaimana kalau seandainya yang celaka itu aku? Bangke, baru juga  terkenal, udah mati duluan. Terkenalnya juga nggak banget-banget lagi.

Selanjutnya, Pak Kamto mempersilahkan aku masuk setelah menjemputku dan Jigong di pos jaga—sesuai arahan Mahmud, editor Ngeri dot com. Lalu kami bersama-sama naik mobil menuju gang kecil dekat Jurang Gembala, dan tiba di rumah Pak Kamto—yang terus terang, amat megah namun terkesan tua.

Aku berpikir bahwa Pak Kamto ini—sebagai narasumber atau juru kunci jurang—menolak semua stigma tentang rumah mbah-mbah tua yang mbaurekso tempat keramat atau menyeramkan. Biasanya hal-hal itu kau jumpai dalam film horor: rumah-rumah yang kecil, sederhana, singup dan tak begitu terawat.

Tapi di rumah Pak Kamto, aku seperti mengunjungi rumah Ki Joko Bodo—atau kalau kau masih ingat, Harry Panca.

Sementara aku dan Pak Kamto masuk rumah, Jigong bilang akan menyusul karena masih akan mengecek mesin mobil.

“Leh ayo, Mas. Ojo sungkan-sungkan. Melbuo,” ujarnya. Bisa ramah juga ini orang, pikirku.

“Oh enggeh, Pak,” jawabku.

Saat memasuki rumahnya, sebenarnya ada hawa-hawa keparat entah apa. Aku tak bisa menjelaskannya. Furnitur Pak Kamto ini lumayan membuat insting propertiku muncul: aku kayaknya harus mulai beli-beli barang kayu jati gini buat investasi, batinku.

“Piye kabare Pak Mahmud? Sehat?” tanya Pak Kamto. Aku mendelik karena beliau sudah menanyakan hal yang sama saat baru masuk mobil tadi.

“Sehat, kayaknya Pak,” jawabku, sambil mengira-ngira kondisi kesehatan Mahmud sialan yang melemparku kemari. Aku sama sekali belum mengenal Mahmud, tak mengerti rupanya, hobinya, bahkan sepak terjangnya. Aku malah merasa dia ini tipe-tipe orang menyebalkan yang membuat orang-orang merasa aneh.

“Pak Mahmud itu pernah ke sini bulan lalu, katanya mau liputan. Lah waktu itu tak pikir udah lengkap, Mas, lah kok katanya ada yang mau nulis juga,” ujar Pak Kamto.

“Maksudnya gimana, Pak?”

“Loh kata Pak Mahmud, sampean mau nulis juga tentang jurang ini di Ngeri dot com,” ujar Pak Kamto.

Aku mendelik kedua kalinya. Mahmud sialan. Aku bertamu untuk proyek bukuku, bukan untuk Ngeri dot com atau apalah.

“Sebentar ya, Mas. Tak ambilin minum. Kopi, ya? Adanya kopi aja soalnya di sini,” ujar Pak Kamto. Aku pun mengiyakannya.

Selanjutnya, aku mengeluarkan ponselku yang sudah mati sejak tadi. Kucari lobang stop kontak Pak Kamto untuk charging. Saat ponsel kunyalakan, setumpuk chat dari Mahmud sialan mengisi notifikasi.

“Bung Arman, tulis aja dulu kisah Jurang Gembala di Ngeri dot com, pasti rame. Nanti kalau kelar baru dibukukan,” tulis Mahmud.

Aku sepertinya sengaja diumpankan bajingan tengik ini. Tapi aku tak bisa marah karena merasa ide itu ada benarnya. Lamunanku terhenti saat Pak Kamto membawakan kopi panas, bebarengan dengan Jigong yang datang terburu-buru masuk rumah.

“Man, dua-duanya sudah tewas Man. Cewek cowok. Kata warga barusan,” ujarnya mengabarkan situasi terkini pasca kecelakaan.

Dan kini, setelah menyaksikan sendiri, setelah asap kopi hitam mengepul, setelah Pak Kamto mengeluarkan kretek dan membakarnya, kami, Aku dan Jigong, bersiap mendengarkan cerita Pak Kamto, sekhusyuk mungkin

***

Ada dua versi dari Jurang Gembala. Versi pertama ada ditulis Mahmud, sementara versi kedua inilah yang belum banyak orang tahu—dan rencananya akan kutulis.

Versi pertama menyebut bahwa Jurang Gembala awalnya tak bernama. Saat itu, sebelah jurang curam ini ditumbuhi rerumputan segar yang biasa dipakai para gembala sapi merumput. Belum ada pagar pembatas, membuat para gembala itu leluasa.

Tapi di akhir tahun 70an, terjadi banyak sekali kecelakaan yang melibatkan mobil dari kota dan para gembala. Ini sesaat setelah jalanan curam itu dibuka untuk umum. Mobil umumnya berkendara cepat sekali, dan banyak menyenggol para gembala—hingga ada yang sampai terlempar ke jurang.

Kau tentu sudah tahu kelanjutannya: jurang ini jadi keramat dihuni arwah penasaran para gembala yang berusaha menuntut balas. Banyak mobil dan motor ngebut yang tak memberi tanda klakson akhirnya “diminta” jurang—atau istilah kerennya, “digembalakan.”

Versi kedua adalah yang segera akan kudengar dari Pak Kamto. Tapi sebelum bercerita, Pak Kamto menyebut satu nama pengusaha properti terkemuka, Andi William Aziz—yang usianya sekarang sudah hampir 80 tahun tapi unit bisnisnya meraksasa.

Saat Pak Kamto mulai bercerita, aku mulai ragu untuk menuliskannya.

“Bangsat, ini lebih ngeri dari kisah Setan Aspal sekalipun. Bisa-bisa aku yang kena seret anak buahnya Andi kalau-kalau nekat menuliskannya,” batinku.

Sementara aku tegang, Jigong justru ketiduran dengan rokok yang masih menyala pendek di tanganya. Bajinguk tenan..

BERSAMBUNG