SALAH satu yang paling mengganggu dalam teror Bom Surabaya ini adalah lokasi dan pelakunya. Ini adalah kali pertama teror bom di Surabaya, dan juga menjadi yang kali pertama dilakukan oleh satu keluarga utuh termasuk anak kecil. Pertanyaannya, kenapa Surabaya? Kenapa anak kecil?

***

Dalam sejarah teror modern Indonesia, Surabaya menjadi salah satu tempat khusus. Pada zaman JI (2001-2009), Surabaya dikenal sebagai salah satu tempat “penghasil” aktivis-aktivis tanzhim jihadi. Tentu saja yang dimaksud Surabaya adalah Surabaya Raya. Mencakup wilayah-wilayah sekitarnya seperti Sidoarjo, hingga Lamongan.

Selain itu, Surabaya juga menjadi “hub” yang menghubungkan mobilitas personal dan barang kelompok militan ke Indonesia Timur. Terutama Poso. Beberapa kali Densus 88 Antiteror Mabes Polri menggagalkan distribusi orang dan bahan peledak di Surabaya.

Tapi, Jamaah Islamiyyah tampaknya menggunakan prinsip yang hampir sama yang biasa digunakan oleh para rampok kelas kakap asal Sumatera. Yakni, tidak pernah bermain di kampung sendiri. Memang sempat terjadi pengeboman sejumlah gereja di Mojokerto. Tapi, tak pernah Surabaya.

Ini yang menjelaskan kenapa sepanjang zaman JI, Surabaya aman. JI tak ingin mengotori kota yang menjadi tempat pembibitan dan tempat distribusi. Melakukan penyerangan hanya akan membuat kesulitan yang tak perlu.

Selain itu, sifat sasaran JI adalah far enemy. Yakni, AS dan negara-negara Barat yang memerangi Islam. Maka, sasarannya adalah symbol nafsi-nafsi Barat yang dianggap mereka tempat maksiat seperti Bali, kedutaan, dan tempat militer negara Barat.

Surabaya tak mempunyai nilai se-strategis itu. Paling banter di Surabaya hanyalah Konsulat. JI sangat menghitung antara serangan dan kerusakan yang dihasilkan. Susah-susah membuat plot penyerangan, tapi yang rusak hanya sekelas konsulat. Impact-nya gak nyucuk, kata orang Surabaya.

Beda halnya dengan zaman Jamaah Ansharut Daulah (JAD) antara 2011 – sekarang. Tanzhim jihadi yang berafiliasi ke ISIS tersebut mempunyai karakteristik menentukan serangan yang berbeda. Yang dituju adalah near enemy. Yang jadi sasaran adalah musuh terdekat yang paling bisa dijangkau. Sasaran utamanya adalah polisi. Selain symbol thoghut, polisi juga yang paling banyak membunuh ikhwan jihadi. Juga sering membongkar plot serangan mereka.

Nah, dengan pandangan harus menjalankan amaliah, dan karakteristik sasaran, maka Surabaya tidak lagi perlu harus dijaga “kesuciannya”. Jaringan Surabaya tak peduli lokasi, yang penting bisa menjalankan amaliah. Dan Surabaya menjadi near enemy yang paling near.

Sel JAD Surabaya tak perlu lagi melakukan observasi, mapping, dan perencanaan serangan bisa dilakukan dalam jangka waktu sehari saja. Sebab, karena hidup di Surabaya, mereka sudah paham jam-jam nya.

Buktinya, termasuk dengan serangan yang kemarin, sudah ada tiga plot serangan ke Surabaya yang telah dilakukan. Plot pada 2016 dan 2017 berhasil digagalkan. Namun, pada 2018 ini, petugas kecolongan. Ketua JAD Surabaya Dita Oeprianto melakukan aksi terornya pada 13 Mei lalu.

Intinya, Surabaya bukan lagi menjadi sebuah kota penting yang harus “dijaga”. JAD lebih tak memperhatikan hal tersebut. Yang penting, secara praktis bisa dilakukan, maka lakukan.

***

Soal kenapa perempuan dan anak kecil? Ada perbedaan antara aksi yang dilakukan JI dan JAD.

Tapi, semuanya berdasar pada pemahaman jihad itu sendiri. Baik JI maupun JAD sama-sama meyakini jihad tanzhim. Yakni, jihad perang dengan keharusan hidup berjamaah, taat, dan patuh dengan arahan amir. Tidak boleh melakukan amaliah di luar sepengetahuan amir. Semua bentuk kegiatan yang mengarah kepada amaliah jihad harus dibawah kontrol amir.

Di sisi lain, ada juga yang namanya jihad fardliyah. Jihad ini adalah keharusan berjihad melawan thoghut dan orang yang dianggap sebagai musuh dengan cara sendiri-sendiri menurut kemampuannya masing-masing tanpa menunggu perintah amir. Ini biasanya karena kondisi, dan umumnya terjadi karena harus melakukan jihad daf’i (seperti jihad mempertahankan tanah air, sebagaimana yang difatwakan ulama NU dalam resolusi jihadnya pada 10 November 1945 dulu).

Perbedaan antara JI dan JAD terkait masalah ini ada pada dua hal. Menurut pentolan JI Ali Fauzi, JI lebih moderat dan juga lebih berhati-hati ketika dulu menyusun plot serangan. ’’Jika mau nuruti, banyak sekali akhwat yang ingin amaliah. Tapi, kami dulu tak pernah memasukkan skema itu dalam plot serangan,’’ jawabnya, ketika saya menanyakan perbedaan JI dan JAD dalam plot serangan.

Sedangkan JAD jauh lebih radikal, dan begitu gampang menganggap sebuah situasi adalah jihad daf’i. Pengertian jihad daf’i sendiri memperbolehkan perempuan dan anak-anak untuk melakukan perlawanan hingga mati. Sebab, sudah tidak ada lagi alternatif lain.

Hal inilah yang ada di kepala Dita Oeprianto dan Tri Murtiono ketika melakukan aksi pada 13-14 Mei lalu. Merasa bahwa ini adalah jihad daf’i, mereka membawa semua anggota keluarganya untuk melakukan amaliah.

Sulit memahaminya? Sederhana saja. Manusia itu hidup dengan seperangkat nilai yang telah diyakininya. Dan para teroris itu mempunyai set of values sendiri. Secara mental, mereka sama sehatnya seperti kita. Secara religius, mereka mungkin lebih hafal dalil-dalil dan ibadah yang mereka lakukan mungkin sampai sunah-sunahnya. Tapi, mereka meyakini nilai yang berbeda. Dan itu yang membuat mereka melakukan hal-hal yang bagi banyak orang tampaknya tak bisa dimengerti. Yakni, mengajak anak-anaknya yang masih kecil untuk melakukan aksi bom bunuh diri…..