Perkembangan ilmu pergoyangan di Indonesia bisa dibilang memang nomer wahid di dunia. Bahkan, India yang hampir di setiap kesempatan selalu merayakan sesuatu sambil nyanyi dan goyang aja mungkin variasi goyangannya nggak sebanyak di sini.

Perkembangan pesat goyangan di Indonesia ini tak lepas dari para pemusik berbagai macam genre—tak  ketinggalan termasuk genre dangdut. Malahan, menurut Tim Riset DNK yang tidak terpercaya, dangdut adalah salah satu genre musik yang menyumbang variasi goyangan paling banyak.

Seakan nggak mau ketinggalan dengan kemajuan zaman yang kadang bikin wong semakin edan, variasi goyangan juga semakin berkembang dan ikut-ikutan edan. Yo piye nggak ngedan cuk, goyang sing awale cuma genjot-genjot pinggul asik, saiki wes berkembang dadi mental-mentulne tetek penyanyine.

Pancen se, kreativitas memang tanpa batas. Tapi yaa nggak gini juga bung. Menurut penerawangan pribadi nih, goyang tetek (karena nyanyinya sambil goyangin tetek) mulai merajalela di blantika musik dangdut Indonesia diawali oleh Duo Serigala dengan dua personilnya, Pamela Safitri dan Ovi Sofianti 2014 lalu.

Duo serigala dengan goyang drible-nya seakan membawa gaya baru dalam perkembangan Ilmu Goyang Dangdut Indonesia.

Harus diakui kalau goyangan dribble dua buah dada tersebut kemudian membawa mereka ke puncak kesuksesan. Pamela dan Ovi kemudian banyak diundang ke berbagai acara TV dan bahkan jadi bintang di beberapa sinteron dan film layar lebar.

Kesuksesan Duo Serigala dengan gaya hot-nya ini nampaknya jadi motivasi Duo Semangka. Setelah gaung Duo Serigala tak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya, Duo Semangka hadir dengan gaya yang hampir sama dengan goyang tetek—tapi lebih liar tak beraturan.

Saya nggak bermaksud seksis atau mengangkat isu yang sungguh sensitif ini (saya takut diserang para feminis). Saya mungkin hanya mewakili segelintir orang-orang kesepian yang kemudian kembali bersemangat pasca terbentuknya Duo Semangka.

Mungkin konten-konten kayak gini juga sih yang jadi alasan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ngebet banget pengen ngawasi YouTube sama Netflix. Selain KPI, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga ikut-ikutan nggak bisa anteng. Mereka memanggil Duo Semangka atau perwakilannya.

Dipanggil buat apa? Yang jelas nggak buat disawer!

KPAI memanggil Duo Semangka karena menindaklanjuti pengaduan masyarakat khususnya para orangtua yang resah dengan video-video Duo Semangka.

“Ada keluhan dari masyarakat bahwa ada beberapa konten dari Duo Semangka yang tidak sesuai asas kesusilaan,” kata Ketua KPAI Susanto seperti dilansir Kompas.

Buntut dari pertemuan keduanya menghasilkan tiga kesepakatan, Pertama, Clara Gopa dan Variola May membenarkan bahwa mereka adalah personel dari Duo Semangka. Mereka juga sudah mengakui kesalahannya.

Kedua, KPAI meminta agar segala aktivitas seni Duo Semangka agar diperhatikan sesuai dengan asas kesusilaan dan kepatutan di Indonesia. Ketiga, duo Semangka menyetujui dan berkomitmen untuk berinovasi dan berkreasi dalam menghadirkan karya seni yang memberi dampak positif.

Bahkan kabarnya, KPAI juga mengajak Duo Semangka bersama-sama ikut serta melakukan upaya perlindungan anak di dunia offline dan dunia maya.

Melihat kejadian-kejadian serupa yang terjadi sebelumnya di Indonesia, tidak menutup kemungkinan Duo Semangka ini akan menjadi duta Perlindungan Anak di masa depan. Apalagi paling baru, Duo Semangka baru saja mengeluarkan produk baru mereka yakni Goyang Pudar alias Goyang Putar Dada.

 Konon, goyang ini bisa membuat orang yang melihatnya terbakar api semangat lho…

Ada yang tertarik?