Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Estafet Cerbung (3): Cerita Sial Kondektur Bus Misterius

Aku benci naik bus, apalagi yang supirnya ugal-ugalan seperti yang saat ini kutumpangi. Isi perut rasanya mau keluar satu-persatu dari tubuh.  Makanan yang sebelumnya tertelan hendak meluncur dari kerongkongan namun kuhalau dengan telapak tangan.

Brengsek, keparat, mbokne dewe!

Hal bangsat satu lagi, ada seorang penumpang sengak merokok sampek asepe koyok sepur, membuat bus tua, ringsek, dan bobrok ini kian menyedihkan. Kondektur sudah menegur tapi saking bedebahnya, bocah itu masih ae ngerokok dengan pandangan merendahkan.

Kan, iki rokokku paklek, nggak njaluk sampeyan, kok kunu sing repot!

Jancok, masalahe asepe nggarai batuk satu bus. Anak setan, batinku.

Bus ekonomi murah ini nggak punya AC. Dari tadi lubang berbentuk lingkaran yang harusnya mengeluarkan hawa sejuk hanya dijadikan pajangan.

Kira-kira ada sepuluh orang penumpang termasuk aku. Yang paling menyebalkan: ada seorang perempuan yang suka berteriak “astaghfirullah”—mungkin dia mengidap penyakit latah.

Malam ini adalah malam keparat memang. Aku memergoki gebetan selingkuh dengan pria lain yang lebih sampah dariku. Sah-sah saja aku bilang seperti itu, namanya juga orang lagi marah, bebas melakukan apa saja dan bacot sakmetune ati.

Hoah. Mulut rasanya kering dan rasa kantuk menyerang cok. Numpak bus asu…

Aku pengen meloncat keluar dari bus tapi tidak dengan cara membenturkan kepala seperti salah satu penumpang gendeng di bus ini—yang duduk tak jauh dariku. Tak ada yang tahu motivasi ia mengadu batok tengkorak dengan kaca jendela, tak ada yang peduli atau mengingatkan lelaki muram itu untuk berhenti bertindak gila.

Dari Terminal Bungurasih, bus busuk ini berangkat dengan kencang seperti dikerjar setan atau setoran atau keduanya. Saat naik bus, aku selalu ingat pertama kali mengantar gebetanku sampai terminal, menunggunya pulang sampai kampung halaman. Tapi, ujung-ujungnya berakhir tragis seperti ini.

Jancuk, tai kucing yang namanya cinta.

Hape sedari tadi kumatikan. Aku sudah melontarkan kata-kata makian seperti babi, lonte, sampai sumpah serapah agar dia kena karma lewat pesan singkat. Kelihatan kayak tindakan pengecut memang, tapi kalau kamu pernah dengar dongeng si pahit lidah, kamu nggak bakalan ngomong koyok ngunu. Apa yang dia ucapkan selalu jadi kenyataan terutama jika sedang marah.

Setelah puas melontarkan amarah, terdamparlah aku di sini, menaiki bus sialan yang tak tahu mau ke mana. Aku tak sampai penasaran untuk bertanya karena sudah kepalang capek dengan diriku sendiri. Aku memejamkan mata, tak peduli dengan bunyi kendaraan meraung tiap kali supir menyalip dengan kurang ajar.

Para penumpang sesekali mengingatkan supir agar lebih memelankan bus terkutuk ini, namun pedal rem seolah tercabut dari badan kendaraan.

Aku tidur dan aku tahu sedang bermimpi. Tak ada suara apa-apa ketika manusia tengah berada dalam alam bawah sadar. Aku tetap sadar bahwa aku telah membiarkan tubuh hanyut ikut gerakan bus yang seenak kemaluan supir.

Aku melihat perempuan itu tersenyum dengan penuh keyakinan dan wajah menyeramkan. Wajah yang tak pernah aku lihat sepanjang kami bersama. Mungkin kutukan yang kuberikan telah berhasil, ia dengan kekasihnya pergi ke neraka seterusnya.

Sampai teriakan ketakutan dan jeritan penumpang lain membangunkanku dari tidur ayam tadi.

“Jancuk!”

“Jembhot!”

“Bajingan!”

“Brengsek!”

“Astaghfirullah!”

“Emak!”

Prass!

Bus menabrak atau menghantam sesuatu, kubayangkan para penumpang menggelepar layaknya kain sarung tanpa tulang. Darah di mana-mana, api merah membakar mesin atau daging manusia mana yang lebih tepat aku kurang tahu, hidungku membaui mereka.

Perasaan amarahku sudah hilang entah kemana, yang ada hanya rasa hampa dan tak tahu harus berbuat apa. Rasa sakit patah hati dan badan yang remuk berbaur jadi satu.

Kesadaranku tak sepenuhnya bisa dipercaya, kepalaku tertunduk terhimpit kursi, aku memutuskan untuk memejamkan mata, entah untuk sekejap atau selama-lamanya…

BERSAMBUNG…

Kisah berikutnya bisa dibaca di sini:

Estafet Cerbung (5): Bola Mata yang Menggelinding, Sopir Kepala Buntung yang Terbangun