AKU adalah bocah delapan tahun yang paling beruntung! Aku akan diajak jalan-jalan ke “jannah”,  salah satu tempat yang aku tahu sangat indah. Diceritain orang tua dan guru-guruku, sih. Katanya,  di sana udaranya sejuk, banyak mainan, banyak teman malaikat yang lucu-lucu.

Dan yang paling menyenangkan, ada kolam yang berisikan susu segar. Ah, senangnya!

Tapi, kok, kakak-kakakku dan Abi-Ummi malah menangis sih? Kita juga berpelukan lama abis salat subuh berjamaah pagi ini, seperti mau berpisah. Ada apa sih? Padahal kan sebentar lagi kita mau jalan-jalan ke jannah, katanya.

Ah, mungkin mereka abis membicarakan hal-hal yang aku tak boleh mengerti. Gak apa lah, toh aku masih kecil. Kan yang penting sebentar lagi kita jalan-jalan! Yeay!

Sebelum berangkat, kami berpelukan erat sekali. Napasku sampai terasa sesak. Abi dan ummi lalu menyuruhku dan kak Dhila masuk ke mobil. Aku duduk manis di samping kak Dhila sambil menunggu yang lainnya.

Lho, tapi kok Kak Yusuf ama Kak Firman malah naik motor sih? Kok gak bareng naik mobil aja ama aku, kak Dhila dan abi-ummi? Kan mobilnya masih cukup!

“Kak Yusuf dan Kak Firman ada urusan dulu bentar. Nanti kita langsung ketemuan  di jannah, kok!” ujar Ummi. Ya sudahlah, tak apa. Yang penting kita sebentar lagi ke jannah bersama!

Aku melambaikan tanganku ke kedua kakak laki-lakiku dari dalam mobil. “Sampai ketemu nanti ya kak!” teriakku pada mereka, yang dibalas dengan senyuman.

***

Besok hari Minggu! Wah, waktunya ke gereja! Seneng dong, kan besok bakal ketemu temen-temen! Apalagi biasanya papa-mama suka ngajak jalan-jalan abis dari gereja. Siapa tau nanti bakal dibeliin mainan spiderman lagi!

Aku melirik Ko Evan. Dia sedang menyelesaikan PR-nya. “Ko, besok mama masak apa ya? Aku pengen dibikinin bento yang bentuknya kepala spiderman deh!” ujarku.

Belum sempat mendengar jawaban Ko Evan, aku sudah tertidur pulas duluan. Yang aku tau tiba-tiba sudah pagi, mama membangunkanku dan menyuruhku untuk bergegas bersiap ke gereja. Duh, padahal kan masih ngantukkk.

***

Abi menghentikan mobil, lalu Ummi dan kak Dhila menuntunku turun dari mobil. Abi tidak turun, beliau masih di dalam mobil. Mungkin Abi mau pergi memarkirkan mobil.

Ummi menggandeng tanganku dan kak Dhila, kami berjalan cukup jauh. Aku sebal dan lelah. Katanya mau ke jannah, tapi kok pake jalan jauh dan mesti pake cadar segala sih? Biasanya kemana-mana pake jilbab aja cukup kok. Apa ini syarat buat masuk ke jannah ya?

Aku masih mengatur nafasku yang tersengal, sampai akhinya aku baru sadar kalau kami berada di depan gereja. Aku bingung, katanya mau ke jannah, tapi kok malah ke tempat orang Kristen sih? Kan katanya kita gak boleh masuk gereja. Tuh kan, ummi gak dibolehin masuk ama satpam kan?

***

Horeee! Sampai di gereja juga akhirnya! Selain bertemu teman-teman, aku biasanya juga bertemu dengan Ce Evelyn, sepupuku yang paling cantik!

Aku dan Ko Evan turun dari mobil. Tak jauh, aku melihat Ce Evelyn. Aku langsung berlari menghampirinya dengan Ko Evan, meninggalkan mamaku yang baru saja turun dari mobil. “Hati-hati! Jangan lari-larian, nanti jatuh!” teriaknya.

Aku tak menghiraukan teriakan mamaku, kami sudah terlanjur sibuk bercanda sendiri. Ah, semoga khotbah hari ini tidak membosankan dan cepat berakhir. Aku masih ingin bermain lagi dengan Ko Evan dan Ce Evelyn!

***

Ummi dicecar banyak pertanyaan oleh satpam yang menghadang kami. Ummi tampak kebingungan. Sekilas, ummi melihat ke kak Dhila dan aku, bergantian. Bapak satpam meminta kami untuk pergi.

Aku kesal. Kenapa kita gak pergi aja sih? Kan udah diusir ama satpamnya. Lagian, kan kita katanya mau ke jannah, kok malah ke gereja sih?

Ummi kembali menatap kak Dhila, lalu meraih sesuatu dari pakaian kak Dhila. Untuk sepersekian detik, Ummi terhenyak, kaget. Ummi lalu menatapku, menarik sesuatu dari alat yang menjadi syarat untuk ke jannah yang diikatkan ke pakaianku. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, mendadak semuanya gelap.

***

Sayup-sayup aku mendengar ada kakak-kakak naik motor yang sedang ribut dengan susuk yang biasa menyapa kami ketika memasuki gereja. Aku baru saja mau bercanda lagi dengan Ko Evan, tapi mendadak aku dan Ko Evan terbang. Kami terlempar jauh, lalu terbanting kembali ke pelataran gereja. Aku tidak melihat Ko Evan. Mama mana? Sakit, Ma…

***

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan bahwa pelaku pengeboman adalah satu keluarga. Dita Oeprianto, ketua JAD Surabaya, mengajak keluarganya menjadi pengantin bom bunuh diri. Dua anak laki-lakinya berboncengan membawa bom pangku berbahan TATP untuk melakukan aksi bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Beberapa diantaranya korbannya adalah Evan dan Nathanael, kakak beradik yang masih berusia 12 dan 8 tahun.

Kemudian, Puji Kuswati, istri Dita, membawa dua anak perempuannya yang berusia 12 dan 8 tahun juga, untuk melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia, Diponegoro, Surabaya. Begitu masuk kawasan gereja, seorang satpam menghentikannya. Puji panik, dan kemudian menarik detonator di tubuh anak perempuannya yang paling dewasa. Tidak meledak, dia lalu menarik detonator di tubuh anak perempuan bungsunya yang berusia delapan tahun.

Percobaan tersebut berhasil, bom di tubuh anak bungsuya meledak dan kemudian memicu ledakan di bom selanjutnya.

Mata saya basah membaca berita serangan bom bunuh diri di Surabaya. Saya tak paham, kenapa anak kecil harus menjadi korban, terutama anak-anak pelaku. Bagaimana mungkin seorang ayah mengarahkan anak-anaknya untuk mati dengan melakukan bom bunuh diri. Sungguh tak masuk akal.

Saya berdoa untuk anak-anak itu. Saya membayangkan Evan, Nathanael, dan anak-anak pelaku bom bunuh diri itu berada di surga. Asyik bermain-main. Dan ketika capek, mereka tidur di kasur nyaman, yang alas tidurnya selalu ditata para malaikat.

Maafkan orang-orang dewasa ini, Nak…

Disclaimer: Tulisan ini adalah cerita imajinasi penulis yang dibuat berdasarkan insiden hari Minggu, 13 Mei 2018 di 3 gereja di Surabaya.