Memperoleh segelontor penghargaan nampaknya tak pernah memuaskan hasrat Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Awal tahun ini saja, nggak tanggung-tanggung, Surabaya sudah menorehkan kebanggan dengan membawa pulang lima penghargaan sekaligus.

Lima penghargaan yang datang dari dalam dan luar negeri tersebut meliputi Online Popular City Guangzhou Award 2018, Adipura Kencana kategori Kota Metropolitan, Nirwasita Tantra kategori Kota Besar, Kinerja Pengurangan Sampah, dan Sekolah Adiwiyata.

Tri Rismaharini menyampaikan, disamping diperolehnya penghargaan-penghargaan itu, tujuan utama dalam menata Kota Surabaya adalah mensejahterakan warganya.

Sebelumnya, pada pertengahan September tahun lalu, Risma sendiri didapuk sebagai menjadi Presiden United Cities and Local Goverment (UCLG) Asia Pasific periode 2018-2020. Terpilihnya Bu Risma sekaligus mengakhiri forum resmi kongres UCLG Aspac ketujuh yang diadakan di Surabaya saat itu.

Sekretaris Jenderal UCLG Asia Pacific, Bernadia Irawati Tjandradewi mengatakan, Risma terpilih secara aklamasi dalam pemilihan presiden ini. Ngerti aklamasi nggak rek? Aklamasi adalah persetujuan yang dinyatakan secara lisan oleh seluruh peserta rapat atau musyawarah. Paham kan?

“Mereka memilih Bu Risma karena memang beliau sudah terkenal bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga di tingkat internasional,” ujar Bernadia dilansir Detik.

Benadia menambahkan, terpilihnya Risma menunjukkan banyak pihak dari berbagai negara di Asia Pasifik percaya bahwa terpilihnya Walikota Surabaya ini bisa membawa perubahan dan bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di berbagai negara. Sebagaimana yang sudah Risma lakukan di Surabaya.

Nah ini, yang terbaru, Risma bahkan sudah mencanangkan pembangunan taman lebih banyak di Kota Surabaya. Meski saat ini setidaknya sudah terdapat sekitar 400 taman di Kota Pahlawan, tak lantas membuatnya puas.

“Lho, kita memiliki target 30% di Surabaya itu adalah kawasan terbuka hijau. Target saya menurunkan suhu udara di Surabaya menjadi 20 sampai 22 derajat Celcius. Saya yakin kita mampu, wong buktinya aku udah menurunkan 2 Celcius kok.”

“Dulu kan suhu di Surabaya ada di 34 sampai 36 derajat Celcius, sekarang berada di kisaran 30 sampai 32 derajat Celcius. Saya nggak ngomong ngawur lho, ini ada datanya. Sekarang kalo pagi, Surabaya di beberapa titik tertutup kabut,” ujar Risma di peresmian Taman Harmoni, Kamis (16/5) lalu.

Risma juga menambahkan, meski Surabaya sudah memiliki 400 taman, semuanya punya konsep masing-masing. Contohnya, Taman Harmoni yang punya konsep sebagai taman bunga, sedangkan Taman Pakal dan Taman Undaan punya konsep Taman Buah.

Kepala badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), Eri Cahyadi menjelaskan, saat ini Taman Harmoni rencananya akan punya jembatan penyebrangan orang (JPO) yang menghubungkan antara taman bagian utara dan selatan.

“Kita memiliki dua lahan yang terpisah dengan milik perseorangan. Kita usahakan untuk membebaskan hal tersebut untuk dibuat JPO,” ungkapnya.

***

Anak-anak bermain bola di Taman Bungkul (15/5)

Berdasarkan pengamatan pribadi saya, Kota Surabaya yang saat ini punya luas total 326,81 km2 (data BPS 2016), maka total Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang direncanakan adalah seluas 98,043 km2. Bila dikonversi, kira-kira seluas 9804.3 hektar.

Nah, tanah iku nek digawe lapangan bal-balan standar FIFA, wes dadi 2.801 lapangan rek! Gendeng nggak?

Bila terlaksana, maka konsep 30% RTH Surabaya akan mengalahkan beberapa kota besar dunia seperti Paris (9,5%), Warsawa (17%), dan New York (19,7%). Angka tersebut masih dibawah di London yang mencapai 33 persen dan Roma 34,8 persen.

Bila dibandingkan dengan kota-kota besar di Asia, ada dua kota yang punya RTH terbaik menurut Skyscrappercity, yakni Hongkong (40%) dan Singapura (47%).

Risma mengatakan, masyarakat Surabaya harus bersiap untuk ikut menjaga dan merawat Kota Surabaya.

“Seperti apapun usaha Pemkot mempercantik kota kita kalau warga tidak ikut serta membantu dan integrasi maka tidak akan berjalan baik,” ujarnya.

Saat ditanyai perihal adanya pihak yang memanfaatkan taman tersebut sebagai tempat berpacaran, Risma mengaku tak risau dengan hal tersebut.

“Ya pacaran ya pacaran aja asal tahu batasan,” jelasnya sambil tertawa.