Sempat berhenti, peraturan kantong plastik berbayar mulai diterapkan kembali sejak 1 Maret lalu. Katanya sih, kebijakan ini diharapkan mampu menekan jumlah produksi sampah plastik yang dihasilkan oleh masyarakat. 

Dengan harga 200 perak per kantong plastik, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Asprindo) mengambil langkah ini guna mendukung salah satu visi pemerintah Indonesia yang ingin mengurangi 30 persen volume sampah, termasuk sampah plastik, pada 2050 nanti.

Permasalah kantong plastik ini kembali panas lantaran adanya penemuan seekor paus jenis sperma yang mati di Wakatobi. Dalam perut paus itu, ditemukan 5,9 kilogram sampah. 

Dihimpun Tirto.id, sampah tersebut terdiri dari berbagai tipe sampah, seperti: sampah gelas plastik 750 gram (115 buah), plastik keras 140 gram (19 buah), botol plastik 150 gram (4 buah), kantong plastik 260 gram (25 buah), serpihan kayu 740 gram (6 potong), sandal jepit 270 gram (2 buah), karung nilon 200 gram (1 potong), tali rafia 3.260 gram (lebih dari 1.000 potong).

Anjing pegel ngitunge. Itungen dewe lah. Lapo yoan aku memberi data detil lek kon males moco angka-angka.

Tapi, opo iyo seh kalau dengan ngasih harga 200 repes bisa menekan penggunaan plastik di masyarakat, khususnya di bidang retail? 

Peraturan ini berkesan hanya sekadar melaksanakan “kewajiban” saja. Baik kewajiban sebagai manusia yang harus merawat bumi sebagai planet untuk berkembang biak, atau sebagai pihak berkewajiban karena aktif pakai plastik. 

Aturan kantong plastik berbayar tidak akan membuat lingkungan kita jadi bebas dari kantong plastik, tidak bisa seperti itu dan tidak akan pernah semudah itu. 

Namun, sebaliknya, menghapus kantong plastik juga bukanlah hal yang mudah. Ketergantungan masyarakat Indonesia akan kantong plastik rasanya sudah seperti kebutuhan seorang milenial dengan gawai pandai mereka. Dipisahkan memang tak bikin mati, namun sudah pasti membuat candu.

Bagaimana enggak? Saat membeli kebutuhan di retail maupun pasar tradisional, sudah pasti untuk membawa barang yang dibeli dengan (biasanya) kalian menggunakan plastik, ‘kan? Belum lagi, samphomu, plastik rotimu, wadah susu sachetmu, kui kabeh lak yo soko plastik, jancuk!

Oke, aku ngerti kon mulai mikir, “lha ‘kan para pembeli iso diubah mindsete untuk nggowo tas tiap kali akan membeli suatu kebutuhan?” 

Yo opo rek, sepiro sih uwong sing wes bener-bener sadar tentang hal cilik iki? Sing gelem gowo tas saka ngomah demi membiasakan tidak lagi menggunakan tas plastik? Koe wes iso menerapkan hal ngene iki ra? 

Nek ora, rausah sok-sokan nggaya ngomong, “mari membawa tas sendiri agar terbiasa tanpa tas plastik.” Bacot rek! Aku lho, yo podho ae.

Perubahan mulai diri sendiri. Hmm.. ojo waton semangat cinta lingkungan pas isu ngene iki lagi panas, pas lagi musim cinta lingkungan dadi peduli lingkungan kabeh. Engko raono telung dino wes nganggo plasti meneh? 

Koyo cah labil sing bar nonton film 5 cm, kabeeh dadi munggah gunung, pas enek film Filosofi Kopi, kabeeh dadi ahli kopi ambek barista, nah saiki pas ono film Dilan kabeh melu-melu tawur sambi ahli gombal.

Lha kok yo pas musim film Ketika Ajal Menjemput kalian ra dadi setan? Tai asu lah. Dasar generasi labil.

Ya mugo-mugo wae, apapun programnya, harapane dewe kabeh ki supoyo ra gur Suroboyo, ning ya sak Indonesia. Sak dunya. Lebih mencintai bumi dengan menggunakan barang-barang yang organik. Yang mampu terurai dengan waktu yang singkat. 

Tak lagi melukai bumi kita, dan jangan lupa untuk tak hanya mencintai pacarmu tapi juga sayangi sesama makhluk Tuhan.

Solusinya: gunakan pembungkus yang ramah lingkungan atau tidak sama sekali. Save our earth!