Jika kamu jalan-jalan ke Kota Batu, jangan cuma membeli apel dan menikmati ketan legenda yang—sorry to say—tidak terlalu melegenda di lidah. Kamu mungkin perlu coba yang satu ini: singgah ke Museum Omah Munir.

Mungkin berkunjung ke sana tidak akan membuatmu langsung jadi pahlawan atau aktivis. Singkirkan juga tujuan ke sana demi wisata aktivisme hipster kalian.

Museum Omah Munir lebih berpotensi membuatmu jadi warga negara yang yang cinta damai, menghargai perbedaan, dan toleran setelah berkunjung.

Setidaknya saya—seorang pemuda kencur apatis dan doyannya melempem pada isu sosial—merasakan tiga hal ini pasca berkunjung.

Dengan dibalut jas hujan saat suasana sore Batu sedang diguyur hujan pada Minggu (9/12), sampailah saya di Museum HAM Omah Munir. Terletak di Jl. Bukit Berbunga no.2 Kota Batu, dari halaman saya langsung disambut figuratif patung separuh badan tanpa lengan Munir Said Thalib.

Seolah menyapa dengan tegas.

Sayup-sayup saya mendengar orasi Munir terngiang sendiri dalam kepala. Orasi legendaris yang jadi pembuka lagu Homicide, Rima Ababil.

“Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan.”

Dari luar, Omah Munir tampak seperti rumah biasa. Namun ketika masuk kedalam ruangan berukuran sekitar 8 x 9 itu, pemandangan berubah layaknya museum.

Berbagai macam peninggalan aktivis HAM yang dibungkam di langit Rumania tampak terpajang. Seperti meja kerja, Paspor, KTP, SIM, skripsi, dan pakaian yang tersusun rapi di etalase Museum Omah Munir.

Selain peninggalan Munir, Museum Omah Munir juga dipenuhi poster infografis kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Juga ada perjalanan hidup lelaki keturunan arab ini, serta mural tokoh aktivis yang hilang menjelang reformasi.

Sebenarnya semua sangat fotogenik, tetapi saya urungkan niat saya berfoto. Ini untuk menghormati mereka yang dihilangkan entah kemana.

Kemudian tampak keluar sosok Suciwati, istri almarhum Munir yang mengenakan jaket parka merah sedang menelpon entah siapa. Setelah menutup telepon, langsung saja saya menghampiri beliau untuk mengetahui lebih banyak mengenai sosok Munir, langsung dari orang terdekatnya.

“Oh iya mas, kami sangat senang DNK.ID datang untuk meliput hal ini. Tapi kami lagi sibuk mempersiapkan acara peringatan 5 tahun Munir di Balai Among Tani. Jadi besok datang kesana saja mas,” ujar wanita berumur 50 tahun itu.

Tidak ingin pulang dengan tangan kosong, saya memutuskan untuk merasuki Museum HAM Omah Munir lebih dalam, mamandang dan membaca detail informasi yang dipajang di setiap sudut ruangan.

Sembari bertanya pada sejumlah orang, demi memperkaya pandangan soal sosok Munir: pahlawan saya, pahlawanmu, pahlawan kita semua.

***

Ali Nursahid, lelaki paruh baya itu, sedang duduk santai di bangku pelataran Museum Omah Munir sambil mendengarkan musik. Tampak juga beberapa buku di depannya—masih belum diselesaikan.

Lelaki yang disibukkan di Pusat Studi Islam dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina Jakarta ini, bertandang ke Kota Wisata Batu untuk menghadiri peringatan 5 tahun Museum HAM Omah Munir besok.

Meskipun bukan termasuk pengurus Museum HAM Omah Munir, Ali ini sedikt banyak juga aktif dalam dalam membantu Museum Omah Munir.

Saya kemudian berkesempatan mengobrol langsung dengan Ali, soal bagaimana sosok Munir dan penegakan HAM di Indonesia.

“Museum ini dulunya adalah rumahnya Munir, kalau nggak salah tahun 1999 atau 2000-an. Kemudian rumah ini didedikasikan untuk publik, teman dan sahabat Munir. Ini agar ingatan tentang Munir dan perjuangan kemanusiaan terus terawat.”

“Di sini tidak semua isinya tentang Munir, di dalamnya juga banyak ingatan tentang kasus-kasus kemanusiaan yang lainnya. Didedikasikan khusus untuk keluarga korban,” ujar Ali.

Mereka berebut kuasa, mereka menenteng senjata, mereka menembak rakyat, kemudian mereka bersembunyi di balik ketek kekuasaan.

Selanjutnya saya menanyakan penuntasan kasus Munir yang belum kelar selama 14 tahun. Apakah ini juga termasuk janji politik pemerintahan yang hanya isapan jempol belaka?

“Penuntasan kasus Munir bukan bermasalah pada Rezim Jokowi saja, tapi juga rezim sebelumnya. Tidak ada komitmen sama sekali. Terakhir, teman-teman menuntut janji Jokowi untuk membuka dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) kasus ini.”

“Sangat aneh dan mecurigakan sekali sih, sekelas pemerintahan bisa kehilangan dokumen yang sangat penting ini,” ujar Ali sambil menghisap rokok dari sela jemarinya.

Ali selanjutnya menanggapi soal tren kebanyakan orang, yang hanya mengingat Munir hanya sebatas seremonial di tanggal 7 September, tapi tidak pernah aksi nyata.

“Memperingatinya sendiri itu penting. Ini karena mengingatnya akan membuat kita mempelajarinya lebih dalam dan muncul usaha memperjuangkannya. Kalau diingat aja nggak, gimana mau dilanjutkan perjuangannya.”

“Jadi memaknai mengingat secara politik itu penting, walaupun hanya seremonial dan normatif. Tapi ‘kan jadi sebuah ingatan kolektif yang harus tetap ada.”

Kematian Munir memang masih menuai kontroversi. Tapi titik terang sepertinya masih belum tampak. Kasus Munir semakin terombang-ambing, sementara masalah HAM juga masih jadi ancaman.

Termasuk yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu, di mana sejumlah mahasiswa Papua yang menuntut hak asasi untuk menentukan nasibnya sendiri, dibungkam dan direpresi.

“Kasus pelanggaran HAM di Papua harus diperhatikan oleh pemerintah, dan itu adalah ekspresi teman-teman Papua agar persoalannya diselesaikan. Ini karena kekerasan di sana sudah lama terjadi, terus menurus dan tidak ada koreksi.”

Pemerintah di Jakarta tidak pernah mendukung Papua jadi lebih baik, jadi menurut saya sah-sah saja teman-teman Papua minta menentukan nasibnya sendiri,” ujar Ali.

Sesudah mendapat penjelasan, pikiran saya pun berhenti pada hal lain. Saya seringkali menjumpai banyak pihak yang mungkin sengaja me-monetisasi Munir, sebut saja dengan memproduksi kaus wajah Munir dengan Tulisan ‘Melawan Lupa.’

Kaus kemudian secara besar-besaran, padahal menurut saya, Munir adalah sosok yang seharusnya dihormati.

Tapi Ali punya pendapat bijak soal masalah ini.

“Munir sekarang sudah menjadi milik publik, seperti Sukarno. Jadi kalau orang berekspresi dengan caranya masing-masing meskipun untuk kepentingan memperkaya diri, ya sah saja.”

“Menurut saya bagus, karena dengan begitu, Munir akan makin selalu diingat dalam ingatan. Melawan lupa.”

Setelah puas berbicara, saya ditemani Bung Ali, masuk kembali ke dalam Omah Munir. Bang Ali juga menjelaskan soal beberapa karya seni yang berhubungan dengan persoalan HAM di Indonesia.

Mungkin akan panjang sekali kalau dituliskan di sini, karena itu saya mengajak kamu semua, mengunjungi langsung Omah Munir: museum tempat seorang aktivis membela HAM sepanjang hidupnya, tapi dipaksa gugur oleh penguasa.