Halo Cak Zuki. Ah ternyata kita senasib. Pernah jadi korban tukang parkir liar yang nggatheline pol. Jukir model ini saya masukkan dalam golongan Jelangkung. Datang tak diundang, pulang tak diantar.

Bahkan, lebih serem dari Jelangkung. Karena mereka ga mau pergi kalau ga dikasih duit. Cuk dus emang.

Tapi sayange nasibku luwih amsyong teko sampeyan mas. Begini ceritanya: Suatu ketika saya bersama dua orang teman ziarah ke Makam Sunan Ampel Surabaya. Sudah menjadi kebiasaan, setiap habis ziarah, kami tidak langsung pulang. Tapi ngopi tipis-tipis dulu di salah satu warkop di daerah sana.

Jadi kami biasanya memarkirkan sepeda motor di depan warkop tersebut. Bukan di parkiran yang sudah disediakan pengelola makam.

Sebelum-sebelumnya kami tidak pernah bermasalah dengan biaya parkir di sana . Bahkan ketika tarifnya lebih mahal dari harga kopi yang kami minum. Waktu itu harga kopinya masih 2.500 rupiah dan ongkos parkirnya 3.000 rupiah.

Namun malam itu sungguh keterlaluan. Kami ditarik parkir 5.000 rupiah untuk satu kendaraan. Lek 3000 mungkin rasane cuma kurang ikhlas. Tapi iki 5000. Getihku langsung umup. Ndasku cemut-cemut. Mata merah, bibir pecah-pecah. Wes pokoke ga terimo.

Sontak saja tanpa babibu, saya beraksi seperti tips yang disarankan oleh Cak Marzuki itu. Langsung tak gedrak. Tak bentak, tak labrak. Karo mendelik pisan. Pokoke setel sangar.

Tapi, ternyata tips dari sampeyan itu tidak selalu manjur. Beda orang, beda juga reaksinya.

Dalam kasus saya yang terjadi malah sebaliknya. Bukannya nyalinya ciut, dia malah membentak balik saya. Padahal emakku dewe ae ga tau ngamuk semonone.

Tidak berhenti di situ. Hanya berselang seperseskian detik, tanpa perlu dikomando siapa-siapa dua orang temannya, yang sama sangarnya, datang ikut memberi tekanan.

Saya membayangkan, apakah Cak Zuki masih akan tampil garang dengan gertakan dan ancamannya jika sudah dikepung oleh tiga orang yang jauh lebih besar dari dirinya?

Harap diingat ya, mereka mengerubungi saya bukan seperti bocah alay yang sedang mengantre berfoto bersama Bowo Alpenliebe. Tapi tampang mereka sudah seperti banteng yang siap nyeruduk matador.

Baiklah, saya ingin berpikir positif saja. Mungkin Cak Zuki akan tetap konsisten pada sikapnya. Melawan tukang parkir itu. Pokoke, situ jual saya kredit.. Eh saya beli..

Bisa jadi bliyo pernah belajar wushu, taichi, wing chun, atau kungfu. Atau malah memang seorang petarung MMA. Sayangnya, saya tidak begitu. Pernah sih ikut MMA, tapi bukan Mix Martial Art. Melainkan Maju Mundur Asyik.

Jadi sebenarnya saya mau maju melawan tapi karena situasinya nggak asyik, jadi mundur saja.
Si jukir beralasan bahwa naiknya biaya parkir tersebut karena kami parkir sejak pukul 16.00 WIB dan baru keluar pukul 24.00 WIB. Jadi sistemnya kayak smart parking.

Karena itu, sudah ada pergantian shift. Jukir yang berjaga saat memarkirkan motor sudah berbeda saat kami hendak pulang. Karena tidak mau memperpanjang masalah, akhirnya teman saya menyarankan agar membayar saja.

Tindakan kami untuk tidak melawan kepada para jukir itu bukan karena kami mendukung praktik pungli, melainkan hanya tidak mau memperpanjang masalah.

Bukan rahasia lagi kalau ada oknum-oknum penguasa di belakang korps tukang parkir. 

 

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, kami bukan penduduk asli Surabaya. Sementara kami masih harus tinggal di Surabaya dalam waktu yang relatif lama.

Kedua, para tukang parkir itu kebanyakan adalah orang-orang yang tersingkirkan oleh ketatnya persaingan ekonomi. Jadi ketika parkir yang menjadi sumber nafkahnya ada riak-riak masalah, mereka cenderung agresif.

Ketiga, kita harus selalu ingat bahwa parkir itu tidak diorganisir oleh OSIS anak-anak SMP. Yah, tahulah siapa yang menjadi bos tukang parkir itu.

Bukan rahasia lagi kalau ada oknum-oknum penguasa di belakang mereka.
Jadi, kalau ingin membenahi masalah retribusi parkir, saya rasa pemerintah yang harus turun langsung ke lapangan.

Terdengar klise sih. Memangnya siapa yang tidak tahu masalah per-parkir-an ini? Ini sudah jadi rahasia umum kok. Tapi sampai sekarang masalah tersebut masih tercecer di pinggir jalan, belum ada yang mampu (atau mau) membersihkannya.

Ini memang bukan perkara mudah, tapi apa sih yang tidak bisa diatasi jika pemerintah yang turun tangan? Dolly saja bisa ditutup kok.

Atau kita bikin organisasi baru, Cak. Saya usul namanya Pakir Miskin. Singkatane, Pakir = Paguyuban Korban Tukang Parkir. Lha Miskine opo artine mas? Yo ga ono artine lah. Cek terkesan teraniaya ae. Supoyo keluhane awake dewe dirungkno Bu Risma.