Tiga hari terakhir, Surabaya sudah menjadi medan perang. Mulai Minggu pagi (13/5), bom meledak di tiga gereja. Sebanyak 17 orang tewas dan banyak yang terluka. Sejak tiga bom gereja itu meledak, kabar adanya bom baru terus berdatangan. Baik yang cuma hoaks ataupun kenyataan.

Minggu malam, ledakan terjadi di Wonocolo, Sepanjang. Di rusun Wonocolo yang berdekatan dengan Stasiun Sepanjang tersebut, bom meledak. Tiga orang yang merupakan satu keluarga tewas seketika. Hanya menyisakan seorang anak yang masih hidup dan kini sedang dirawat di RS Bhayangkara.

Saya membayangkan bom yang disebut mother of satan itu dilempar ke Stasiun Sepanjang, berapa banyak lagi nyawa yang akan hilang. Duh Gusti paringono Avengers!

Daerah otonomi khusus Petemon, tempat saya tinggal, bereaksi. Kami tahu Surabaya sedang menjadi sasaran utama para teroris jancukan itu. Tapi kami tidak tinggal diam. Gak athek sungkan-sungkanan.

Malam hari setelah kejadian bom tiga gereja tersebut, warga merapatkan barisan. Darah pejuang yang diturunkan dari kakek buyut kami terkesiap. Ibarat tombol yang lama tidak diaktifkan, kini secara otomatis muncul lagi. Wong kami ini warga Surabaya default-nya memang pahlawan kok.

Belanda dan sekutu yang senjatanya modern saja kami usir. Apalagi teroris yang gocik dan cuma bermodalkan mercon bantingan. Kene nek wani koen!

Sejak malam hingga pukul 04.00 WIB, warga daerah istimewa Petemon mengecek kembali penduduknya. Mengecek kelengkapan nama, alamat, dan latar belakang siapa saja yang tinggal di situ. Plus siapa yang sekiranya berpotensi untuk menjadi teroris berkaitan dengan aktivitas keagamaan.

Ini bukan untuk kecurigaan, tapi antisipasi. Dan warga sekitar sudah tahu siapa saja mereka.

Namun, para pejabat tinggi daerah otonomi khusus Petemon menyatakan aman. Selama yang bersangkutan masih bisa terpantau kesehariannya, tidak ada masalah. Rumah mereka tidak benar-benar tertutup dan total anti tetangga. Belum sampai segitu.

Apakah kami harus sungkan? Tidak. Kami tatag-tatag saja. Apakah kami takut dianggap melanggar wilayah privasi dan hak asasi manusia karena kecurigaan kepada warga sendiri? Tentu tidak! Kan sudah minum Combantrin!

Dalam situasi ini, inisiatif justru dibutuhkan untuk mengambil tindakan tegas dan berani. Bukan untuk mempersekusi atau mengeksekusi, tapi memantau semua potensi bahaya. Curiga dalam upaya menjaga keamanan boleh-boleh saja. Yang penting tidak menuduh. Betul gak, Rek?

Alhasil, Petemon relatif aman. Warga kampung masih saling menjaga satu sama lain. Ukurannya sederhana: pawon tetap terbuka untuk emak-emak yang saling curhat dan berbagi masakan.

Yang lebih penting, bakul mlijo tetap menjadi moderator seru di antara emak-emak itu! ”Dadi jeng, ngene lho mau ceritane. Bapake arek-arek iku mau ndelok tivi eee lha kok onok…”

Ternyata, meski Petemon Jaya aman, teror belum berakhir. Senin pagi (14/5), Polrestabes Surabaya dibom. Lagi-lagi satu keluarga. Mereka naik dua motor dan meledakkan diri tepat di gerbang pintu masuk markas polisi. Padahal, jarak Polrestabes dan Petemon tidak terlalu jauh.

Bohong kalau bilang suasana Surabaya tidak mencekam. Tapi, sebagai keturunan para pejuang, perang di depan mata ini gak nggarai mundur blas. Wani tok! Masio rodok-rodok ngeri. Hiiii.

Saya juga membayangkan, bagaimana jika saya berhadapan langsung dengan teroris? Apa yang akan saya lakukan?

Kalau teroris itu saya bacok, bomnya tetep akan mbledos. Disogrok bambu runcing, yo tetep mbledos. Telepon polisi, walah malah koyok pilem India. Datengnya baru 10 menit kemudian. Itupun kalau gak macet.

Bagaimana kalau terorisnya ditembak saja? Lha saya cuma punya pistol air crot croottt. Terus yak opo? Mosok tak ajak ngopi? Isok mbledos sak warunge sak bon-bon utangku. Enak sih isok dianggap lunas. Termasuk nyowoku karo nyowo mas-mas barista coffee specialty giras. Lunas pisan.

Terus yak opo?

Mbuh lah, seng penting santapi disik. Gak kakehan cangkem. Gak taek-taekan, cuk! Mbledos urusan mburi!

Bagi saya pribadi, tidak ada sisi positif dari kejadian terorisme ini. Termasuk melihatnya dari sisi konspirasi atau apapun itu. Jika ada yang mencoba membuat logika pembenaran dari tindakan terorisme, coba utarakan hal tersebut kepada seluruh keluargamu. Terus sampekno pisan nang kuabeh keluarga korban.

Tego ta koen arep ngomong ngunu? Nek koen tego, tak santapi