Ada orang yang diberkahi satu kelebihan dan mendalaminya hingga maksimal hingga sukses. Ada juga orang yang punya bakat tapi memilih tidak mengasahnya dan hidup dengan tenang menikmati masa muda. Namun, dari dua golongan tersebut, yang jauh lebih ngenes adalah orang multitalenta.

Hlah, kok isok cuk? Bukane enak bisa segala hal dan nggak terpaku sama satu bidang saja? Emang kalau dipikir jangka pendek onok benere, namun coba kon rasakno, kenapa bangsa kene belum maju seperti negara lain.

Yak, salah satunya karena banyak orang yang bukan bidangnya mengerjakan suatu pekerjaan!

Kuliahe jurusan apa kerjane bidang apa. Saya pun mengalami sendiri ketika kuliah, teman mendapati saya bisa menggambar tokoh manga. Dia pun komentar, “Lho, kok awakmu nggak masuk seni ae?”

Belum lagi ketika di waktu yang lain teman tahu saya bisa Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, dan nulis cerpen.

“Eman sat, lapo nggak melbu jurusan Inggris atawa Jepang atawa Sastra Indonesia?”  jawabnya dengan sok tahu.

Saya berdalih bahwa hanya sekedar bisa nggak mahir-mahir amat. Nanggung lah cuk, nggak mendalam koyok sing emang belajar dalam fakultasnya.

Oke, tulisan ini bakal mengupas lebih jauh apa sing dirasakno orang multitalenta yang ambisus di luar sana. Atau sebenarnya bukan multitalenta, cuman banyak pengen aja tapi nggak maksimal.

Lebih Gampang Capek

Karena serba bisa, orang-orang dengan banyak keahlian kadang dimanfaatkan orang sekitarnya. Karena kebetulan dan adanya kesempatan, nggak disia-siakan dong. Doi pun menerima pekerjaan tambahan.

Alhasil pekerjaan yang haruse cuma dikit, jadi tambah akeh. Hmm. Tubuh pun nggak onok istirahate demi menampung rezeki yang berlimpah. Awak pun dadi legreks!

Mudah Beradaptasi

Kalau diibaratkan, orang multitalenta adalah raja terakhir yang susah dikalahkan. Wis dihantam oleh berbagai kerasnya cobaan kehidupan dan segala macam hal nggak ngenakno, doski tetap bertahan. Bukan hanya bertahan, tapi beradaptasi dengan keadaan yang nggateli.

Misale lowongan pekerjaan untuk jurusan dia udah nggak ada lagi karena faktor umur, doi nggak bakal nyerah atau bilang ini semua salah pemerintah. Namun, malah membuka kesempatan baru untuk jadi orang yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang kurang beruntung seperti dirinya. Hihihi..

Banyak Maunya

Saking bisanya kamu ngerjain banyak hal, semakin membuatmu penasaran untuk lebih banyak menggali hal baru yang belum pernah dilakuin. Mumpung sik enom, kamu jadi nggak bisa fokus sama satu bidang yang sama karena di pikiranmu, ada hal lain yang pengen mbok kerjain di waktu bersamaaan. Lagu OST. Doraemon tampaknya bisa menggambarkan sifat itu.

Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu banyak sekali!

Sampe kamu lelah sendiri nggak tahu yang bener-bener works dan bisa mbuk garap. Mustahil manusia bisa membagi fokusnya pada banyak hal kecuali kalau kamu Naruto yang bisa membelah diri. Heuehueheue..

Nggak Paham Sama Impian

Terakhir, semuanya berujung pada satu hal yang bakal kayak tragedi. Karena selalu tergoda pada banyak hal baru tanpa tekun melakukannya sampai benar sukses, kamu jadi ragu sama kemampuan sendiri. “Sebenere bakatku opo sih?!” batinmu.

Apalagi antum belum merasa berhasil sampai pada tahap puncak dari bidang yang mbuk geluti. Tujuanmu samar-samar akibat dari ambisi tak terkira, ingin melakukan banyak hal atau alasan pencarian jati diri. Waktu tak bisa diulang yang ada hanya sesal. Huhuhu..

Kesimpulannya, pengen banyak hal emang ada bagusnya karena kadang peranmu dibutuhkan selama ada kekosongan di sana. Tapi, yo ngunu iku, aku masih meyakini pepatah dari Bruce Lee.

“Saya lebih takut kepada orang yang melatih satu jurus tendangan seribu kali, daripada orang yang berlatih jurus tendangan satu kali.”